Sejenak Nostalgia, Perjuangan Sarat akan Suka dan Duka

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Berbicara soal pendidikan tidak lepas dari tujuan berdirinya sebuah negara, tidak lepas dari bagaimana sebuah negara bisa menyejahterakan rakyat-rakyat yang menjadi cakupannya. Berbicara soal Indonesia, segala hal dapat dipikirkan di negara tercinta kita ini. Mulai dari hal-hal yang paling sederhana sampai hal-hal yang tidak bisa dipecahkan sama sekali permasalahannya. Berbicara kembali soal falsafah negara yang dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya,

1. Sejatinya falsafah bangsa ini dapat dilihat bagaimana setiap kemajemukan di dalamnya berjalan dengan damai dan aman sentosa. Bagaimana kita diajarkan sejak sekolah dasar bahkan disuruh untuk menghafal saat upacara bendera Senin pagi dilangsungkan. Ya, Pancasila. Pancasila merupakan bukti sejarah dan bukti bagaimana bangsa Indonesia benar-benar memiliki negara Indonesia dan menjadi kebanggaannya. Bila kita melihat setiap potensi dan permasalahan yang ada di Indonesia tidak bisa kita lepaskan dari cakupan ideologi bangsa yaitu cakupan ideologi Pancasila.

2. Nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila merupakan nilai-nilai luhur dan begitu mulia yang menjadi panutan dan pedoman bagi masyarakat di dalamnya. Nilai tersebut tidak hanya tinggal nilai, tapi harus berpikir bagaimana bisa mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat dan berbangsa. Aktualisasi ini begitu banyak metodenya tetapi yang paling utama disini adalah bagaimana nilai-nilai ini bisa diwujudkan oleh rakyat-rakyat Indonesia secara menyeluruh dan penuh makna.

Pancasila telah mengajarkan banyak hal kepada kita dan tentunya telah melekat secara utuh di dalam tubuh dan jiwa kita sebagai rakyat Indonesia. Berbicara soal Indonesia kembali, tentu negara kepulauan ini memiliki tujuan mulia di dalamnya. Terkait tujuan, semua tercantum secara jelas dan nyata yaitu berada di dalam Pembukaan UUD RI 1945. Menurut Pembukaan UUD RI 1945 alinea ke-4 yang menyebutkan bahwa, “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan Mewujudkan Suatu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa,

Terdapat salah satu tujuan mulia dari berdirinya sebuah bangsa ini yaitu bagaimana negara dapat mencerdaskan kehidupan setiap insan didalamnya. Tidak bisa dipungkiri, perguruan tinggi memegang fungsi penuh dalam hal mencerdaskan setiap insan yang ada di Indonesia ini.

Berbicara kembali terkait bagaimana suatu negara berusaha untuk mencapai tahap cerdas dari setiap insan di dalamnya perlu suatu metode pencapaian yang sesuai. Disini lahir sebuah metodenya yaitu yang tidak asing lagi kita dengar yaitu pendidikan. Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Selain itu, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Definisi pendidikan ini terdapat pada UU RI №20 Tahun 2003 Pasal 1. Dapat dikatakan juga tujuan dari pendidikan ini adalah kesempurnaan hidup manusia sehingga memenuhi segala keperluan lahir dan batin yang kita peroleh dari kodrat alam. Banyak orang juga berkata, bagaimana bisa melihat majunya suatu negara bisa dilihat dari majunya pendidikan nasional. Pada pasal 3 UU RI №20 Tahun 2003 dijelaskan pula fungsi dari pendidikan nasional yaitu, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Sudah cukup jelas bahwa dengan lahirnya dan dengan eksistensi dari perguruan tinggi terutama ITB yang merupakan salah satu institusi pendidikan di Indonesia memiliki kewajiban untuk memenuhi tujuan pendidikan baik ideal dan formal tersebut. Berbicara kembali terkait perguruan tinggi, menurut UU RI №20 Tahun 2003 dan UU №60 Tahun 1999 yang menyebutkan bahwa salah satunya,

1. Menurut UU №20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 20 ayat 2 yang menyatakan bahwa, “Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.”

2. Menurut UU №60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi, salah satunya menyatakan bahwa, menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian.

Dapat disimpulkan bahwa perguruan tinggi memiliki tujuan yang sudah tertera dengan jelas di Tri Dharma Perguruan Tinggi : pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Pendidikan tinggi merupakan kegiatan dalam upaya untuk menghasilkan manusia terdidik. Penelitian merupakan kegiatan telaah taat kaidah dalam upaya untuk menemukan kebenaran dan/atau menyelesaikan masalah dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian. Dan pengabdian kepada masyarakat disini merupakan kegiatan yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam upaya memberikan sumbangan demi kemajuan masyarakat. Tiga unsur itu saling berhubung satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan serta memiliki porsi masing-masing tentunya.

Institut Teknologi Bandung lahir dan berdiri tidak lepas dari tujuan mulia bangsa Indonesia, tujuan mulia pendidikan, dan tujuan mulia dari perguruan tinggi itu sendiri. Berbicara kembali terkait ITB, komponen penyusun ITB terdiri dari berbagai macam aspek dan golongan, sangat heterogen dan beragam. Mungkin saat ini kita merasakan status yang sama yaitu sebagai mahasiswa. Dimana ITB mempunyai fungsi sebagai sumber dan penyebar luas ilmu pengetahuan yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia merdeka guna menciptakan kehidupan dan masyarakat yang berbudaya. Mahasiswa ITB merupakan sebagian kecil dari rakyat Indonesia secara total yang secara jujur saya nyatakan berkesempatan untuk menikmati pendidikan yang ada di kampus ini. Oleh karena mahasiswa ITB terdiri dari berbagai jurusan keprofesian maka perlu dibentuklah suatu himpunan yang mewadahi mahasiswa pada jurusan tersebut. HMTM “PATRA” ITB yang disebutkan dalam AD-ART yaitu merupakan salah satu wahana dan sarana pendidikan di ITB bagi pembinaan dan pengembangan kemampuan mahasiswa untuk membentuk manusia yang menjadi unsur penggerak kemajuan dalam berbagai proses perubahan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, dan seni. Koridor dari HMTM “PATRA” ITB sebagai sebuah himpunan adalah kegiatan yang bersifat penalaran, keilmuan keprofesian, dan pengabdian masyarakat. Dari pernyataan yang berkaitan dengan tujuan-tujuan mulia diatas, tidak lepas dan tidak jauh-jauh dari hal tersebut, HMTM “PATRA” ITB juga memiliki tujuan yang koridornya masih sesuai alur untuk mencerdaskan kehidupan bangsa pada akhirnya. HMTM “PATRA” ITB bertujuan mendukung pencapaian tujuan pendidikan di ITB dengan cara:

1. Mengusahakn terciptanya suasana kondusif antar anggota HMTM “PATRA” ITB untuk berlatih menjadi pemimpin, penggerak, dan pengabdi di segala bidang kehidupan bangsa.

2. Memperjuangkan aspirasi anggota HMTM “PATRA” ITB serta memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan antar anggota HMTM “PATRA” ITB.

3. Menumbuhkembangkan kesadaran anggota HMTM “PATRA” ITB menjadi manusia susila yang jujur, bertanggung jawab, dan bangga terhadap almamaternya.

4. Menumbuhkembangkan kemantapan penghayatan anggota HMTM “PATRA” ITB terhadap profesi di bidang teknik perminyakan.

Secara jelas dinyatakan dalam tujuan tersebut bagaimana himpunan bisa menjadi tempat untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang berkompeten dan bermoral baik. Bagaiman himpunan ini juga bisa menjadikan manusia-manusia di dalamnya memiliki nilai-nilai yang arif didalam setiap insannya seperti jujur, bertanggung jawab, dan tentunya bangga akan almamater. Selain itu, sesuai koridor yang telah disebutkan bahwa bagaimana setiap anggota dapat menghayati secara penuh dan jelas keprofesian teknik perminyakan baik untuk mempersiapkan pada masa kerja ataupun saat masih berkuliah. Sudah jelas hal apa yang membedakan himpunan dengan yang lainnya termasuk dengan himpunan lainnya, yaitu keilmuan keprofesian. Bagaimana himpunan ini bisa melahirkan insinyur-insinyur muda yang dapat menjadi penggerak solusi bagi setiap permasalahan yang ada di masyarakat. Himpunan kerap dianggap sebagai tempat untuk bertranksasional, bagaimana seseorang bisa mendapatkan apa saja dari himpunan. Dari sudut pandang lain yang saya yakini benar yaitu bagaimana himpunan tidak memberikan apa-apa, tetapi orang tersebut dengan dedikasi tinggi sehingga ia mendapatkan hasil yang ia usahakan sendiri. Himpunan disini hanya sebagai wadah dan tempat ia untuk menggantungkan dan mencapai cita-citanya. Banyak yang berkata bagaimana himpunan bisa memuaskan apa yang diinginkan oleh anggotanya, sebenarnya siapa sih yang bisa berharap dengan himpunan? Apa yang bisa diberikan oleh himpunan? Tidak ada apa-apa kecuali kita yang mengusahakannya. Estafet kepemimpinan dari awal terbentuk himpunan ini terus berlanjut hingga sekarang. Bagaimana himpunan ini bisa melihat calon-calon pemimpin yang dapat meneruskan niat baik dan tujuan mulia dari himpunan ini yang secara tidak langsung juga menjawab tujuan ITB, tujuan pendidikan secara umum, dan tentunya tujuan Indonesia. Masih banyak potensi yang harus dikembangkan dalam himpunan ini. Tentunya tidak terlepas juga dari keburukan-keburukan yang dialami selama himpunan ini ada. Bagaimana anggota melihat acara dari himpunan yang kurang menarik baginya, atau bagaimana badan pengurus begitu kesusahan untuk mengajak dan meningkatkan partisipasi anggotanya, dan bagaimana penghayatan keprofesian kini tidak menjadi fokus utama lagi karena himpunan terlalu sibuk untuk mengurusi orang-orang yang harus datang suatu forum, jikalau tidak maka forum akan bubar.

Semakin kesini, zaman terus berubah, entah menuju kebaikan atau malah sebaliknya, hanya Allah SWT yang tau. Tetapi tidak bisa dipungkir, akan muncul pertanyaan apakah himpunan akan menyesuaikan dengan perkembangan dari anggota-anggotanya atau malah sebaliknya? Itu erat kaitannya dengan bagaimana estafet kepemimpinan sebuah himpunan ini dilanjutkan. Terlepas dari potensi dan kelemahan yang dilihat dari permasalahan dan peluang yang ada, ternyata ada sebuah rasa yang bisa timbul dikarenakan tulus padanya. Bagaimana Anda dapat mencintai seseorang bukan karena Anda ingin memilikinya tetapi Anda yakin, jika Anda mencitainya maka ia harus bahagia. Maka itu yang saya rasakan saat ini. Bagaimana rasa cinta ini melingkupi segala hal yang saya lakukan, entah cinta ini hanya semu atau malah sudah bukan semu lagi, tapi telah menjadi nyata dengan sikap yang saya keluarkan ini. Bagaimana rasa cinta ini bisa menjadi perasaan awal yang bisa berujung ke akhlak mulia dari seorang pemimpin. Dengan terpaparkannya secara jelas bagaimana kehidupan berhimpun di HMTM “PATRA” ITB dan perasaan cinta yang melandasi setiap perilaku dan kegiatan yang saya lakukan, akhirnya saya memutuskan untuk dapat melanjutkan estafet kepemimpinan sebagai calon Ketua Badan Pengurus HMTM “PATRA” ITB periode 2017/2018.

Dengan melihat nilai-nilai yang saya anut dan diajarkan kepada saya sejak kecil bagaimana bisa dekat dengan masyarakat, menghormati dan menghargai orang lain, memegang teguh keimanan, dan menghayati setiap proses pembelajaran dan kehidupan akhirnya saya memiliki gambaran bagaimana himpunan nanti ke depannya. Saya melihat banyak potensi yang bisa dikembangkan tetapi tidak mungkin dapat dilihat keberhasilannya dalam satu periode kepengurusan. Disini, saya akan membawakan himpunan untuk bergerakan ke arah sosial kemasyarakatan, sosial politik, dan kekaryaan. Gambaran bagaimana himpunan bisa mendidik anggotanya bukan hanya memanfaatkan keilmuan keprofesian yang ia punya untuk diberikan ke orang banyak, tetapi nilai-nilai yang sudah tertanam di dalam jiwanya juga dapat diberikan. Selain itu, koridor keilmuan dan keprofesian akan saya berikan bentukan baru bagaimana nanti kajian ini bisa diekskalasi menjadi sebuah isu yang bisa dijadikan pergerakan. Pergerakan tak hanya terkukung dalam hal sosial politik ataupun sosial kemasyarakaran, tetapi juga bisa dalam aspek pergerakan kekaryaan dengan basil ilmu pengetahuan yang kita anut. Dan juga, hasil-hasil kajian yang selama ini dilakukan oleh anggota HMTM “PATRA” ITB akan coba disalurkan dan distribusikan untuk menjadi pertimbangan bagi elemen kampus serta diusahakan bagi unit-unit pemerintahan baik DPR, menteri, dan sebagainya. Tidak bisa dipungkiri, orang-orang yang sekarang duduk di bangku hangat DPR, menteri, dsb dulunya adalah mahasiswa dan beberapa ada yang merupakan lulus ITB dan tentunya ada yang dulunya merupakan mahasiswa Teknik Perminyakan. Tidak ada salahnya bagaimana hasil pemikiran kita juga bisa dikolaborasikan dengan tuan-tuan pemegang kebijakan. Gambaran selanjutnya, terkait karya nyata. Di zaman sekarang seperti ini, tidak bisa dipungkiri, berpikir saja tidak cukup, butuh tindakan nyata yang mampu mengubah sesuatu baik skala kecil maupun besar. Misal bagaimana mahasiswa perminyakan mampu mengembangkan teknologi untuk membuat himpunan dan arsip-arsip himpunan menjadi lebih teratur dan sistematis. Disini saya kategorikan sebagai pergerakan dalam aspek ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Itu hanya sebagai contoh. Tidak bisa dipungkiri, memang status sebagai mahasiswa teknik perminyakan, tetapi kemampuan dalam bidang lain apapun itu, mahasiswa teknik perminyakan pun mampu melakukannya. Kenapa tidak diberi wadah dan ditubumbuhkembangkan pula?

Gambaran selanjutnya, sering kita lihat dihimpunan apabila orang yang menjadi ketua dalam suatu kepanitiaan hanya dipandang sebagai orang untuk pemenuh suatu posisi yang hanya berorientasi pada diri pribadi, disini saya lihat sebagai peluang untuk menumbuhkan dan meningkatkan karakter pemaknaan akan sebuah tanggung jawab. Bagaimana seorang pemimpin juga harus bisa dipimpin. Bagaimana seorang kadiv yang kerjanya sangat bagus dan ulet juga harus bisa menjadi anggota divisi dan bahkan kerjanya harus sama bagus pula ketika ia menjadi kadiv. Dengan gambaran tersebut, saya ingin menumbuhkan kembali semangat kepeloporan para pemuda. Dengan kepeloporan yang dimiliki, tentu karakter sebagai calon pemimpin masa depan bangsa akan bisa terwujud. Bagaimana diri setiap insan dapat menjelajahi wadah di himpunan lalu menemukan sejatinya karakter dan perilaku baik selama mereka berinteraksi sehari-hari. Memiliki inisiatif tinggi, kreatifitas tanpa batas, dan inovasi melebihi lingkungan serta menjadi perintis dan mau bergerak jika melihat suatu ketidakbenaran. Selanjutnya, saya yakin hubungan mahasiswa dengan dosen apabila baik, maka himpunan akan sangat sinergis tidak hanya dosen tapi untuk seluruh civitas akademika yang ada. Nilai sinergis dan kolaborasi juga akan diwujudkan dengan elemen yang ada di Himpunan seperti SPE, IATMI, Al-Bitruulu, dan Dadu Kristal tentunya dalam skala kecil maupun skala besar. Berbicara soal sinergis dan kolaborasi, tentunya disini HMTM “PATRA” ITB akan menjadi pelopor pergerakan berbasis kelimuan dan ilmu sosial di lingkungan KM-ITB yang akan memerlukan lembaga ataupun unit lain demi terwujudnya pembangunan bangsa khususnya dalam bidang energi. Bagaimana himpunan ini bisa menjadi contoh dan himpunan ini bisa jadi teladan yang baik apabila yang terpikirkan itu mulia dan dapat bermanfaat, maka segera lakukan. Bagaimana saya bisa menyebarkan rasa cinta yang begitu besar ke setiap insan yang ada di HMTM “PATRA” ITB tanpa terkecuali.

Lalu saya berpikir kembali, ini lagi-lagi hanya gambaran, perlu perumusan lebih mendalam dan cakupannya harus menyeluruh. Tetapi tidak apa-apa, mimpi dan impian seseorang tetap bisa menjadi batas terakhir dalam ia melakukan sesuatu secara baik. Biarlah Tuhan Yang Maha Esa yang akan menjawab segala proses yang terjadi di alam ini, kita hanya bisa berdoa untuk terus senantiasa HMTM “PATRA” ITB bisa menjadi wadah kita untuk sukses di dunia dan bisa mendapatkan surganya Tuhan Yang Maha Esa diakhirat kelak.

Lagi-lagi saya berpikir, jangan pernah berkata saya atau Anda akan membangun PATRA lebih baik lagi, jangan pernah berpikir saya atau Anda akan mendirikan PATRA yang lebih besar dan lebih kuat lagi, tetapi mari kita bersama sama merangkai garda kepeloporan untuk bergerak dalam untaian persaudaraan untuk memperbaiki, membangun, dan mewujudkan hal terbaik nan mulia untuk Indonesia melalui HMTM “PATRA” ITB.

Sekian dan terima kasih.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Fadly Erwil Prasetya

12214085

Teknik Perminyakan

Institut Teknologi Bandung

Pelopor Satu Pergerakan
Seven SIsters
BP PELOPOR HMTM “PATRA” ITB 2017/2018
Like what you read? Give Fadly Erwil Prasetya a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.