Emosional laut dan Johnson 50 pk

Perihal mencari uang hingga patah tulang. Saya rasa itu saya temukan dalam perjalanan ke Negri Porto-Haria.

Bapak, kapan pulang. Hujan malam ini deras. Pohon sagu banyak yang tumbang. Seng di dapur roboh menimpa rumah dan tungku.

Bapak mesinnya kulumuri oli tadi sore, biar speed boatnya laju dan bapak tidak susah. Tapi, pak, sudah dua hari suara johnson 50 pk lawas tak terdengar.

Hari ini cerah bapak. Di kuli ombak kapal kapal berdatangan. Namaku belum juga dipanggil. ”Ananies ee, siap buang jangkar sudah”.

Suara ketika aku teringat bekas luka dan memar di lengan kiri bagian belakang. Merah, biru lebam. ”Ao ini seng apa-apa. Cuma tatoki sadiki,” kata bapak menenangkan. Beberapa kali mesin butut harus ditarik kencang dengan tali.

Bapak, kapan pulang. Ini hari ketiga angin reda, langit cerah dan mama menjemur pakaian yang tiga hari lalu belum kering. Oli bekas melumasi mesin juga mulai kaku.

Bapak dan boat di tengah ombak dari Pelabuhan Tulehu ke Negeri Porto, Saparua.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.