Hidayah beserta bonusnya
Di setiap lubuk hati seseorang pasti menunggu suatu hidayah, pastinya hidayah dari Nya, begitupun dengan ku. hehe bahasaku menggelikan ya
Apa sih hidayah itu?
Hidayah berasal dari kata ar-rasyaad (bimbingan) dan ad-dalaalah (dalil/petunjuk). Menurut, “kitab “al-Qaamuushul muhiith” (hal. 1733)”
Sebenernya aku pengen cerita, bagian atas cuma preambule hehe. Rasa hati bergejolak ingin menjadi wanita shalihah seperti temen-temen deket sejak SMA, tetapi dalam hati masih pengen pake aksesoris yang unyu (re: pita rambut dan semacamnya) dan aku koleksi banyak banget aksesoris unyu, hilang pun kadang-kadang ngerasa seneng karena aku bisa beli aksesoris model lain yang lebih unyu. Waktu SMA sih belum pengen menutup aurat hanya karena itu, childish bgt ya
Masa SMA yang menyenangkan pun berganti dengan masa perkuliahan yang luar biasa bikin menantang lahir dan batin.
Ketika masa perkuliahan berlangsung, melihat “ternyata” banyak sekali wanita shalihah di luar sana, aku bilang shalihah karena mereka beda sekali perilaku dan tutur katanya. Aku yang masih belum menutup aurat melihat mereka merasa malu dan ingin mengikuti jejak mereka, tapi tetep aja ada hati kecil yang belum siap. Padahal kata orang-orang, ngga perlu persiapan buat nutup aurat, nanti juga siap seiring jalannya waktu. Selain itu, mama papa belum ngebolehin aku berhijab.
Sampai pada akhirnya, aku berada di titik paling bawah, galau sedih gundah karena suatu hal yang ga penting buat diceritain. Berada dititik paling bawah ketika Bulan Ramadhan itu sesuatu banget. Hal itu jadi titik balikku. Bulan Ramadhan 2016.
Sebelum lanjut cerita, aku intermezzo ya. Setiap ngaji (re: baca Al-Quran) aku suka buka Al-Quran secara acak sambil doa dalam hati mencari petunjuk ketika ada masalah tertentu, dan alhasil surat, ayat, dan terjemahan yang kebuka selalu sesuai dengan masalahku, dan pastinya membantu banget buat menghadapi masalah itu.
Jadi, waktu di Bulan Ramadhan 2016, setelah sholat tarawih, aku lanjut tadarus, dan aku coba membuka acak Al-Quran, dan hasilnya adalah…
JENG JENG . . . . .
Aku dapet surat dan ayat yang menggugah sanubari sanubara, intinya ada siksa kubur ketika wanita tidak menutup auratnya. Aku sudah cari suratnya tapi ngga sama seperti yang aku dapetin waktu itu hmmm :(
Semenjak itu aku mencoba membujuk rayu kedua orang tua biar mendapat restunya (pakai hijab). Alot banget lah perjuanganku membujuk rayu. Padahal yang belum berhijab cuma aku di rumahku, OMG PDA (Oh My God, Please Deh Ah). Akhirnya aku sedikit menyerah, tapi tetep berdoa.
H-1 Lebaran, aku sama mama lagi setrika baju buat besoknya, terus mamaku setrika 2 helai jilbab.
Aku tanya, “ma kok 2?”
Mama, “ya satunya buat kamu”
Meleleh lah hatiku :”) tapi aku belum tau seterusnya atau cuma lebaran, tapi bodo amat ya, yg penting step awal terpenuhi dulu (diijinin pake).
Dulu aku inget sama kata-kata guru ngajiku, “doa terus menerus, merengek ke Allah kalo pengen sesuatu biar terkabul, ibarat seperti kita pengen dibeliin mainan sama orang tua, merengek tiap hari, pasti akhirnya di beliin juga dan di waktu yang tepat (dikabulkan).” Oke aku lakuin.
Singkat cerita, setelah memperjuangkan hak dan kewajibanku sebagai wanita akhirnya aku berjilbab dengan restu yang amat tulus dari mama terutama papa. Dan aku baru tau kalo anak perempuan ngga menutup aurat maka ayah akan mendapatkan suatu hal buruk nantinya di sana (akhirat). Mana ada anak yang tega membiarkan hal itu terjadi ya huhuhu.
Sebenernya menutup aurat tidak sekedar menutup rambut saja, tapi juga semua hal yang tidak bisa diperlihatkan oleh lawan jenis kita (seharusnya, dan harusnya semua wanita/cewek tau hal itu) tapi masih banyak orang di luar sana masih menggunakan pakaian yang sangat amat membentuk lika liku tubuh terutama bentuk dada yang terlihat bentuknya (maaf ya :( )
Dan aku baru tau rasanya jadi orang yang berhijab melihat orang yang tidak berhijab. Rasanya itu kaget, karena berasa rambut dan auratku kebuka (tidak pake hijab) kayak kalo aku tiba-tiba lupa pakai hijabku. Tapi itu cuma opiniku aja sih ketika melihat muslimah.
Dan sampai sekarang aku pun masih belajar gimana cara menutup aurat yang baik benar dan tepat, jadi harapanku, ketika orang-orang disana melihatku ada sesuatu yang harusnya tertutup tapi ternyata terlihat, semoga mereka menegurku, khususnya pasanganku.
Bonus dari Menutup Aurat
Aku dapet bonus, ketika aku mulai menutup aurat. Alhamdulillah, doaku yang lain di ijabah sama Allah, terharu, baik banget Allah :”
Aku ketemu pria, pria bukan cowok. karena bagiku yang ini bukan seperti cowok yang masih ingin cari jati diri. Menurutku sih. Dan pria ini membukakan mataku tentang “jodoh” dan “jodoh ngga kemana”. Kita panggil aja dia “mas” hehe. Bulan Juni, secara resmi, mas meminangku. :”
Mohon maaf kalo ada salah kata
