Kopi Panas #2

Kopi panas yang kuminum ini tidak sepanas yang lalu.


Beberapa bulan yang lalu, aku telah menonton anime yang menurutku sangat bagus. Judulnya ialah Shigatsu Wa Kimi no Uso atau dalam bahasa inggris, Your Lie in April. Menceritakan seorang pianis yang kehilangan dunianya, namun tiba-tiba dia bertemu seorang malaikat yang merubah dirinya. Ceritanya bitter-sweet, itu sebabnya aku suka (silakan nilai saya sesuka anda).

Setelah aku melihat-melihat forum diskusi. Banyak penonton yang suka dengan anime ini, namun mereka tidak suka dengan akhirnya atau mereka ingin anime ini tidak berakhir seperti itu. Padahal, jika anime ini tidak berkahir seperti itu, penonton tidak akan suka dengan anime ini. Justru karena kesedihan itulah yang membuat anime ini bagus. Suatu film atau video yang berakhir sedih lebih membekas ke penonton daripada film yang berakhir bahagia. Penonton merasa sedih karena mereka tidak melihat hal yang dinginkannya, mereka malah melihat hal yang berlawanan dari hal yang diinginkannya, seperti dunia nyata. Tapi hal itulah yang membuat film sedih cenderung lebih disukai penonton.

Lucu juga memikirkan bahwa penonton merasa ‘senang’ setelah melihat film sedih. Tapi mengapa jika kejadian dalam film itu terjadi di dunia nyata, efeknya tidak melebihi atau bahkan sama hebatnya jika kejadian itu terjadi dalam film? Itu sebabnya dunia film atau karangan disebut sebagai dunia utopia, tempat segala keinginan dapat terjadi dengan mudah. Penonton sadar bahwa mereka hidup di dunia nyata yang kejam, jadi sudah sepantasnya hal sedih terjadi. Jadilah dunia ini seperti jam dinding, yang akan terus bergerak secara kaku. Melupakan bahwa sebenarnya, manusia menginginkan dunia utopia yang seperti dalam cerita-cerita buatan manusia-manusia pemimpi dunia utopia.

Bisakah tercipta duniia seperrti itu?

Entahlah