LDR

;(ekstrem)

source by: weheartit.com

“lah lu kuliah di Makassar, pacar lo di Yogya. rumah lo di Bekasi, rumah pacar lo di Yogya. terus ketemuan nya kapan?”

“ya kapan aja bisa”

“ekstrem banget ldr lu haha”

Pertanyaan kayak gitu, cuma salah satu contoh pertanyaan orang di sekeliling saya tentang hubungan saya dengan dia.

yang lain nya lebih bertanya;

“kenapa bisa kenal?”

“dimana pertama kali bertemu?”

“lu kok mau ldr?”

hubungan saya sama dia, memang belum lama. jadi tulisan ini ngga bakalan bahas tentang pertanyaan itu semua. saya gamau nyeritain runtutan kenapa saya dan seseorang di pulau sebrang yang beda universitas ini bisa kenal sampai akhirnya memilih buat punya hubungan.

saya cuma mau nulis, tentang ketakutan banyak orang tentang hubungan itu sendiri.

dari sekian banyak pertanyaan yang paling sering saya dapatkan adalah;

“gimana sip ldr enak ngga?”

terus dengan santai saya bilang

“enak-enak aja”

seakan jawaban saya yang sekena itu cukup meyakinkan bahwa ldr bukan sebuah momok yang menakutkan.

dulu, sebelum ldr yang kedua ini saya jalani. saya juga pernah ldr dengan seseorang di Jakarta, tapi tidak berlangsung lama hubungan itu selesai tepat ketika saya pulang untuk menemui nya.

hal itu lantas membuat saya awal nya takut untuk memulai hubungan ldr (lagi) tapi akhirnya, saya berfikir apa yang sebenarnya saya takutkan belum tentu terjadi.

masa iya saya bisa memukul rata bahwa setiap hubungan ldr akan berakhir dengan cara yang menyakitkan?

ldr, atau hubungan jarak jauh seperti kita tau. terlalu sering di anggap sebelah mata, orang-orang di sekeliling saya acap kali juga menjadikan hubungan para pejuang jarak ini sebagai lelucon.

mulai dari ucapan :

“nanti cowo lo disana ngapain-ngapain sama cewe lain”

“ldr mah ngga bakal lama”

“ldr pacaran nya sama hp”

“ldr banyak berantem nya”

dan lain-lain…..

saya, sebagai pendengar cuma bisa mengiyakan sambil bertanya kepada diri saya sendiri; loh tapi kok saya ngga merasa gitu ya?

lain waktu, saya mendengar tentang teman saya yang tidak setuju dengan konsep pacaran ldr, dia berkata bahwa ldr hanya buang-buang waktu. pacaran itu kan harus nya bisa saling bersama, saling bantu kalo salah satu nya ada yang kesusahan, nemenin kalau mau kemana-mana.

terus yaudah saya cuma mendengarkan menurut saya itu adalah hak nya untuk mengungkap kan pendapat. tapi kalau kalian yang baca bertanya, bagaimana pandangan saya terhadap ldr? ya saya lihat nya ldr sama aja dengan hubungan pacaran yang lain.


saya ngomong begini bukan karna saya sedang menjalani ldr dan mencoba untuk meyakini diri sendiri agar tidak was-was terhadap dia, tapi saya lebih melihat bahwa ldr adalah ajang belajar agar kita bisa mencintai kekurangan dalam hubungan kita.

kita bisa mencintai jarak, walaupun tiap akhir pekan yang kita lihat adalah pasangan yang berdekatan bisa saling jalan berdua sementara kita? tidak.

kita bisa lebih menerima keadaan, kalau saja dari salah satu dari kita ngga bisa berjumpa entah itu karna ada kesibukan lain atau apapun.

kita bisa lebih “kenal” sama hubungan kita sendiri, karna saat ldr banyak waktu buat kita sendiri tanpa pasangan dan bisa jadi moment buat mikir sebenarnya hubungan ini bakal kayak gimana.

melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengubah perspective orang mengenai ldr. saya ingin orang-orang mulai mau menerima ldr dan mengenyampingkan ketakutan-ketakutan mereka kalau ldr itu sarat akan makna “hubungan yang ujung-ujung nya gagal”

saya mau orang-orang percaya bahwa ldr, sama hal nya dengan hubungan yang lain. patut di perjuangkan walaupun kedua orang dari pasangan tersebut tidak bisa terus-terusan bersama :)

lagipula kalau kita terus memikirkan keburukan dari ldr, toh saya yakin semua hubungan memang punya masalah nya masing-masing. pasangan ldr yang bermasalah dengan jarak, pasangan yang berdekatan bermasalah dengan rasa bosan, pasangan yang beda agama bermasalah dengan keyakinan.

-semua hubungan pasti punya jalan masalah nya masing-masing

kini, hanya tinggal kembali dari pasangan itu sendiri. mau berkutat terus dengan rasa takut dan khawatir berlebihan atau tetap ingin bersama-sama sampai akhirnya melewati hal itu.

“bukan kah dari 5 ketakutan yang kita punya, akhirnya benar-benar terjadi hanya 1 atau 2? atau mungkin tidak terjadi sama sekali?”

jadi untuk apa kita menyimpan semua ketakutan tersebut?

Like what you read? Give Puan kelana a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.