Menyapa dan Bercerita

puris
puris
Sep 8, 2018 · 3 min read

Menyapa yang lama tidak dijumpa

hai! apa kabar? senang rasanya bisa menyapa medium kembali.

Ini adalah kali pertama aku menulis lagi setelah sekian lama berhenti. Bukan tanpa alasan, banyak sekali yang jadi faktor kenapa bisa selama ini aku tidak menyentuh blog, medium, atau bahkan instagram, tempat orang-orang membuat caption. Pertama, karena aku sudah lama tidak menggunakan laptop, karena tidak punya. Dulu sempat punya, netbook merk Toshiba yang dibelikan ayah Waktu SMA, tapi sudah jadi milik orang lain.

Kalau kemarin aku masih mengisi blog dengan banyak tulisan, itu karena aku masih aktif di kampus dan punya banyak kesempatan memakai komputer kampus. Setelah sidang seminar proposal selesai, kuliahku mandheg dan aku tidak pernah berkunjung sama sekali ke perpustakaan.

Aku bekerja paruh waktu untuk mencari uang tambahan, karena di semester akhir ini sebagian biaya hidup sudah kutanggung sendiri. Syukurnya, ada uang gaji yang bisa dialokasikan untuk membeli laptop baru, yang tengah kupakai saat ini. Semoga saja ada pemasukan tambahan untuk ditabung buat membeli HP dan kamera baru, hehe.

Itu baru alasan pertama, alasan lainnya adalah salah satu hal yang ingin aku bagi dan jelaskan kepada banyak orang melalui tulisan ini.

Tekanan dan kecemasan

Selama berbulan-bulan, aku terperangkap dalam pola kehidupan yang mengerikan. Mengapa demikian? Akupun sudah lupa bagaimana awal mulanya, tapi yang jelas, aku menjalani hari yang berat sebagai seorang manusia berusia 21 tahun dengan peristiwa psikologis yang cukup dramatis.

Belakangan terakhir aku mengalami stres tingkat berat. Semua orang mungkin punya masa lalu yang tidak bisa dilupakan, baik itu pengalaman bagus maupun tidak bagus. Tapi hanya beberapa orang yang memiliki trauma terhadap masa lalunya.

Trauma sebenarnya bisa tidak muncul dalam kehidupan seseorang, hanya saja jika ada beberapa pemicu yang berasosiasi kuat dengan trauma tersebut, kemungkinan besar trauma akan muncul, dan berpotensi mengganggu stabilitas emosi seseorang.

Begitupun aku, memiliki pengalaman traumatis tentang tidak diterima dalam kelompok karena berbeda cara berpikir dan pandang.

Iya, sesimpel dan sereceh itulah traumaku.

Namun, prosesnya panjang dan menguat. Membuatku semakin keras meyakini bahwa, aku adalah orang yang beda, yang sulit diterima orang lain, dan tak bisa berbaur layaknya orang-orang normal.

Maka dari situ, aku sering merasa tertekan. Ada tugas yang belum selesai, aku murung dan mudah sekali marah, dalam kepalaku hanya ada kalimat-kalimat negatif dan pesimistis. Aku merasa lebih baik tidak mengerjakannya sama sekali, dan tentu saja itu tidak membuatnya menjadi lebih baik, namun sebaliknya.

Stress seperti itu berlangsung tidak hanya sehari dua hari, tapi berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Lalu setelah berbulan-bulan melewati hari yang suram, apakah sudah selesai sampai situ?

Tidak.

Stress yang kualami semakin menjadi-jadi, pernah suatu kali aku ingin mencari kegiatan agar waktuku terisi, aku mendaftarkan diri menjadi field worker sebuah acara yang berlangsung hampir 3 minggu.

Tapi yang kemudian terjadi adalah, selama 3 minggu itu, setiap kali aku memulai hari sebagai field worker, dadaku sesak, pikiranku kacau, dan seringkali gemetar. Aku cemas berlebihan terhadap hal yang sebenarnya biasa-biasa saja.

Kecemasan itu datang hanya karena aku belum selesai dengan tekanan-tekanan yang terdahulu muncul. Maka selama itulah aku tidak bisa sedikitpun menikmati kegiatanku, aku malah tersiksa sekali olehnya.

Akibatnya, aku seperti monster di mata rekan-rekan kerjaku. Tidak berkenalan dengan siapapun, tidak berbicara kepada siapapun, dan selalu memisahkan diri dari perkumpulan.

Yang menyedihkan adalah, kenyataan seperti itu membuatku tertekan semakin dalam dan menyakitkan.

Beristirahat Sejenak

Lalu pada satu titik –setelah sekian lama- aku sudah mulai kelelahan dengan diriku sendiri. “Aku ingin menyerah sajalah” “Aku sudah tidak kuat lagi” begitu pikirku berulang-ulang. Aku tidak memikirkan apa-apa selain ingin berhenti saja menjadi manusia di bumi ini.

Mengapa semenyiksa ini untuk menjadi manusia, atau sederhananya, mengapa seberat dan sesakit ini untuk menjadi seorang Nindya. Andai misalnya namaku Sophie atau Sinta, apakah akan seperti ini juga ceritanya?

Saking lelahnya, aku sampai berkata pada diriku sendiri, “Nin, kamu perlu beristirahat”. Padahal, terkadang saking stresnya, aku jarang sekali melakukan kegiatan sehari-hari.

Tapi sesaat aku bergumam, ada benarnya juga, aku mungkin sangat perlu beristirahat. Jiwaku perlu rehat sejenak, ia disika berkali-kali oleh tekanan dan kecemasan, yang kelelahan bukan aku, tapi jiwaku. Yang tersiksa bukan aku, tapi jiwaku.

Jika yang kosong adalah aku, maka kegiatan yang kucari dan kuikuti seharusnya sudah mengisi diriku. Tapi pada kenyataannya, jiwakulah yang butuh diisi.

Maka aku beristirahat sejenak. Memulihkan keadaan sebisa dan semampuku. Entah dengan membaca, berdoa, berharap, atau bercerita melalui tulisan ini.

puris

Written by

puris

ya begitulah kira-kira