Takut dan Sedih

Nur Ihsan Jundullah.

Kemarin, nama itu terpampang di layar TV pada saat saya menunaikan sholat jumat kemarin. Itu menandakan Nur Ihsan sebagai Khotib jumat kali itu.

Seperti biasa, saya memperlakukan khotbah di sholat jumat agak berbeda dari sebagian orang. Saya memperlakukannya sebagai Thesis, kemudian saya mencoba mencari Antithesisnya di pikiran saya. Mungkin terkesan kurang ajar atau 'kafir' jika orang-orang bilang. Namun dasar sebuah kepercayaan adalah sebuah keragu-raguan. Kau tidak bisa percaya tanpa terlebih dahulu merasa ragu-ragu.

Iman saya tidak buta.

Dan kupikir, khotbah jumat itu akan sama dengan khotbah jumat-jumat yang lain, yaitu menyertakan argument yang tidak valid. Yaaa… namanya juga dugaan, bisa salah ataupun benar.

Khotbah kali itu membahas masalah yang condong pada filosofi dan psychology. Isi simpulannya kurang lebih

Takut adalah hal yang sama dengan sedih. Bedanya, takut itu terlalu memikirkan masa depan dan sedih itu terlalu memikirkan masa lalu. Bahagialah karena takut dan sedih itu berbahaya.

Saya kurang puas karena dia hanya menyebut untuk bahagia tanpa ada caranya. Tapi saya setuju pada kalimat darimana asalnya dan kata 'berbahaya’ dengan ditambah sedikit kata-kata.

Maksudku. Kenapa kita dapat merasa kecewa atau bahagia? Karena ada keinginan, nafsu, harapan. Kita berharap untuk kaya tapi kita tidak bisa dan itu membuat kita kecewa. Kita berharap untuk lulus tes tertentu tapi kenyataanya kita tidak bisa dan itu membuat kita sedih.

Keinginan membawa kesedihan.