Si ‘Adek’ Hilang Fokus

‘Si adek’ Hilang Fokus
Katanya struktur otak perempuan dan pria itu berbeda. Dari beberapa sumber, otak depan lelaki didesain dengan materi seputar seks. Sedang perempuan tentang shopping. Karena itu tak heran jika kaum adam itu lebih mudah terbakar, terangsang, tergoda dibanding si hawa.
Tubuh molek berlekuk, payudara dan bokong montok, dengan bibir merah merona kerap membuat perempuan jadi objek imajinasi. Tapi apakah demikian. Ada beberapa sahabat yang terpaksa memilih membungkus tubuhnya dengan topeng tomboy. Berlagak bak pria, rambut pendek dan memakai bra sport. Alasanya, mereka tak ingin menjadi model dalam bayangan si pria. Dia punya pengalaman buruk, dilecehkan lewat sentuhan.
Tapi apakah dengan cara itu kita tidak dieksploitasi. Tidak menjadi pasal-pasal bernafsu dalam kolase kamasutra si pria. Saya rasa tidak demikian. Merubah tampilan hingga cara bertutur bukan jalan aman. Itu malah akan membuatmu terlihat lebih menantang.
Seorang teman pernah jadi objeknya. Suatu waktu, pria yang dikenalnya menghampiri dia yang sedang menyelesaikan deadline koran. ”Hai mas, ada yang bisa saya bantu,” katanya menyapa. Si doi diam saja. Senyum dengan tatapan tajam, ke arah dua gundukan yang tertutp busa di dada. Kebetulan dia cukup vocal dan tidak tahu malu. ”Situ besar juga. bikin horny,” ucapnya setengah mendesah.
“Demi pencipta semesta, tak ada satupun yang membuat badan ini menawan” pikirnya. Bentuk tubuh standar dibalut kaos oblong agak kedodoran. Tampilan aut-autan dengan rambut pendek jarang disisir. Kulit sawo matang, atau lebih tepatnya sawo gosong.
Sesekali dia bahkan meluncurkan jemarinya dan menyentuh beberapa bagian tubuhnya. Seperti leher, tangan, pundak atau apapun lah yang dianggapnya siap. Siap untuk mendaratkan berjuta-juta sel saraf sensitif di ujung jari yang dipompa hormon testoteron.
Dalam berbagai kesempatan saya yakin hal ini tidak dirasakannya sendiri. Perlakuan dari orang yang tidak kita kenal maupun dikenal, sama saja. Sama-sama tidak bisa dinalar. Entah apa yang membuat segenap tubuh para pria itu terbakar dan berdebar kencang saat mendekati perempuan. Bakan dalam kondisi yang sulit dikontrol ‘si adek’ bisa hilang fokus.
Dari sebuah artikel ditulis, otak pria dan perempuan punya area bernama sexual pursuit di bagian hypothalamus. Hasil penelitian itu tertuang dalam buku karangan Louann Brizendine berjudul ‘The Male Brain’. Bedanya area itu berukuran 2,5 kali lebih besar di dalam kepala cowok dibandingkan dengan yang ada pada cewek.
Itu membuktikan pria tak butuh banyak alasan untuk membuat si adek berdiri tegak bak upacara bendera sabanSenin. Dalam berbagai kesempatan dan kondisi ‘si bungsu’ bisa hilang kendali. Mereka boleh saja mengklaim imannya kuat. Tapi tidak dengan si Imron. Daging tak bertulang itu kerap membikin aliran darah mondar-mandir tak jelas. Memompa ke seluruh bagian tubuh dan melepas hormon sakti.
Kita para perempuan tak bisa serta merta menentang atau berdemo anti objek seksual. Dengan atau tanpa perlakuan fisik sehari hari kita mengalaminya. Sadar atau tidak beberapa pria yang duduk di samping anda, di dalam angkot, meja kantor. Atau di kasir minimarket, bangku antrian stasiun atau bahkan yang hanya berpapasan punya peluang.
Peluang berimajinasi dan membelai tubuh anda yang bahkan anda sendiri yakini tidak semolek Scarlete Johansen. Si adek tetap bisa hilang fokus, sebab demikianlah dia diciptakan. Bersabarlah sayang, barangkali dunia terbaik dan kita berkesempatan bertukar posisi. Jika saat itu tiba,manfaatkanlah waktu yang ada untuk membuat pria menjadi objek fantasimu.