Ilmu Marah

Latar belakang cerita ini adalah saya kena marah.

Marah merupakan ekspresi wajar dari setiap orang yang dikarenakan karena ada suatu sentilan dari nurani kepada suatu “aksi” dari luar yang bertentangan dengan suatu ideologi pribadi. Saya pun sekarang sedang marah, namun diekspresikan dalam bentuk tata bahasa.

Saya marah bukan karena saya menolak untuk mendapatkan teguran dari seseorang, tetapi saya rasa ada yang salah dengan kata “anger” ini. Agaknya, saya merasakan tanggapan orang tentang petahana Jakarta yang katanya punya marah yang menggebu gebu. Saya akan menyoroti satu per satu “trigger” yang membuat saya terusik.

  1. Marah dengan tutur Bahasa yang tidak menghargai.
  2. Marah dengan tidak memberi pengertian atau peluang untuk memperbaiki.
  3. Marah, lalu memberikan judgement “permanen” terhadap subyek yang melakukan kesalahan.

Ada satu kutipan sajak bijak yang berkata, besi menajamkan besi dan manusia menajamkan sesamanya. Ternyata peristiwa mempertajam segala sesuatu adalah proses yang pasti menimbulkan panas. Tidak hanya itu, segala sesuatu hanya akan lebih tajam jika diasah oleh material yang lebih keras.

Ketika suatu teguran keras datang, pastilah akan ada pihak yang terpanaskan lalu memberi respon terhadap masalah tersebut. Banyak orang yang tidak siap mendapatkan teguran, lalu memberikan barrier “ego” pada pikiran serta memberikan judge pada orang tersebut. Memang, tidak ada orang yang sepenuhnya benar sebagai implikasinya tidak ada orang yang sepenuhnya salah. Seandaikan ada orang yang seratus persen salahpun, dia tetap layak untuk didengarkan dan dihargai.

Memang tidak ada orang yang sepenuhnya benar, namun sebagai implikasinya maka tidak ada satu orangpun yang sepenuhnya salah.

Lalu, saya berpikir apa yang akan saya lakukan jika ada dalam posisi dia. Akankah saya marah? Akankah saya tau, jika saya menyakiti perasaannya? dan Akankah saya memperbaiki diri, jika saya tahu saya akan menyakiti perasaanya?

Maka, saya menulis cerita ini dan mengutarakan “batasan” marah yang harus saya punya. Marah merupakan suatu “reaksi” natural, namun nyatanya semua orang berbeda dalam mengekspresikan marah walaupun dengan “aksi” luar yang sama.

  1. Ingatlah, kamu bukan satu-satunya orang yang benar dan punya perasaan.
  2. Jangan menimpakan suatu kesalahan pada seseorang, karena tidak ada kesalahan yang terjadi tunggal.
  3. Jangan marah ketika seorang melakukan kesalahan ketika belajar. Ingatlah bahwa dulupun anda belajar, walaupun proses belajar setiap orang berbeda. Maka, bukalah kesempatan untuk menghargai kesalahan yang dibuat karena proses pembelajaran.
  4. Jika karena suatu perasaan “tidak enak”, namun menghambat suatu hal yang baik terjadi maka marahlah.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.