España Con Correos

Looking over the city from Gaudi’s Parc Güell

Itu mungkin kalimat Spanyol yang pertama kali saya baca ketika kecil, tertera di sebagian koleksi perangko saya. Entah bagaimana bisa ada di album ini, kemungkinan dari ibu saya yang rajin membawa pulang perangko bekas surat dari petinggi kantornya.

Alhamdulillah, di usia saya yang ke 30, saya berhasil “mengirim” diri saya ke Spanyol, tepatnya kota Barcelona. Walaupun hobi membaca buku Bahasa Spanyol (benar-benar membaca, alias gak memahami artinya cuma senang lafalnya), namun di kota ini salah kaprah karena bahasa yang umum digunakan adalah Catalan. Jadi seperti biasa, bahasa tarsan lagi.

Barcelona kota yang hangat dan menyenangkan, bahkan di saat musim gugur yang dingin dan sering hujan. Mungkin bila bisa memilih, saya akan tinggal di sini, membawa suami, anak, orang tua — lucu rasanya, begitu senang berlibur namun di saat yang sama begitu kangen rumah, terutama dua anak kami. Ternyata bila kita bahagia, ingin rasa selalu membaginya kepada orang-orang tersayang. “Dunia serasa milik berdua,” itu semu adanya.

Apa yang begitu menyenangkan dari Barcelona? Gaudi dan maha karyanya di sepenjuru kota, jalan yang ketika dilangkahi, rasanya seperti déjà vu, warganya yang ramah dan bersahaja. Ketika kami kebingungan mencari jalan sambil membuka peta, seorang kakek-kakek menghampiri dan mencoba membantu kami. Kami juga menemukan teman baru, yang kebetulan seorang kakek-kakek (lagi), Pedro namanya. Pedro memiliki toko mainan koleksi, di dalamnya terdapat banyak sekali Tintin dari resin dengan harga beragam. Bahkan ada yang mencapai 1.000 euro! Derry sepertinya agak was was dengan kehadiran saya di situ karena errr… sedikit ceroboh, jadi saya memilih duduk di tangga (namun tetap saja nyaris menjatuhkan 1 figur).

The Magical Toy Store Runs By Magical Man

Tak perlu waktu lama bagi kami untuk akrab dengan Pedro, walau komunikasi dengan Bahasa Inggris sekenanya, beliau menceritakan banyak hal, bahkan sempat menahan tangis ketika menceritakan putranya yang meninggal 4 tahun lalu karena serangan jantung. Penampilan Pedro dengan kemeja rapi dan dasi kupu-kupu serta rambut putih dan mata birunya, begitu lekat di memori sebagai bagian dari kisah kota Barcelona.

Pedro sempat mengutarakan, anggap saja toko mainannya sebagai rumah kami. Sepertinya ia cukup kesepian, begitu banyak yang kami (coba) bincangkan. Aneh memang, kadang bila kita asing satu sama lain, malah begitu banyak hal yang bisa diceritakan. Sayang kami tak sempat mampir kembali karena mengejar pesawat, sedikit menyesal juga tidak membeli replika balon udara yang digantung di langit-langit tokonya — sekarang cuma bisa dipandang-pandang gemas di Google Images. Semoga kita bisa bertemu lagi, Barcelona & Señor Pedro!

Authentic Model Royal Aero Hot Air Balloon
We are sons of Adam who are destined to touch new grounds — explore and learn something new everyday.

November 2011

Like what you read? Give Ken Priyahita a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.