A (not so) little piece of my 2017!

[1 Januari 2018]

HAPPY NEW YEAR!

Wahh! Konten ini sebetulnya sudah beberapa hari lalu melayang-layang di pikiran. Tapi belum sempat juga melabuhkan jari jemari ini untuk mengubahnya ke dalam bentuk tulisan he he.

My 2017 was very WOW! Craziest year I’ve ever had in my life also the hardest but grateful year. Deuh susah dijelaskan bagaimana 2017ku berjalan. Masih teringat jelas tahun kemarin diawali dengan hal yang kurang menyenangkan (kebayang dong dari awal aja udah gak enak ha ha ha ga deng). My comfort zone was broke from the first of year. So I have to build up my life from the beginning. Totally!

Let’s get a throwback. Secara garis besar, kisahku di 2017 bisa dibagi jadi tiga babak (yaelah kek Marlina ae) mulai dari awal tahun ya. Agak berat nih ha ha.

Januari-April: I worked hard…really hard to keep going in life. Sounds too much, but that’s really happened :”””) GIL* YA! PAIT ABIS! Terlalu banyak sesuatu yang “hilang” dan harus kurelakan di hidupku, yang mengusik zona nyamanku sebelumnya. Terlalu banyak kejadian tidak menyenangkan di bulan-bulan ini. Saat itu aku merasa: semesta nggak ada pro pro nya nih sama aku. Sometimes, I hate myself too. I always asked questions but it left unanswered (bingung gak ente kalo jadi w).

Masalah datang silih berganti tanpa henti, menguras air mata dan hati, duileh! Tapi bersyukur banget punya keluarga dan teman-teman yang mendukung penuh dan selalu ada. Meskipun ujung-ujungnya ya hanya diri ini sendiri yang mampu menyembuhkan luka :”) I put myself only to God. Dengan perjuangan keras, berusaha menarik diri untuk kembali fokus ke hidup dan kehidupan yang dijalani (boro-boro inget tujuan hidup, untuk menjalani hidup sehari-hari dan menerima kenyataan aja berat pakk), akhirnya bulan-bulan di awal tahun terlewati (FIUH! Awal yang melelahkan)

Mei-Juli: Nah! Selama periode ini, aku mulai menyadari kalau hidup ya pasti ada aja masalahnya, kalo gak mau ada masalah ya jadi Dora aja sana (nggak gitu). Sejak masalah yang menimpa kemarin, aku banyak belajar tentang healing, dealing with self, try to embrace the pain, giving and forgiving, dan makin banyak bersyukur. Saat itu yang ada di kepala adalah: Semua rasa gak akan selamanya. Semua yang terjadi ini ya karena Dia berkehendak, sudah tertulis dan mungkin aku dipilih karena aku yang mampu, masih banyak yang hidupnya lebih susah, semua sudah sesuai takaran. Tuhan nggak akan memberikan beban dan permasalahan yang nggak bisa dilewati. Semua akan membawa pada kebaikan hidupku, yakin! Terdengar klise dan “apaan sih” ya, tapi ya bener begitu yang aku alami sob.

Di bulan-bulan ini juga aku mulai fokus lagi ke kuliahku, mulai belajar nulis artikel yang lebih ilmiah dan berfaedah ha ha ha. Puji syukur beberapa artikel terbit, daring maupun cetak. Walaupun agak lama nunggu terbitnya. Di sisi lain, aku mulai banyak olahraga, entah itu senam, renang, badminton atau workout sendiri di kost. Ya intinya lebih fokus ke diri sendiri, mendengarkan kata hati, melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diriku dan sekitarku. Semakin banyak belajar dari lingkungan dan juga orang lain sih. Apalagi pas ramadhan itu momen banget untuk got my life back.

Daan tanpa kusadari, sesekali aku menertawakan diriku sendiri atas sikapku menghadapi masalah-masalah yang sudah kulalui. Karena sebelumnya kan hidupku ya gitu-gitu aja, nggak ada masalah besar yang harus kutanggung sendirian. Serba remeh temeh lah apa-apanya, mungkin karena ini Tuhan pengen aku belajar untuk menjadi lebih kuat, percaya pada diriku sepenuhnya dan menghargai apa yang udah dikasih selama ini 😊

Agustus-November: Selamat datang di bulan-bulan penuh syukur! Setelah kembali menata hidup, kali ini aku mulai memetik hasilnya. First, I got my scholarship! Alhamdulillah. Second, being lecturer assistant for a professor (expert in his major literally) (awalnya nih degdegan parah tiap masuk kelas. Selain karena beliau salah satu pimpinan di programku, juga secara buku beliau aja jadi salah satu acuan utama di mata kuliah yang beliau ampu, baik untuk jenjang sarjana maupun magister, di mana-mana. Dan setiap minggu aku harus bikin soal kuis untuk latihan sebelum kelas dimulai. Selalu kepikiran mungkin soalku dianggap receh banget ya sama beliau, tapi ternyata komentar beliau: “Bagus ini soalnya mbak, bervariasi” fufufuuhh~ lega!). Bersyukur banget bisa jadi asisten beliau, aku banyak belajar banget! Menghadapi mahasiswa yang pinter-pinter juga tantangan tersendiri, belum lagi di kelas internasional yang juga menuntutku untuk at least having conversation in english at class. Selain dua hal itu, banyak banget hal-hal lain yang kusyukuri even itu hal-hal kecil, kayak ketemu orang baru yang so inspiring, teman-teman bertalenta, bermotivasi tinggi yang selalu semangat, dll.

Desember: Bulannya calming down from what I’ve been through. Bulan ini selain fokus ke ujian akhir, juga mulai memikirkan masa depan. Aku banyak mengingat hal-hal yang sudah terlewati, baik itu yang menyenangkan maupun pahit ha ha ha ha. Semakin banyak mengingat, juga semakin banyak bersyukur. Ke-Maha-Baik-an Tuhan yang tanpa batas, membuat aku semakin yakin kalau semua pasti bisa dilalui, akan ada kebaikan meskipun terlihat sulit kondisinya, dan setiap kebaikan yang dilakukan, sekecil apapun akan mendapatkan balasan. Di bulan ini juga aku semakin dapat berdamai dengan diriku, berdamai dengan keadaan yang terkadang tidak seperti yang kuharapkan dan tentu saja, semakin sering berdialog dengan Tuhan dan diri sendiri mendengarkan apa yang menjadi keinginannya. Kalo nggak percaya sama diri sendiri mau percaya sama siapa lagi ya kan?

I put the rest of all cases to God, fully! Intinya apapun yang Dia kasih, semua tergantung perspektif kita memandangnya. Bisa jadi buruk, bisa jadi baik. Udah lah hidup itu emang kadang cuma perlu disyukuri dan diterima dengan lapang dada. Sesederhana itu. Tapi memang karena manusia penuh keterbatasan, makanya juga butuh teman, keluarga, untuk berbagi cerita dan meringankan beban. So yeah that’s all about my 2017!

Segera himpun kembali semangat yang terserak.

Rekatkan kembali puing-puing asa yang masih tersisa.

Tumbuh dan kembangkan energi positif dalam jiwa.

Ingat bahwa masih banyak doa dan harapan yang menunggu untuk diusahakan. Jangan lupa siapkan hati yang lapang untuk menerima apapun hasilnya.

Mari sambut 2018 dengan bahagia!

*Bagaimana dengan 2017mu? Kalau mau share boleh lho ditulis di kolom komentar :)

Like what you read? Give INES a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.