DI ANTARA DUA WAKTU

Tulisan ini terpikirkan saat saya hampir menuntaskan 3 km lari pagi ini. Alun-alun tempat saya melakukan kardio terbilang tak banyak orang, hanya beberapa lansia berjalan kaki. Wajar, karena ini hari Kamis. Sambil mengatur nafas, saya menanyakan pada diri saya sendiri, mana yang lebih disukai; larut malam atau pagi buta. Lalu pikiran saya terbuai laksana tentakel gurita yang melambai-lambai mencari obyek. Saya menyukai larut malam, saat di mana langit pekat dan riuh di kepala merengek minta ditenangkan. Saya menyukai ide-ide yang keluar saat tengah malam, walaupun — yah — saya kurang menyukai sifat pemalas yang datang saat bersamaan. Pagi hari, saya pun menikmatinya. Saat langit masih tersaput gelap dan perlahan Tuan Surya menyeruak merobek gelap menjadi semburat kuning. Saat di mana pikiran kembali ‘jernih’ untuk kemudian diisi dengan penat dari rutinitas atau drama dari sekitar. Saya menyukai keduanya. Saya menikmati kedua waktu yang berseberangan itu.

Kalau bisa menggunakan secara efektif dan produktif di kedua waktu tersebut, saya rasa tak perlu memilih salah satu.

Yang perlu adalah bagaimana membuat satu waktu yang sedang dilalui menjadi berguna. Tidak sia-sia. Pernyataan ini tentu tak semudah mengganti avatar media sosial dengan foto terbaru. Tapi saya yakin, ini juga tak sesulit membuat 1000 candi dalam semalam. Dan, tentu saja, asal dua waktu tersebut tidak dilakukan dalam 24 jam.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.