“Orang Baik Tidak Akan Berjodoh dengan Orang yang Tidak Baik”
Kehidupan telah menemui Tejo pada kalimat di atas. Kehidupan berkali-kali meletakkan Tejo pada keadaan seperti ini: tidak dibersamakan pada orang yang ia kasihi. Dalam hati Tejo bertanya, adakah kesalahan fatal ia lakukan terhadap kekasih-kekasihnya dahulu? Hingga akhirnya Tejo mendengar ucapan seseorang di tempat umum saat Tejo berdiri di sampingnya,
“Tuhan tidak akan pernah mempersatukan kebaikan dengan keburukan. Ia akan berusaha keras memisahkan mereka yang tidak berjodoh karena kebaikan dan keburukan. Bahkan saat mereka telah menikah, bisa saja terjadi perceraian. Dan tak disatukannya kamu dengannya, bukan berarti kamu tidak baik, mungkin saja kamu dengannya tidak akan pernah bisa menjadi lebih baik jika bersama.”
Rupaya orang itu tengah berbicara dengan temannya. Tejo mencoba mencari tahu siapa yang berbicara saat kalimat itu berakhir.
Hari ini akan menjadi hari yang panjang, batin Tejo.
Ia ingat, terakhir kali ia menjalin hubungan, mantan kekasihnya bukanlah orang yang suportif. Ia bahkan hampir selalu kontra dengan pilihan hidup Tejo, padahal katanya di balik pria sukses selalu ada seorang wanita hebat. Mantan kekasihnya itu juga seorang yang manja, ia ingat betul bagaimana ia selalu merengek saat Tejo tak memberi kabar bahkan hanya hitungan jam. Dan ia gagal mempertahankan hubungannya dengan wanita itu. Dan yang lebih parahnya lagi, Tejo tidak akan menjadi segalau ini jika wanita itu tidak meninggalkannya untuk menikah dengan pria lain. Hingga akhirnya Tejo menyadari, “Ah apa yang sudah wanita itu lakukan hingga menjadikanku selemah ini? Bangkitlah, langit masih biru.”
Dan di sinilah Tejo berdiri, ia terus berusaha memantaskan diri untuk jodohnya kelak. Bagi seorang pria, memantaskan diri bukanlah hal yang mudah, ia perlu mempersiapkan segalanya. Pernikahan bukanlah hal yang mudah, setidaknya Tejo sudah tahu, di mana ia akan bernaung kelak bersama istrinya. Itu sebabnya Tejo bekerja keras membating tulang. Tejo yakin, Tuhan akan menggantikannya wanita yang jauh lebih baik daripada mantan kekasihnya itu.
Tidak hanya terjadi pada manusia dengan manusia, perjodohan kebaikan dengan keburukan juga terjadi pada manusia dengan keadaan. Seseorang mungkin saja tidak berjodoh dengan suatu pekerjaan karena waktu yang tidak tepat, “Belum saatnya,” kata Tuhan. Bisa saja.
Tuhan memiliki 1001 cara untuk memisahkan mereka yang tidak berjodoh, lantas mengapa masih merisaukan cara Tuhan untuk mempersatukan mereka yang berjodoh, bahkan dengan pekerjaan mereka.
Maka, yakinlah, jika saat ini kau belum dipertemukan dengan jodohmu, cukup pastikan bahwa saat ini dirimu memang pribadi yang baik. Jika ia pergi meninggalkanmu, mungkin bukan dia lah yang terbaik yang akan Tuhan berikan sebagai pendamping hidupmu kelak setiap hari di bawah atap yang sama. Jika kau memang sudah sebaik itu, tetapi ia tetap pergi, yakinlah bahwa kalian tidak akan pernah menjadi lebih baik ketika bersama. Bukankah menyedihkan, jika orang yang bersabar dalam ridho Tuhan, dibersamakan dengan orang yang tak pernah mengerti dan sulit melakukan perubahan?
Mulailah menyadari, bahwa di dalam suatu hubungan perlu adanya perbaikan. Menginginkan kesempurnaan diperbolehkan, tetapi tetap tertawa bersama saat terjadi kegagalan indah kan? Karena hubungan itu saling pengertian bukan penuh tuntutan. ☺
Begitulah hari Tejo berjalan. Ia hanya yakin, Tuhan memiliki rencana indah di balik kehidupan Tejo sekarang. Cukupkan syukur dan jangan menjadi kufur.
