5 Kesalahan Saat Mulai Belajar Membuat Game

sumber gambar : http://www.gamesparks.com/

Saat ini, istilah indie dan startup semakin ngetren di masyarakat. Banyak mahasiswa fresh graduate yang mulai membangun startup bersama teman semasa kuliahnya. Tidak mau kalah, mulai bermunculan juga program-program inkubasi maupun kompetisi yang dapat memacu semangat mereka untuk terus berkarya.

Salah satu bidang teknologi yang terkena angin segar ini tentu saja adalah game development. Menurut saya, dunia gamedev adalah salah satu bidang yang paling diminati, terutama karena menjamurnya gadget di kalangan anak-anak, sehingga mereka bisa main game dan bermimpi pengen bisa bikin yang seperti itu. Sekarang bermunculan kok, anak-anak umur SD-SMP yang sudah jago coding. Indonesia tentu tidak ketinggalan. Sebagai admin salah satu group gamedev, setiap hari saya bisa approve 10–20 request bergabung. Walaupun yah.. beberapa dari mereka ‘cuma’ mampir mau ngerjain tugas akhir. Masalahnya, sepertinya kok orang orang ini tidak tau harus mulai dari mana. Berikut saya sampaikan beberapa masalah yang muncul, selama saya jadi silent reader di beberapa group gamedev :

1. BLANK DAN BANYAK TANYA

Salah satu pertanyaan newbie yang paling sering ditanyakan pas pertamakali gabung adalah,

“gan, kalau download ******* (nyebut nama engine) di mana ya? ”

Ya ampuun.. pertanyaan macam ini selalu bikin facepalm. Menurut saya sih, itu pertanyaan yang gak mutu. Tinggal googling pasti ketemu kok.
 Orang-orang ini kalau saya perhatikan, cenderung bakalan ‘menghantui’ group itu dengan nyepam banyak pertanyaan. Menurut saya kok, mereka susah dididik. Pertanyaan yang dipost (lagi-lagi) sama gak mutunya. Udah sering ditanyakan, gak baca FAQ, source code dan tutorial juga segudang di situs resminya.

Karena pertanyaannya annoying, ujung-ujungnya gak kejawab, terus posting lagi sambil ngeluarin jurus “maaf saya newbie”, “tolong banget gan”, dan mulai menyembah-nyembah mastah. Please… kalau pertanyaanmu pengen dijawab, tolong jangan cuma bilang “gan ini kenapa ya kok eror” atau “aku mau bikin ini caranya gimana”. Cari tau dulu sendiri masalahnya, GOOGLING, dan yang paling penting, tanya yang spesifik. Ini belum ngomongin postingan yang sopan atau enggak lho.

“gan ini kenapa ya kok eror ”
Gak tau. Gak tau apa yang kamu lakuin, gak tau isi codingmu. Banyak kemungkinan.

“gan mau bikin RPG caranya gimana? Please masih newbie”
* krik.. krik..* 
sepi gak ada yang mau jelasin segitu panjangnya.

Ada lagi pertanyaan yang menurut saya nosense, gak tau tujuannya apa.

“Kalian bikin game pakai apa? Kalau saya GameMaker”

NJUK NGOPOO… ???!!

Oke balik ke topik,
Saran saya sih, kalau mau tanya error atau game gak sesuai keinginan, provide juga source code. Misal :

“gan ini kok gak bisa kenapa ya, aku udah ngelakuin ini, tapi kok hasilnya gini”

Lebih baik lagi kalau ada source codenya. Tapi kalau takut plagiat, bisa share link gamenya yang eror biar dimainkan, bisa juga gif atau video. 
Pertanyaan “gan mau bikin RPG”.. Em.. gak tau mau jawab apa. Mending dikerucutkan lagi. Bisa tanya :
“gan aku mau bikin ini, udah implement ini tapi kurang bagian ini. Ada saran gak cara bikinnya gimana?”
Pertanyaan semacam ini menurut saya sudah cukup bagus dan cukup ‘memikat’ orang lain untuk membalas.

2. KEBANYAKAN MIMPI

Seperti yang saya bilang di atas, ketertarikan membuat game berawal dari hobi memainkannya. Dan kalau udah sering main ke rental PS atau game online, yang dibayang-bayang pasti juga pengen bikin seperti itu. Apalah daya ketika cuma berbekal mimpi, akhirnya muncul pertanyaan seperti permasalahan di nomor satu.
Banyak juga yang langsung bikin pengumuman dan recruitment di di group yang lebih besar.

“Ane sama satu temen ane pengen bikin game online MMO 3D yang punya fitur bla bla bla.. nanti juga bisa bla bla. Karena baru berdua, bagi agan2 yang minat gabung bisa PM”

Wow…Terus ditanya orang
“Ente jadi apanya?” || “Kita yang desain gamenya”
“Udah pernah bikin project serupa?” || “Belum ini yang pertama kali”
“Masih SMP/SMA ya?” || “iya”
“Ada GDD nya?” || “GDD itu apa ya?”
“pembayarannya gimana?” || “Nanti bisa diatur / bagi hasil waktu gamenya sukses”

See how ridiculous this sound? (Edit : Mungkin enggak kalau seumuran).
Postingan kek gini ujung-ujungnya cuma satu : ceramah.

Ayolah.. kalau belum punya pengalaman coba dulu bikin game kecil-kecilan. Bikin Flappy Bird, Pong, atau game-game lain yang sederhana. Kalau bisa, baru naik ke tahap selanjutnya. Step by step lah. Bangun rumah harus ada pondasinya dulu. Game kecil-kecilan juga bisa sukses kok. Yang penting bisa bikin mekanik game dulu, baru ngomongin fitur dan skala.

3. SOMBONG

Sepertinya hal ini cukup umum ketika kamu membuat game dengan engine tanpa coding seperti C2 atau GameMaker. Baru satu game langsung merasa mampu, dewa, paling hebat sendiri. Itu cuma ilusi. Memang secara output hasilnya hamper sejajar. Namun secara proses dan pengetahuan, ilmu yang kamu miliki masih cetek. Mungkin juga hampir nol kalau kamu kebanyakan tanya (lihat poin no 1).

4. MATA DUITAN

Emang benar banyak yang tertarik bikin game karena suka makin game. Sedihnya, semakin lama motifnya bergeser untuk mencari keuntungan. Belum apa apa sudah tanya cara dapetin duit, tanya pendapatan, tanya cara pasang iklan. Memang tidak salah, tapi tidak juga benar. Menurut saya yang harus kamu kejar adalah bagaimana cara menciptakan fun di dalam game, cara mendesain antarmuka, lalu uang akan mengikuti. Cukup pamerin ke keluarga dan temen-temen, minta feedbacknya.

5. TERLALU MENDEWAKAN ENGINE

Tahun lalu di salah satu program stasiun TV .NET (gak tau namanya), pernah ditayangkin Sarah Sechan wawancara anak umur 10 tahun yang bikin game pakai RPG Maker. Buat yang belum tau, videonya bisa dilihat di youtube

Waktu beritanya booming, beberapa group gamedev rame pada ngomongin ini. Ada satu posting di group GameMaker yang tak ingat betul. Lupa persisnya sih, tapi intinya bilang gini :

“Masuk TV vrooh… :v
Padahal RPG Maker kan gampang :v”

Yang komentar juga kurang lebih sama. Mungkin diperhalus pakai joke atau emoticon, tapi kelihatan kalau banyak yang miring, “pasti ada koneksi”, “pakai asset bawaan”. Dari komentarnya, mereka yang menggunakan engine yang lebih sulit seakan-akan bilang,

“itu cuma RPG Maker! Sini sini lihat gue pakai Unity, Game Maker, gue lebih hebat dari dia. Sini-sini wawancarai aku!”

MEREKA IRI.

“Harusnya aku yang dinotice”. “Harusnya aku yang masuk TV.” 
Padahal penggunaan engine gak memberi pengaruh apa-apa ke dalam game. Iya, mungkin peforma dan kemudahan. Tapi konsumen gak memainkan / beli game buatanmu, simply karena dibuat pakai Unity. Gak. Tapi dari hal yang lebih realistis seperti cerita, gameplay, art, dan lain-lain. Ibarat beli gorengan, pernahkah kamu tanya digoreng pakai minyak merk apa? Pasti tidak. Kamu beli, atau bahkan langganan, karena memang enak, tempatnya bersih, etc.

Lagipula, RPG Maker eksis kok. Bahkan belum lama ini ngeluarin engine baru yang bisa dipakai untuk multiplatform. Bagi yang belum tau, bisa lihat trailernya di sini :

KESIMPULAN

Kalau kamu termasuk di salah satu hal yang tak sebut di atas. Semoga kamu mengerti. Kenapa saya bilang begini?

Supaya kamu punya tujuan yang jelas, dan gak mengejar sesuatu yang memang tidak perlu. Memaksakan diri belajar Unity karena canggih dan mewah, bukan karena memang mampu.

Atau belajar cukup lama tapi skill kok gak nambah-nambah.
Belajar dulu logika pemrograman, baru belajar mencari uang (atau sebaliknya).