Sebuah Cerita Tentang Mobil

Salah satu adegan paling keren dalam sebuah acara televisi, buat saya adalah saat presenter Top Gear Jeremy Clarkson bercerita tentang kisahnya bersama sebuah Porsche 928. Adegan ini muncul di episode spesial Patagonia yang disiarkan pada Natal 2014 silam (baca dari kiri ke kanan):

Diskenariokan atau tidak, tapi adegan itu begitu menyentuh dan menggugah. Meski Clarkson berbicara soal kisah pribadinya, namun dia seperti mengajak penonton untuk sedikit mengapresiasi keberadaan sebuah benda yang bernama mobil. Karena, walaupun cuma benda mati, mobil bisa seperti hewan peliharaan. Dia bisa menjadi teman yang paling setia.

Buat sebagian orang, mobil adalah tempat di mana pengalaman paling berkesan dalam hidupnya terjadi: perpisahan, patah hati, melamar kekasih, atau apapun. Perjalanan dengan sebuah mobil, walaupun sederhana, bisa menimbulkan sensasi dan pengalaman hebat. Mungkin itu kenapa acara seperti Top Gear sangat disukai. Lalu ada genre film road movie, bahkan berkelana memakai mobil (road trip) jadi salah satu bentuk traveling yang populer.

Saya jadi ingat beberapa momen penting dalam hidup saya, yang berkaitan dengan mobil. Ini membuat saya jadi lebih mengapresiasi benda ciptaan Henry Ford itu.


Sewaktu SMP, sekitar tahun 1999, saya pernah kesal kepada ibu saya. Waktu itu, beberapa anak laki-laki di sekolah ada yang sudah bisa menyetir. Kakak saya bahkan sudah bisa mengemudi sejak dia sekolah dasar. Saat itu, jangankan diizinkan belajar nyetir, mencoba sepeda motor saja tak boleh.

“Tunggu cukup umur untuk bikin SIM,” kata ibu waktu itu.

Tentu saya minder. Ketika teman-teman sudah bisa jalan-jalan sendiri pakai motor bahkan mobil, saya cuma bisa menonton dengan iri.

Tahun 2001, saya masuk SMA. Ibu membeli sebuah mobil bekas. Toyota Corona Ex-Saloon. Walau usianya tua, tapi mobil ini masih tampak berkelas. Dengan mobil ini, ibu mengantarkan saya pada hari pertama berseragam putih-abu.

Dia masih belum membolehkan saya duduk di belakang kemudi. Usia saya masih terlalu muda. Tapi ibu sering menjemput saya di sekolah setiap Sabtu. Setelah itu, kami makan di restoran enak, mencoba tiramisu dan es krim terenak di Bandung, makan di kafe tua yang terkenal sejak zaman Belanda, belanja buku di Gramedia, beli kaset di Aquarius — yang langsung saya putar di radio-tape Corona hitam itu.

Ini salah satu kenangan membahagiakan saya di awal masa remaja. Saya tak malu dijemput ibu di sekolah. Malah hari Sabtu, jalan-jalan berdua dengan dia adalah waktu yang paling ditunggu. Waktu itu Bandung belum semacet sekarang kalau akhir pekan. Bahkan setiap pagi, kabut tipis masih terlihat di Dago.

Setahun kemudian, saya duduk di kelas 2. Kebiasaan jalan-jalan akhir pekan sudah berkurang. Tapi saya punya kesenangan baru. Jalan-jalan dengan dua sahabat sejak kelas 1 SMA. Mereka berdua sudah diperbolehkan membawa mobil sendiri oleh orang tuanya. Mungkin waktu bikin SIM mereka nembak, karena belum cukup umur.

Dengan kedua sahabat ini, kami sering berputar-putar Bandung sepulang sekolah. Tujuannya kalau tidak rumah teman yang lain, lapangan futsal di Alun-alun, atau toko CD bajakan di Pasar Kota Kembang. Beberapa kali, kami janjian untuk jalan-jalan malam, menyusuri kawasan lampu merah kota Bandung hanya sekadar melihat-lihat.

Kami yang masih culun belum punya keberanian untuk berhenti dan turun di daerah seperti itu. Bahkan kalau sedang jalan-jalan naik mobil, ada pengamen bencong yang mengetuk kaca di stopan saja rasanya sudah sangat mencekam.

Kebiasaan kami bertiga sempat terhenti ketika dua sahabat saya punya pacar. Mereka asik sendiri. Sedangkan saya, ngobrol sama cewek saja masih deg-degan. Kalau pakai standar remaja di masa itu, bisa dibilang saya cupu. Tidak bawa kendaraan ke sekolah, belum bisa menyetir, tak punya pacar.

Suatu ketika, ibu terpaksa menjual Corona Ex-Saloon miliknya, dan tak membeli mobil pengganti. Saya kecewa, karena belum sempat belajar mengemudi memakai mobil itu. Giliran sudah cukup umur untuk bikin SIM, malah tak ada mobil.

Saya sempat meminta ibu mendaftarkan saya ke tempat kursus mengemudi. “Buat apa? Mobilnya juga enggak ada, enggak terpakai, mendingan les bahasa Inggris,” katanya. Saya kecewa.

Tahun 2003, film 2 Fast 2 Furious keluar. Film ini menggantikan wabah Ada Apa dengan Cinta di kalangan anak SMA yang terjadi setahun sebelumnya. Anak-anak tajir di sekolah mendandani mobilnya dengan cutting sticker bermotif tribal, memasang spoiler, pakai pelek besar. Trend yang konyol. Untungnya dua sahabat saya yang sudah diberi mobil oleh orang tua mereka tak ikut-ikutan norak begitu.

Tahun 2004 saya lulus SMA dan mulai berkuliah. Persahabatan dengan dua kawan SMA tetap berlanjut. Mereka masih setia dengan pacar masing-masing. Saya? Akhirnya ada kemajuan: punya SIM C, dan sudah boleh bawa motor ke kampus.

Hingga tahun ketiga kuliah, Ibu tak membeli mobil. Baru sekitar tahun 2006, nenek membeli mobil dari seorang kerabat. Sebuah Toyota Starlet berwarna hitam pupus yang masih lumayan trendi di masa itu. Dia membeli mobil ini agar gampang ke mana-mana. Karena kami tinggal bersama nenek, maka yang sering memakai mobil ini adalah ibuku.

Untuk pertama kalinya, ibu membolehkan saya belajar mobil. Momen penting ini terjadi pada suatu Sabtu siang. Memang, dengan adanya mobil ini, kebiasaan kami berjalan-jalan di akhir pekan seakan terulang. Saya ingat sekali, pertama kali diperbolehkan mengemudikan mobil ini di Jalan Gardu Jati yang cukup macet.

Di lampu merah, saya salah memasukkan perseneling, yang seharusnya gigi 1 malah gigi 3. Saat lampu hijau menyala, mesin mobil mati karena tak kuat berakselerasi. Antrean kendaraan di belakang mengular. Suara klakson bersahutan. Berkali-kali mesin dinyalakan tapi mati kembali, sampai akhirnya saya sadar salah perseneling.

Dengan keringat bercucuran — padahal waktu itu AC mobil dinyalakan, saya merasakan kegembiraan luar biasa. Akhirnya saya bisa mengemudikan mobil! Lama-lama saya mulai lancar nyetir. Ibu lalu mengizinkan saya membuat SIM A, pun akhirnya saya diperbolehkan membawa mobil itu sendirian.

Setelah bisa nyetir, kehidupan terasa begitu menyenangkan. Apalagi saya sudah punya pacar, teman sekampus. Malam Mingguan, mengantar pacar seusai kuliah, sampai make out untuk pertama kalinya dilakukan bersama Starlet ini.

Tak ingat persis kapan waktunya. Tapi pada suatu Sabtu malam, saya dan pacar baru pulang dari bioskop. Saat akan mengantarkan dia pulang, tiba-tiba dia meminta saya membelokkan mobil ke sebuah kompleks perumahan yang tengah dibangun di dekat rumahnya.

Rupanya kompleks perumahan ini sudah biasa dijadikan tempat mojok oleh pasangan-pasangan bermobil. Penjagaan juga agak lengang. Di sebuah jalan buntu yang dikelilingi lapangan kosong, saya memarkirkan mobil. Pacar saya berpindah ke jok belakang sambil menarik tangan saya. Lalu… Yahh mirip-mirip adegan Jack dan Rose menyelinap ke sebuah mobil di film Titanic lah!

Saya putus dengan dia sekitar tahun 2009. Tak lama Starlet itu dijual.

Berbulan-bulan galau, akhirnya saya dekat dengan adik kelas di kampus. Sebuah momen penting lain yang juga melibatkan mobil terjadi. Saya memberikan ciuman pertama untuk perempuan yang kemudian saya pacari, di dalam mobil milik seorang teman. Sampai sekarang si pemilik mobil mungkin tidak tahu kejadian ini.

Masih di masa-masa kuliah, persahabatan dengan dua teman sejak SMA menjadi lebih erat walau kampus kami berbeda. Sebulan sekali, kami menjadwalkan bertemu untuk sekedar nongkrong, main kartu, atau makan enak. Salah satu tujuan lain yang sering kami datangi adalah pemandian air panas di Ciater.

Setiap kali akan ke Ciater, kami pergi sejak sore. Berendam sampai puas, dan kembali pulang saat tengah malam. Itupun tidak langsung ke rumah. Seringnya, kami berjalan-jalan keliling kota yang sudah terlelap. Sepanjang perjalanan kami membicarakan apa saja, soal cita-cita, kegalauan kuliah, masalah dengan pasangan, apa saja.

Mengendarai mobil tanpa arah, menyusuri jalan sepi, melewati tempat-tempat yang jika siang sangat ramai tapi ketika malam menjadi terkesan mati, singgah di warung indomie yang buka hingga subuh, menyaksikan para pelacur menunggu pelanggan di sekitaran Stasiun Bandung, mengamati lampu-lampu temaram; Itu semua jadi kenangan yang paling menyenangkan untuk diingat.

Semua kebiasaan itu kami lakukan menggunakan sebuah Toyota Vios punya salah satu temanku, atau Suzuki Katana milik temanku yang lain.

Lima belas tahun berlalu sejak pertama kali saya dan dua sahabat SMA bertemu. Sabtu, 9 April lalu, kami kembali berkumpul di Bandung. Ini pertemuan pertama kami bertiga setelah dijeda oleh tahun-tahun yang diisi oleh skripsi-lulus kuliah-pindah ke Jakarta-bekerja.

Sekarang, kami semua sudah menikah. Salah satu dari kami malah sudah punya anak. Malam Minggu kemarin, akhirnya kami melakoni lagi kebiasaan lama itu..mengendarai mobil berkeliling kota tanpa tujuan pada malam yang sudah larut.

Kota Bandung dan jalanannya sudah banyak berubah. Penjual indomie yang sering kami singgahi sudah tak berjualan. Jalanan yang dulu gelap dan sepi, sekarang diramaikan dengan kehadiran bar dan kafe yang buka sampai hampir subuh. Jalanan menuju Ciater yang biasanya lengang pun macet parah.

Meski banyak yang sudah berubah, topik obrolan kami kemarin masih sama seperti dulu, tak jauh dari persoalan sehari-hari. Namun kata-kata seperti “pacar,” “kuliah,” atau “cita-cita” yang biasa dibicarakan, kini berganti menjadi “istri,” “pekerjaan,” dan “tagihan bulanan.”

Sensasi dan suasana pada malam Minggu kemarin pun terasa sama persis dengan malam-malam Minggu lain bersama mereka, di tahun-tahun yang sudah lewat. Begitu juga dengan tempat kami melakukan semua itu.. Ya, di dalam sebuah mobil yang dikemudikan tanpa tujuan.

Condet, 14 April 2016.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Praga Utama’s story.