Sempurna Itu ….

PEREMPUAN: Kami selalu indah apa adanya. Tanpa makeup atau perhiasan seadanya. (loc: TN Baluran)

Sepertinya saya sudah lupa kapan bangun pagi dan bilang hai cantik di depan cermin. Terakhir saya lakukan saat sedang jatuh cinta. Setelah itu, tidak lagi. Tapi justru ada rutinitas baru. Menurut saya dan (semoga) perempuan lain juga melakukannya.

Begitu mata dibuka, saya langsung menghadap cermin. Memastikan tak ada belek, tak ada pulau jigong di pipi. Atau tahi mata yang jadi kerak di ujung kelopak. Demi apa. Ya, demi video call dengan kakanda yang jauh di ujung sana. Meski tak bertemu secara langsung, penampilan adalah nomor wahid bagi kami perempuan. Bahkan saya yang separuh gennya testoteron ini, itu merupakan hal penting.

Kami selalu ingin tampil sempurna menurut ukuran masing-masing. Sesuai kemampuan kantong, sesuai tempat tinggal, sesuai asal daerah sesuai profesi. Kalau orang macam saya ini tampil sempurna itu cukup sederhana. Cukup mandi, cukup parfum, dan make-up seadanya. Kalau soal kulit dipastikan gelap, agak kusam dan rambut aut-autan. Tapi yang penting sambutan pagi lewat dunia maya tetap sempurna.

Sederhana, kami hanya tak ingin malu, dikira perempuan jorok dan tak pandai urus diri. Secuek apapun, perempuan saat bersua dengan kakandanya tetaplah bersolek.

Atau setidaknya enak dipandang oleh diri sendiri. Saya tidak bisa memastikan mengapa itu dilakukan kaum kami. Mengapa kami mau repot untuk merapikan rambut acak adul sehabis bangun dan muka bantal penuh minyak.

Hingga kini belum ada penelitian terkait itu. Semuanya menjadi misteri gen X yang sulit dipecahkan dan dimengerti. Namun seperti itu juga caraku mencintaimu. Sulit dipecahkan. Mengapa saya memilih anda, mencintai anda dan bertahan dengan anda. Tapi saya senang melakukannya. Duduk berlama-lama, memikirkan anda disela deadline koran. Saat macet jalanan Surabaya, membekuk langkah kaki. Bagi saya berada di pantat cerobong truk merupakan hal biasa.

Asap hitam dan terik dipastikan membikin kulit wajah saya makin kusam. Tapi apapun itu, saya berusaha sekuat tenaga memberi ruang di wajah yang masih bisa terlindungi dari asap. Supaya tidak kusam, tidak hitam, tidak gelap dan tidak cemol. Supaya jika kita bertatapan, anda bisa berlama-lama memandang saya. Semua itu dilakukan demi apa. Demi tampil prima di depan layar kamera saat video call. Meski hanya sebaris area mata yang saya munculkan di layar. Sedang area wajah lainnya, biarlah ia dirawat dahulu. Sambil menunggu kita bertemu dan melepas rindu.