entah malam keberapa

-dan pikiran ini sudah sangat menggangu.

berawal dari papa saya yang memaksa saya untuk ikut pergi berlibur bersama mama beserta adik saya. ia menyuruh sekaligus memaksa dengan nada yang ingin sekali saya ikut

“kapan lagi kamu ikut kan satu tahun sekali”

saya yang waktu itu sedang mager (males gerak) dan ingin berleha-leha di rumah akhirnya memutuskan untuk ikut berliburan ke puncak dan menginap disana selama 2 hari, saya merubah pikiran saya karna “yaudalah kapan lagi sebelum pulang ke Makassar”

akhirnya saya pergi ke daerah Puncak sekeluarga dan menghabiskan dua hari saya disana. saat malam hari saya jadi mengingat-ingat tentang bagaimana kedua orang tua saya yang ingin sekali membuat anak nya bahagia, atau mungkin semua orang tua.

iya, semua orang tua.

jadi saat di Puncak, orang tua saya berniat untuk liburan satu malam saja karna papa saya ingin istirahat karena lusa nya beliau masuk kerja. tapi adik terakhir saya merengek minta untuk menginap lagi dan meminta agar hotel nya pindah (hotel yang ada kolam renang nya) dan orang tua saya mengiyakan permintaan tersebut.

di sepanjang perjalanan menuju hotel kedua saya berpikir, kenapa ya ada manusia yang mau menuruti permintaan manusia yang lain? yang mengenyampingkan kebutuhan nya demi orang tersebut? yang mengusahakan apapun agar orang lain itu bahagia?

saya jadi ingat tentang pemintaan-permintaan saya yang sebenarnya egois. yang hanya menguntungkan saya, yang hanya berpikir “ya pokoknya gue mau ini gamau tau gue harus dapet ini”

saya jadi ingat, saat saya memohon agar bisa dibelikan hp iphone hanya karna saya bosan memakai hp yang lama. padahal kalau di pikir-pikir hp ya sama aja buat berkomunikasi? saya ingat orang tua saya harus mengeluarkan uang jutaan untuk membayar les bimbel UN+SBMPTN saya, lalu pas tahun pertama saya gagal mereka tidak pernah meminta agar uang itu di kembalikan dengan alasan saya gagal. mereka bisa dengan tabah menerima kegagalan saya walaupun mereka berdua telah mengeluarkan uang yang cukup banyak.

saya juga jadi ingat bagaimana saya yang mempunyai keinginan untuk merantau dan meninggalkan kampus pertama saya, padahal di kampus pertama saya untuk setahun nya saya menghabiskan uang hingga puluhan juta belum lagi dengan uang jajan uang transport, dan uang beli buku..

saya bingung

kenapa ada seseorang yang tiap hari pergi jam 5 pagi untuk bekerja dan pulang malam hari bahkan lembur hanya untuk membayar keinginan-keinginan orang lain?

hal itu di lakukan oleh papa saya seorang diri.

bagaimana dengan ibu saya?

ibu saya yang kalau saya sakit sering kali membeli obat-obatan lalu di kirim ke Makassar. ibu saya yang kalau masak suka bertanya “mau makan apa hari ini?” atau ibu saya, yang saya liat sendiri bangun jam 5 pagi lanjut sholat subuh mengurus saya dan ke-3 adik plus dengan papa saya dari mulai makan, membersihkan rumah, mengatur keuangan rumah tangga, mengantar adik saya ke sekolah, yang paling ribet kalau ada salah satu anggota keluarga sakit atau kenapa-kenapa, yang dahulu (pas saya SD dan papa saya kena PHK) ngga malu untuk menenteng dagangan mukena yang ia beli di tanah abang untuk dijual.

ibu saya, memang bukan lulusan kampus terkenal akreditasi A atau memiliki embel embel sarjana di nama belakang nya, beliau juga sering kali salah mengucapkan bahasa asing. tapi saya tau ada banyak hal yang ibu saya berikan kepada saya yang orang lain harapkan itu terjadi di hidup nya.

kakak sepupu saya adalah anak tunggal, dulu saat dia duduk di bangku SD hingga SMP dititip nya dirumah saya karna kedua orang tua nya bekerja. saya ingat sekali sampai hari ini dia pernah bilang :

“coba kalau mama ku ngga kerja pasti bisa dimasakin juga kayak gini”

sambil melahap makanan yang mama saya hidangkan di meja makan.


saya dan mungkin kalian yang membaca, mungkin pernah sampai di titik. dimana kita mempertanyakan tentang kasih sayang seseorang

sahabat yang selalu ada, mendukung kita bagaimanapun situasi nya. pasangan yang setia dan menyayangi kita. tapi..

ketahuilah orang tua kita dapat melakukan kedua nya secara bersamaan :)

saya jauh jauh hari sering sekali berpikir, bagaimana kedua orang tua saya mempunyai perasaan cinta untuk saya dan ketiga adik saya dengan cara yang sama? bagaimana semua perlakuan baik yang mereka lakukan di potong sama rata tanpa memihak lebih ke satu orang? bagaimana mereka berdua (orang tua) saya mau melakukan segala hal apapun itu, tanpa mengenal berapa materi, berapa lama atau berapa lelah nya hanya untuk anak dan bukan untuk diri mereka sendiri?


diusia (menuju) 20 tahun,

saya pernah berpikiran untuk hidup dan bekerja seperti orang pada umum nya. dan kalau uang hasil bekerja saya dapatkan ya saya paling hanya memikirkan untuk pergi berlibur, beli makanan kesukaan, beli baju yang saya dambakan. atau mungkin membeli gadget baru keluaran apple tentu nya.

tapi saya tidak melihat hal itu di kedua orang tua saya, saya acap kali menemukan mereka berdua rela membagi dua makanan kesukaan nya dengan adik saya, mereka berdua rela mengeluarkan uang berapa pun banyak hanya agar anak-anak nya bisa sekolah, mereka berdua entah dengan cara apa lagi saya berpikir..

inti nya, sampai detik ini saya masih bingung mengapa semua orang tua melakukan hal-hal yang tadi saya bicarakan.

apa ya..

kalau untuk seusia saya ngga logis aja gitu, jadi yaudalah mungkin emang ada masa nya saya bertanya-tanya seperti ini dan ada masa nya juga kelak (Insyaallah) saya yang mengambil peran sebagaimana kedua orang tua saya sekarang.


terakhir yang saya rasakan.. nyatanya

merantau mengajarkan saya tentang bagaimana mencintai mereka berdua.

percaya deh, gue adalah salah satu anak yang bisa dibilang paling ngebangkang diantara adik-adik gue tapi sekarang? let see aja ya hehe.
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Puan kelana’s story.