BH Baru Bikin Sesak

‘Diskon 70 persen all item’ ……

Perempuan mana yang tidak kalap dan girap-girap melihat tulisan di banner toko sandang. Yang ada di benak, asal potongan banyak dan harga murah langsung masuk dan pilih-pilih. Bahkan ada kalanya kita tidak lagi mempertimbangkan barang yang hendak dibeli. Semisal soal membeli beha.

Bagi saya dan mungkin perempuan lain, kalau bisa beli beha yang menarik secara visual. Menarik mata dengan warna cetar, motif lucu, dan kalau bisa ada wanginya hehe. Baru kemudian tanya ke penjual, ukuran beha yang sesuai.

Soal ukuran, nyatanya tak semua perempuan ngeh akan hal itu. Lagi-lagi ada kesalahan yang jamak dilakukan. Persis seperti saat si doi tidak sms seharian. Kita kaum hawa yang super sensitif ini mengira mereka cuek dan tidak peduli. Kita terlanjur marah-marah, nyindir bahkan lebih parah kita suudz dzon. kalau-kalau dia sudah punya gebetan lain.

Memilih beha bukan hanya memastikan semua gundukan kenyal bernama payudara itu muat di cup. Tapi juga talinya tidak terlalu kencang dan menyiksa. Nah, saya termasuk golongan perempuan yang tak paham akan hal itu.

Bagi saya, saat permukaan areola hingga separuh payudara tertutupi cup, itu sudah cukup. Sementara panjang tali sama sekali tidak saya perhitungkan. ”Kalau sering dipakai nanti juga molor. Temen yang lain juga begitu,” gumam saya. Kata orang itu menyiksa dan keliru. Tapi itu bukan semata karena saya cuek atau acuh.

Hanya saja jika harus meminta dua nomor ukuran yang lebih besar, cup-nya juga berubah. Semisal, cup saya 34 B dan panjang tali 85 sentimeter. Jika ingin mendapat tali yang panjang, pilihannya ya beha cup 36 sepanjang 95 sentimeter.

Katanya perempuan itu ingin dimengerti. Tapi nyatanya, tak semua toko yang menjual jeroan wedhok itu peduli soal ukuran. Saya yakin, pasti dari kalian ada yang kecewa dengan hal macam begitu.

Tak ada pilihan lain, pakai beha kekecilan atau risiko susu makin bergelambir. Alih-alih ingin mendapatkan bentuk susu bulat dengan belahan menggoda, saya justru kena serangan sesak napas. Kemungkinan paru-paru saya mengecil. Seingat saya, baru seminggu lalu terserang sesak napas lantaran memakai beha baru super ketat.

Semua risiko itu toh membuat saya tak bergeming. Beha sesak tetap saya pakai. Saya tetap bisa tersenyum dan membusungkan dada sambil ngempet sakit. Sesekali lubang hidung saya buka lebar-lebar biar bisa menghembuskan napas lega. Seperti itulah saya jatuh cinta dengan dia.

Beha sesak dan tali ketat ibarat bumbu pahit percintaan. Kadang suka, kadang duka, cemberut, dongkol, kesal, lelah, cuek, cemburu, marah dengan si doi. Tapi ya tetap kita cintai, sayang-sayang, peluk, cium dan bercanda dengan dia.

Kadang perihal memilih beha yang sulit dilogika itu mirip kisah cinta. Sejauh ini belum ada ilmuan yang berhasil merumuskan cinta dalam arti yang logis dan masuk akal. Kebanyakan justru di luar nalar. Semua by sense, by experience, by visual. Seperti saat memilih beha yang sesak tapi tetap dipakai.