“Kerja”

INES
INES
Aug 26, 2017 · 2 min read
Source: Google

Belakangan ini mungkin banyak dari kita sering mendengar istilah double standard. Ya, standar ganda yang berarti bahwa setiap orang tidak bisa dinilai menggunakan patokan yang sama. Membahas tentang hal ini memang tidak akan ada habisnya karena banyaknya fenomena yang terjadi yang dapat dikaitkan satu sama lain.

Hal yang akan saya bahas disini adalah ketika kita mendengar kata “bekerja”. Dalam masyarakat kita saat ini, makna “bekerja” menjadi sempit. Arti yang dibangun adalah seseorang dianggap “bekerja” ketika ada aktivitas riil yang ia lakukan, misalnya meninggalkan rumah di pagi hari, kembali ke rumah petang hari, berpakaian rapi, dan menghabiskan waktunya di sebuah ruangan atau gedung perkantoran/instansi.

Penyempitan makna ini memang telah terjadi di dalam masyarakat kita sejak lama. Penyebabnya apa? Banyak dari kita yang kurang bisa mengambil makna terhadap sesuatu, sehingga pandangannya menjadi sempit. Akibatnya timbul penyempitan makna tadi, dan merasa tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Kenyataannya banyak orang yang justru dalam hidupnya menghasilkan sesuatu, berkarya untuk orang banyak justru dianggap tidak bekerja hanya karena adanya penyempitan makna itu tadi.

Sesempit itukah makna “bekerja”? Perlu kita ketahui bahwa menurut KBBI, “kerja” adalah kegiatan melakukan sesuatu; sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah; mata pencaharian. Tidak berarti bahwa predikat “kerja” hanya milik orang-orang yang melakukan aktivitas seperti yang saya katakan sebelumnya.

Hal yang memperparah kondisi ini adalah ketika orang yang diberi label sebagai “yang tidak memiliki pekerjaan” merasa dirinya rendah dan justru menghentikan dirinya dari berkarya karena menganggap ia tidak bisa memenuhi asumsi orang lain.

Selama seseorang melakukan aktivitas yang menghasilkan sesuatu, baik itu materi maupun nonmateri, yang bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya, saya rasa orang tersebut tidak tepat dikatakan sebagai seorang pengangguran. Bahkan mungkin seseorang yang dianggap pengangguran, justru lebih banyak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain daripada orang-orang yang melabelkan dirinya sebagai “pekerja”.

Saya rasa tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan jumlah penghasilan tidak dapat dijadikan alasan bagi kita untuk tidak memanusiakan manusia. Hal terpenting dari bekerja adalah:

“Bekerja bersama hati, kita ini insan bukan seekor sapi” -Fourtwnty

Selamat berakhir pekan!

)

INES

Written by

INES

Welcome to my personal blog! | A full time learner🍃|

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade