
Bercerita tentang sakit
“Take care of your body. It’s the only place you have to live.” — Jim Rohn
saya senang tidak baik-baik saja, di kampung kecil bernama pare, kediri jawa timur. ini kali kedua di minggu kedua dan secara rutin setiap minggu mengalami sakit. mengalami flu berat dan demam tinggi, sampai jarak langka hanya mampu ke toilet, kira-kira 11–13 langka kaki. dan setiap flu berat, saya mengalami kesakitan pada salah satu telingan hingga tidak mampu mendengar selama beberapa hari. ini juga berpengaruh pada beberapa tulisan tak terselesaikan dan hanya tersimpan di draf medium.
ketika saya merasa tidak berdaya terhadap flu sialan ini, saya menginggat ibu, semejak memutuskan pergi dari makassar semenjak itu kekhawatira ibu saya jauh lebih meningkat, dia bisa menghubunggi saya melebihi kesanggupan saya teratur meminum obat, lebih sialaan lagi telephone genggam tidak ada sinyal, pada saat itu demam begitu tinggi dan saya berharap dengan tidur, besok akan baik-baik saja. pikirku.
Di saat tertidur, saya bermimpi atau mungkin sedang berhalusinasi melihat tubuh saya berbaring dipangkuan ibu, dikamar saat ini saya berbaring. sambil mengelus rambut, ibu berkata :
Sudahlah nak, lekaslah bangun, bangun nak ini ibu, kau harus bangun.
saya tersentak bangun dari tidur, mendapati diri sendiri dengan kebingungan antara mempercayai mimpi atau kenyataan bahwa ibu saya benar ada dan saya didekapannya. Tapi kenyataan selalu menampar kita berkali-kali untuk tetap bangun menjalani hidup.
Saya harus bangun dan menyelesaikan sakit dengan pergi ke rumah sakit. Jangan perna sakit lagi jika kau tau tidak ada satu orangpun yang akan membantu. Dan jangan sering-sering sendiri, tidak baik.
