JavaScript untuk Pemula (Bagian 1)

Bagi para developer, membuat sebuah aplikasi sama halnya melukis. Bisa menggunakan media apa saja dengan berbagai jenis cat beraneka warna serta disapukan menggunakan beragam jenis kuas dan alat apa pun yang bisa ia gunakan. Bagi orang yang (awalnya) awam sepertiku, kenyataannya mungkin tidak sesederhana itu. Tentu saja aku tahu bahwa cat air tidak mungkin disapukan ke dalam kaus karena pasti akan hilang larut dalam air ketika dicuci. Namun, inti dari proses pengembangan sebuah situs atau aplikasi nyatanya hanya sesederhana menentukan ingin melukis apa; di media apa; menggunakan cat apa; warna apa saja; dengan kuas yang seperti apa; dan bagaimana kita melukisnya. Tulisan ini akan menjadi pembuka seri JavaScript untuk pemula. Tunggu, apa itu JavaScript?
Untuk menciptakan sebuah lukisan yang indah, setiap komponen yang turut menciptakan lukisan tersebut tentu perlu dipikirkan secara matang. Namun, untuk membuat sebuah lukisan yang menarik, tidak ada batasan dan keharusan harus seperti ini harus seperti itu. Tentu saja dalam hal ini, ada beberapa alat yang paling sering digunakan untuk melukis. JavaScript ini selayaknya alat populer seperti kuas dengan fitur seperti bulu-bulu yang halus dan pegangan yang ergonomis *lol idk* sehingga kini paling banyak digunakan.
Tapi apakah JavaScript memiliki hubungan saudara dengan Java? Atau jangan-jangan penciptanya adalah seorang keturunan Jawa? Jawaban singkatnya, tidak untuk keduanya. JavaScript sendiri awalnya dikenal sebagai project mocha yang dikembangkan oleh Netscape bersama Sun. Ya, benar, Sun yang itu kalau kalian tahu. Si pembuat bahasa pemrograman Jawa. Apakah sebuah kebetulan? Iya dan tidak. Jawaban singkatnya, mengapa JavaScript disebut JavaScript, ya agar mudah diterima (yes, marketing!) oleh kalangan pemrogram pada saat itu dalam industri yang lebih dulu mengenal Java secara populer.
Secara de facto JavaScript telah menjadi standar bahasa pemrograman karena sifatnya yang terbuka, high-level language, dan memiliki. JavaScript memiliki sebuah standar yaitu ECMAScript yang akan menjadi bahasan tersendiri.
Kemudian, pertanyaan selanjutnya bagaimana kita “melukis” menggunakan JavaScript? Kita semua tahu, setiap orang/seniman lukis punya gayanya sendiri. Sama halnya dalam membuat program, setiap pemrogram punya cara pandang yang berbeda-beda satu sama lain tergantung bagaimana dia memahami algoritma dan konsep sebuah program ketika dijalankan. Namun, ide saja tentu tidak cukup. Oleh karena itu, kita perlu mengenal apa yang bisa dilakukan oleh alat kita, JavaScript kita. Mulai dari sini dan selanjutnya, kita akan mulai lepas dari analogi lukisan dan fokus ke proses pembuatan program, ya! Please, bear with me!
Untuk mulai memahami apa itu JavaScript (selanjutnya kita sebut JS), bisa kita mulai dengan mengerti tentang variabel. Bayangkan variabel ini sebagai sebuah keranjang yang akan selalu dibawa ke mana saja dalam sebuah program. Ia bisa diambil kapan saja dan (pada prinsipnya) bisa diisi apa saja. Maupun sebaliknya, tidak digunakan sama sekali atau tidak/belum ada isinya. Dalam JS, kita menyatakan variabel dengan cara berikut:

Variabel ini harus kita beri nama agar bisa digunakan. Dalam penamaan variabel, DISARANKAN untuk memulainya dengan huruf, garis bawah ( _ ), atau tanda dolar ( $ ). Setelah itu baru boleh dan silakan menggunakan angka, huruf, garis bawah ( _ ), atau ya tanda dolar ( $ ). Hindari penggunaan kata-kata kunci yang digunakan oleh JS. Daftarnya nanti akan aku lampirkan sebagai referensi.
Sebagai gambaran penggunaan variabel, bisa dilihat gambar di bawah ini:

Sekadar informasi, aku menggunakan VS Code dalam menulis program dan console.log yang kalian lihat pada gambar di atas salah satu fungsinya adalah menampilkan output (lebih lengkapnya akan aku bahas di tulisan lain). Bila kita lihat pada gambar di atas, kita telah menyatakan variabel a sebagai kenangan. Oleh karena itu, saat kita meminta JS menampilkan variabel a menggunakan console.log, maka ia akan menampilkan kenangan. Sebenarnya ada beberapa tipe data yang bisa disimpan dalam variabel, di antaranya:
1. String — String ini merupakan sekumpulan karakter atau kata.
2. Number — Ya, angka. Tapi angka pun umumnya dibagi lagi dalam dua kategori, integer (bilangan bulat); dan float (bilangan riil)
3. Boolean — Pada prinsipnya terdiri dari dua nilai, True or False
4. Null — Tidak memiliki nilai
5. Undefined — Belum memiliki nilai
6. Symbol — Sebuah nilai unik yang tidak akan sama dengan nilai lain
Setelah mengenali beragam jenis data yang dapat disimpan dalam variabel, silakan amati gambar di bawah ini:

Var, let, dan const sama-sama dapat menyimpan nilai. Apakah let dan const juga merupakan variabel? Pada prinsipnya, iya. Tapi, ketiganya memiliki perbedaan.
Var — berlaku global, artinya dia bisa digunakan di mana saja dan nilai bisa dinyatakan ulang berkali-kali.
Let — hanya berlaku secara lokal dalam satu block scope dan tidak bisa dinyatakan ulang. Block scope sendiri merupakan area yang terdapat dalam if/switch conditions atau for/while loops. Tentang conditional statement dan looping ini juga akan aku bahas di tulisan lain.
Const — pada prinsipnya sama dengan Let. Namun, bila let hanya berlaku dalam satu block scope saja, maka const berlaku secara global sama seperti var.
Keep calm! Kita akan pelajari bersama dengan perlahan.
Aku tunggu di bagian selanjutnya~
