Gebak-gebuk cinta

Dan kesalahan berpikir yang sangat fatal

Puan kelana
Sep 2, 2018 · 5 min read

“Percuma baca buku feminis kalau di pukul sama laki-laki saja ngga bisa bertindak apa-apa”

Itu kalimat pertama yang saya ingat dari seorang teman saat saya menceritakan apa yang telah terjadi oleh saya.


Sebelumnya, saya ngga mau tulisan ini membahas tentang kenapa dan bagaimana pemukulan itu terjadi. Saya malah mau menjadikan tulisan ini sebagai refleksi, agar saya bisa lebih memawas diri.

Selama masa pacaran berlangsung, tidak pernah ada hal yang aneh terjadi antara saya dengan partner saya. Saat itu di awal hubungan kami berlangsung semua terlihat baik-baik saja, sampai saatnya. Ada beberapa kekerasan verbal yang muncul, awalnya saya mengacuhkan hal tersebut. Saya berpikiran kalau hal tersebut terjadi karena “ya sedang emosi saja” sampai pemukulan pertama terjadi saya masih bisa memaafkan perilaku partner saya, saya ingat sekali apa yang dikatakan nya waktu itu

“Saya tau tabiat saya buruk, tapi cuma kamu yang bisa ngerti saya. Kamu yang bisa nerima ini semua, saya butuh kamu buat ubah tempramental saya. Jangan tinggalin saya ya, bantu saya berubah”

Dengan imingan “bantu saya berubah” saya memilih untuk tetap bertahan.

Setelahnya, saya mengunci kuping saya dari perkataan teman-teman yang menyuruh untuk meninggalkan partner saya tersebut. Saya tanamkan dalam pikiran saya, kalau partner saya sedang sakit. Jadi sebagai pasangannya saya harus menemani dan membantu dia sampai sembuh. Lagipula, saya selalu saja percaya semua orang pastu bisa berubah, asal diberi kesempatan.

Seiring berjalan nya waktu, banyak hal lain yang terjadi. Bertengkar hanya karena cemburu atau sikap saya yang ia bilang terlalu “wild” adalah hal yang lumrah dalam hubungan kami, saya mengiyakan jika saja banyak kesalahan yang saya perbuat selama menjalin kasih dengannya. Saking mengiyakan nya, saya jadi menganggap wajar jika saja partner saya marah dan berkata kasar kepada saya, pemukulan yang terjadi pun sempat saya anggap sebagai hal yang memang pantas untuk saya dapatkan. Mengingat, dia selalu berkata “kau salah dan pantas untuk dipukul, agar kau sadar” Di titik ini, saya merasa sangat lemah. Saya sering mengutuk diri sendiri hanya karena saya tidak bisa menjadi pasangan yang baik untuknya, saya merelakan diri saya menjadi samsak tinju. Saya kehilangan kepercayaan diri karena saya melihat dia adalah seorang yang sangat baik dan saya adalah seorang yang buruk, jadi selama “hukuman” apapun yang ia jatuhi kepada saya baik itu kekerasan secara verbal maupun fisik. Saya pasti akan menerimanya dengan lapang dada.

Sampai akhirnya, saya tidak sengaja membaca tweet seseorang tentang kekerasan dalam pacaran. Saya mulai mengenal istilah gaslighting dan arti kata posesif. Malam itu, saya berselancar di google dengan membaca banyak artikel tentang kedua hal tersebut. Sampai pemukulan ketiga terjadi, saya berhenti pada sebuah artikel tirtoid yang berjudul “Korban Kekerasan yang Tak Bisa Keluar dari “Lingkaran Setan”

Subuh itu, setelah tamparan mendarat di pipi saya. Sambil membaca artikel tersebut, saya jadi tau apa yang selama ini terjadi pada otak dan psikis saya, stockholm syndrome.

Istilah stockholm syndrome bermula dari kejadian perampokan sebuah bank di Normalmstrog, Stockholm, Swedia. Perampok menyandera pegawai bank selama 6 hari. Uniknya setelah korban dibebaskan, mereka tidak menuntut balik si perampok. Tetapi membela para perampok. Seorang sandera bahkan jatuh cinta dengan perampok hingga membatalkan pertunangannya dengan kekasihnya saat itu.

Awalnya korban membenci perampok tersebut dan menyadari akan keterancaman mereka, namun persepsi mereka berubah dari hari ke hari. Apa yang menyebabkan hal ini? Karena selama proses penyanderaan, terjalin keterikatan emosi (bonding) antara korban dan pelaku. Di fase awal, korban merasakan stress berat akibat isolasi tersebut. Namun ketika mereka merasa tidak bisa keluar dari keadaan ini dan pasrah, mereka menjadi terbiasa lalu menerima itu sebagai kenyataan hidup.

Selama penyanderaan, pelaku mengisolasi korban dari komunikasi dunia luar. Satu-satunya komunikasi korban adalah dengan pelaku. Sehingga perampok tersebut dianggap satu-satunya teman berkomunikasi. Korban mulai terjatuh pada persepsi bahwa perampok adalah satu-satunya pihak yang mengerti kondisi & perasaan mereka. Image perampok di benak korban sudah berubah, dari penganiaya menjadi yang paling mengerti kondisi korban.

timbulnya empati terhadap pelaku kekerasan bukan tanpa alasan. ini merupakan strategi menyintas. Pada keadaan penuh tekanan yang berlangsung lama, korban akan mencoba beradaptasi dan melakukan normalisasi sampai akhirnya terbuka kemungkinan munculnya rasa empati.

Ingat saat partner saya bilang; “hanya kamu yang mengerti sikap saya, dan cuma kamu yang bisa bantu saya berubah”

Itu adalah salah satu cara agar, saya berempati terhadapnya. Dan memiliki pikiran bahwasannya hanya saya lah yang bisa membantunya. Padahal bukan nya ikut membantu saya malah terjerat dalam lingkaran kekerasan yang tiada henti.

stockholm syndrom sendiri terdiri dari rangkaian gejala. Korban akan menanggapi negatif nasihat atau saran dari orang sekitar untuk meninggalkan si pasangan. Ia akan menghindari kemungkinan apapun yang bisa memisahkan dirinya dari si pasangan. Apa pun yang dibuat si pasangan, korban akan mendukungnya. Di samping itu, pelaku pun dapat menunjukkan perilaku positif kepada korban meski pada waktu-waktu lain justru menyiksanya. Nah di tahap ini, saya pernah juga merasa bahwa apa yang di katakan oleh teman saya untuk meninggalkan nya bukanlah sebuah jalan keluar yang tepat. Saya menutup kuping rapat-rapat terhadap nasihat teman saat menyuruh saya untuk pergi meninggalkannya.

Dalam berkembangnya stockholm syndrome ada 4 hal yang terjadi :

  1. Adanya ancaman fisik atau psikologis terhadap korban. Bentuk ancaman ini bermacam-macam, tidak mesti langsung diutarakan kepada korban. Perilaku destruktif pelaku seperti membanting atau melempar barang untuk melampiaskan emosinya bisa dibilang sebagai ancaman pula. Permainan psikologis seperti kata-kata, “Hanya kamu yang bisa membantu saya, maka tolong ikutilah kata-kata saya” merupakan jalan lain untuk mengintimidasi korban. Pelaku tahu empati adalah kelemahan korban, maka ia berusaha mengeksploitasinya untuk kepentingan sendiri.
  2. kebaikan-kebaikan kecil yang ditunjukkan pelaku. Misal; dalam hubungan pacaran, tidak jarang pelaku menunjukkan sikap romantis, membelikan macam-macam hadiah dan mengucapkan kata-kata manis setelah sebelumnya berlaku kasar pada korban.
  3. sinkronisasi perspektif korban dan pelaku. Alih-alih memelihara rasa marah atau memendam kekesalan karena dikasari, korban akan mencoba melihat dunia dari sudut pandang si pelaku. Ini yang menyebabkan korban enggan mendengar saran-saran orang terdekat. Semakin banyak saran yang mereka dengar, semakin besar level disonansi kognitif yang ia alami.
  4. ketergantungan antarpihak. Masalah finansial, perjanjian pranikah, atau anak dan relasi keluarga besar menjadi hal-hal yang diangkat pelaku untuk menyandera korban. Tidak jarang pula pelaku mengancam akan bunuh diri bila korban nekat meninggalkannya.

Semakin banyak artikel yang saya baca, saya semakin sedih melihat diri saya sendiri. Saya mematut di depan cermin sambil berkata bahwa ternyata saya sudah sangat jauh melangkah. Saya salah dalam artian, melanggengkan semua kekerasan selama ini. Setelahnya, saya sadar dan tidak lagi berhubungan dengan partner saya.

Tulisan ini saya buat semata-mata untuk menghibur diri saya, jujur sampai saat ini saya masih trauma. Saya kehilangan kepercayaan diri karena merasa menjadi seseorang yang buruk, sampai terkadang saya memikirkan semua hal dan berharap bagaimana caranya agar terhapus dari memori otak saya.

Terakhir, seperti yang dibilang oleh salah satu dosen saya pada mata kuliah perubahan sosial budaya.

“Perubahan secara cepat itu tidak ada yang ada hanya adjusment (pembiasaan)”

Sore itu, di ruang kelas saya berpikir secara perlahan…

mungkin kata maaf telah menjadi sebuah pembiasaan yang di lakukan setiap kali kekerasan muncul. Bukan sebagai benar-benar ajang pembuktian bahwa perubahan dapat terjadi setelah maaf terucap.

Pembiasaan terhadap kekerasan, dan kata maaf yang diutarakan berulang-ulang adalah lingkaran setan dari sebuah perbudakan atas nama cinta yakni, dalam konteks relasi berpasangan — yang sangat tidak sehat.


Sumber foto : weheartit.com

Sumber artikel : tirto.id&kelascinta.com juga beberapa artikel yang lainnya.

Puan kelana

Written by

1500KM • senang menulis dan membaca, untuk keduanya sering kali lupa.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade