Ketika Harus Memilih Menjadi Indonesia

Di siang hari yang panas selepas hujan gerimis, sayup-sayup terdengar alunan lagu Indonesia Tanah Air Beta. Ya, besok tangal 17 Agustus, hari kemerdekaan RI yang ke-71. Mungkin Panitia Perayaan Hari Kemerdekaan RI Ke-71 di Kompleks Apartemen ini sedang melakukan sound check untuk acara besok.

Saya hentikan sejenak ketak ketuk di papan kunci, lalu hanyut menikmati melodi yang merangkai kata demi kata. Sedetik, seperti menikmati Adzan yang syahdu; tanpa hingar bingar sound system sengak dari puluhan masjid yang berlomba-lomba menyiarkan syiar sehingga lupa menghargai keheningan.


Kita sering lupa, di dalam hening kita mendengar lebih jelas, dan dari jarak jauh pula kita bisa melihat lebih dekat.


Lagu yang sama pernah dengan sukses membuat saya meneteskan air mata di depan komputer di meja kerja saya, di tengah-tengah jam kerja, di sebuah kantor di Sydney, Australia. Entah pertanda rindu atau keisengan iTunes menyelipkan lagu itu di sela-sela hentakan lagu-lagu DJ Shadow dan Cut Copy.

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa

Perlahan tetes demi tetes berkumpul di sekeliling mata. Kerlipan yang berusaha menghalaunya pergi justru mengumpulkan kehangatan yang menjalar ke muka dan belakang leher. Saya pejamkan mata dan membiarkannya meluncur bebas tanpa bisa saya tahan. Shit, ini lagi jam kerja woy! Saya berseru dalam hati sambil melipir ke kamar mandi.

Waktu itu mungkin sekitar tahun 2007, ketika seorang Senior Urban Designer di tim saya bertanya, “Why don’t you apply for Australian citizenship? With your skills it shouldn’t be too hard.” Ia berasal dari India dan saat itu bersama isterinya sedang menjalani proses untuk menjadi warga negara Australia.

Saya tidak menjawab saat itu, hanya bisa tersenyum. Sejujurnya di kepala saya pun masih berusaha untuk mendapatkan jawaban untuk pertanyaan itu. Tetapi alih-alih mendapat jawaban, malah muncul pertanyaan baru di kepala saya, “Kenapa saya harus pindah kewarganegaraan?”

Seperti bisa mengerti isi kepala saya, atau mungkin raut muka saya menunjukkan apa yang yang ada di pikiran saya, ia pun melanjutkan, “It really doesn’t matter. You are always going to be an Indonesian, at heart and as a person. Pursuing an Australian citizenship does not mean you are less Indonesian, but you must also think of your future.”

Ia berhenti sampai di situ, mungkin karena dahi saya semakin keriting dipenuhi pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul ketika ia menyebutkan “Indonesian” dan “future”.


Makhluk apa itu “Indonesian”?

Sebuah konsep abstrak yang dibentuk oleh kenangan, impian, ilusi, dan romantisme tentang menjadi bagian dari sebuah bangsa “besar”. Ya, besar dengan tanda kutip, karena kata besar itu sendiri multitafsir. Saya coba cari di KBBI, dan penerapannya dalam konteks sebuah konsep bernama Indonesia.

besar/be·sar/ a
1 lebih dari ukuran sedang; lawan dari kecil: batang kayu ini sangat — sehingga tidak sanggup tanganku memeluknya;
2 tinggi dan gemuk: badannya — ;
3 luas; tidak sempit: rumahnya — ;
4 lebar: sungai itu sangat — ;
5 ki hebat; mulia; berkuasa: jika menjadi orang — , jangan suka sombong;
6 banyak; tidak sedikit (tentang jumlah): gajinya — ;
7 menjadi dewasa: ia lahir di Surakarta, tetapi — di Jakarta;
8 lebih dewasa daripada sebelumnya: sekarang ia sudah — ;
9 penting (berguna) sekali: ajaran agama itu — artinya bagi pembentukan watak; — kayu — bahannya ( — periuk — keraknya), pb banyak penghasilan banyak pula belanjanya;

Saya rasa semua poin di atas bisa menggambarkan Indonesia sebagai bangsa yang “besar”.

besar/be·sar/ a
1 lebih dari ukuran sedang; lawan dari kecil: Indonesia itu Negara yang — perlu 20 jam penerbangan dengan 3 perhentian untuk suatu perjalanan dari Sabang sampai Merauke.
2 tinggi dan gemuk: jajaran birokrasinya —
3 luas; tidak sempit: wilayahnya
4 lebar: permasalahannya bisa me
5 ki hebat; mulia; berkuasa: bangsa yang — adalah bangsa yang ______ (silakan isi sendiri)
6 banyak; tidak sedikit (tentang jumlah): jumlah penduduknya — ; keragaman budaya/hayati/bahasa/lain-lain-nya jumlahnya—
7 menjadi dewasa: Indonesia lahir dengan semangat bersama untuk menjadi —
8 lebih dewasa daripada sebelumnya: ketika Indonesia bisa menatap masa depan tanpa beban masa lalu, itulah jati diri bangsa yang —
9 penting (berguna) sekali: Indonesia memiliki peran — dalam kancah perekonomian/buadaya/politik dunia

Untuk saya, saat itu di tahun 2007 dan sampai sepuluh tahun kemudian di hari ini, menjadi Indonesia adalah sebuah konsep yang masih relevan di masa depan saya.

Masih banyak kekurangannya, seperti keluh kesah beberapa kawan untuk pengurusan visa kerja atau visa turis ke Negara lain; “Duh, ribet deh mau jalan-jalan seminggu ngurusinnya tiga bulan sendiri. Coba pake paspor Singapur kan gak perlu ribet ngurus visa.

Lalu mengenai keruwetan birokrasi, program pemerintah yang makjleb jegagig (Wait, what? Full day school?), banyaknya pungli, korupsi kecil-kecilan di sekitar kita, seperti premotor yang santai seliweran di trotoar.

Lalu ketika dipertanyakan apa itu menjadi Indonesia, bisakah kita menjawabnya?

Indonesia adalah kita semua; semut pekerja di pencakar langit di Jakarta, buruh-buruh pelabuhan di Sorong, atlet-atlet yang sedang berlaga di Olympiade Rio, anak-anak jalanan yang terlupakan, peneliti-peneliti di CERN, dan juga pemotor yang santai seliweran di trotoar yang sering hampir saya lempar botol.

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Masa depan saya ada di Indonesia, dan masa depan Indonesia ada di tangan saya. Ikatan kasat mata itu tidak akan pernah sepenuhnya hilang, sejauh apapun saya pergi.

Tidak perlu meributkan pilihan orang lain. Ketika ia memilih merangkul kenangan, impian, ilusi, dan romantisme yang berbeda selain menjadi Indonesia, mungkin ia punya alasan sendiri atas pilihan yang menurutnya terbaik untuknya. Mungkin, suatu hari di musim panas, iTunes akan menyelipkan lagu Indonesia Tanah Air Beta, dan air mata kerinduan itu akan jatuh dan memanggilnya untuk pulang.

Ketika hari itu datang, akankah ada jalan pulang?


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Mohon bantu merekomendasikan kisah ini supaya kita bisa saling berbagi semangat (klik ikon hati hijau di bawah) :)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.