Anak Rantau Tak Parau

Sebutkan 3 kata yang mewakilkan deskripsi mengenai anak rantau!

Belajar, Sabar, Hemat

Itu 3 kata yang spontan terlintas dalam pikiran saya. Apa 3 kata versimu? Tulis di kolom komentar ya! :)

Belajar

Anak rantau itu harus selalu belajar, ia tak boleh enggan. Biar kutebak, yang paling kau tahu pasti belajar beradaptasi dengan lingkungan baru? Memang betul. Setiap hari ia harus melakukan hal itu. Ia harus belajar bagaimana berusaha menjadi seseorang yang bisa keluarganya banggakan saat ia pulang. Dan yang paling berharga adalah ia harus belajar bagaimana kerasnya kehidupan saat ia berada jauh dari rumah. Karena ranah rantau adalah sesungguh-sungguhnya kehidupan.

Putar balik waktu saat saya adalah seorang anak rantau selama tiga tahun. Tahun ketiga adalah tahun terberat saya menyandang status sosial ini. Menjalani hari-hari sebagai anak rantau sekaligus mahasiswi tingkat akhir di satu universitas negeri di Kota Hujan adalah hal yang tidak mudah! Apalagi saat itu berbarengan dengan datangnya Bulan Ramadhan.

Padahal saat saya kecil dulu, Pak Ustadz sering berkata, “Jangan menangis saat Bulan Ramadhan. Nanti pahala puasanya berkurang.” Ya, kutipan itu yang menjadi tameng bagi saya untuk tidak menangis selama Bulan Ramadhan, maklum, anak ini cengeng dulunya.

Tetapi menangis selalu menjadi menu andalan sebelum berbuka dan setelah sahur. Yang artinya, saya sudah mengurangi pahala puasa saya selama satu bulan. Selama itu.

Dan sekarang, saat saya sudah kembali ke rumah, saat alhamdulillah saya diberi kesempatan lagi oleh Tuhan untuk bertemu dengan Bulan Ramadhan, saya merasa sangat amat bersyukur. Masyaallah, betapa nikmat kebahagiaan yang Allah beri. Bulan Ramadhan dan keluarga.

Menjadi mahasiswi tingkat akhir di Bulan Ramadhan menjadikan saya individu yang begitu lelah tiada ampun. Saya harus menahan diri untuk tidak pulang, padahal dua tahun sebelumnya, paling tidak puasa hari pertama bisa saya lalui bersama keluarga. Jika ingat berbagai ujian yang saya lalui kemarin, saya ingin menangis kembali. Ternyata Ramadhan bersama keluarga adalah hal yang paling mengharukan. Kau tidak akan pernah merasakannya apabila kau tidak belajar menjadi anak rantau. Bahwa kesendirian di ranah asing dengan berbagai ujian kehidupan yang kau lalui akan selalu mendewasakanmu. Akan selalu membuatmu bersyukur atas hidup yang sebelumnya telah Tuhan beri untukmu. Ternyata tidak ada yang lebih indah selain Keluarga & Rumah. Masyaallah…

Berbahagialah dengan keluargamu selama itu masih bisa. Buatlah banyak waktu berharga bersama mereka. Karena kau tak akan pernah tahu bagaimana cara Tuhan memisahkan kebahagiaan itu nanti.

Sabar

Segala yang terjadi dalam hidupku ini adalah sebuah misteri illahi. Perihnya cobaan hanya ujian kehidupan.

Ya, itu adalah penggalan lirik lagu Misteri Illahi yang dinyanyikan Ari Lasso. Larik lirik tersebut yang selalu menjadi pengingat bagi saya untuk bersabar. “Sabar, pulanglah membawa kabar bahagia untuk orang tua.” otakku mengingatnya. “Sabar, peluklah keluarga dalam doa.” Masyaallah :(

Hemat

Beberapa teman saya menghabiskan banyak uang. Tetapi tidak untuk saya. Dididik oleh keluarga berkecukupan tidak lantas membuat saya terlena. Orang tua hanya memberikan uang per bulan secukupnya bagi saya untuk memenuhi kebutuhan hidup selama menempuh pendidikan. Kadang saya merasa sulit, karena di tahun ketiga, tingkat kebutuhan pengeluaran uang tidak sama dengan dua tahun sebelumnya. Orang tua saya hanya menambah lima persen dari uang yang biasa saya terima per bulan. Alhamdulillah.

Oleh sebab itu anak rantau harus berhemat. Hemat pangkal kaya. Setelah selesai menyandang gelar anak rantau, insyaallah Tuhan tetap membantu kami istiqomah untuk berhemat. Karena meskipun kental dengan anak rantau, hidup berhebat adalah hal yang dianjurkan dalam kebaikan. Bukankah begitu? :)

Hei, anak rantau tak parau. Tak perlu gamang. Tuhan selalu di hati. Tak ada jarak. Siapa yang anak rantau? Mari berjuang! :)