\imajinasi arti\

imajinasi lahir dari sebuah benak khayal tentang penciptaan kehidupan maya tiga dimensi. Yang kini kuberi arti, arti itulah yang hidup. Entah apakah karena sebuah arti maka mereka hidup, atau karena mereka hidup maka arti ada.


Aku terbangun dan tersandera dalam hiruk pikuk dunia nyata yang fana. Entah apakah aku yang kurang bersyukur, atau entah memang dunia ini yang sudah irrelevant. Bangun dalam sebuah batasan yang mengekang angan dan kemungkinan, lalu hidup dalam dera dengan lukisan yang terpatri di mata seolah kehidupan hanya stereotipe belaka.

“Akankah arti benar ada untukku? — Atau arti hanyalah barang semu.”

Mulutku disumpal dengan batu dililiti kain kotor melilit sepanjang wajahku. Mataku ditutupinya dengan abu sehingga air mataku bak lumpur menyelimuti biji mataku. Keringatku sudah habis tidak bersisa karena sudah tak ada air untuk diuapkan. Kakiku terjerat paku dan diikat pada batangan kayu, padahal tangan ini sudah terpasung dan mati daya tak bersuara lagi.

Dalam heningnya kepedihanku teringat aku pada hidupku. Inikah aku sekarang, tak bisa bersuara dalam himpitan keadaan. Tak bisa menjerit dalam riaknya kehidupan.

“Lebih baik tak perlu dilahirkan.”


Kuberi nafas pada kedua benda itu, karena kudengar tak baik kalau sendiri saja. Kudengungkan nama indah dalam telinganya. Kusuarakan isi hatiku padanya. Lalu matanya terbuka.

Dunia itu putih tak terkira luasnya. Kuberikan bulatan hijau dan derasnya biru air untuk menyejukkan mata. Dua insan ini, bertatap. Tanpa diberi aba, berjalan bersama mengindahkan segala sesuatu.

Mulai mereka duduk, dan bertatap lagi.

“Harus ku apakan dunia ini?”

Berimajinasilah mereka dalam dunia itu, mulai membisiki benda mati untuk tumbuh. Kulihat mereka menatap ke angkasa, ada bulatan kecil terhias disana. Bersembunyilah mereka sekian lama, lalu siap berkuda ke angkasa.

“Kemanakah mereka?”


Terbangun lagi aku, kini dalam kenormalan duniaku. Teringat aku akan mereka.

Mereka hidup, lalu pergi mencari arti. Tapi percayakah ku akan sebuah makna arti, padahal akulah yang memberi mereka hidup.

Ternyata, akulah sendiri yang mengekang arti itu, sesungguhnya aku tidak hidup meski raga ini bergerak. Yang kulakukan hanya bertahan untuk hidup, lalu lupa arti diriku.

Like what you read? Give Probo Nogoya a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.