Obrolan Semasa Rehat Di Kosan

Bersama: Afif Anwar (Abah)

Selepas diskusi kecil di kampusku sebelumnya, niatnya aku ingin beristirahat dikosan dengan ikut bersama kawanku agar bisa naik motor untuk menghemat tenaga.

Sepanjang dari tempat kami rehat tadi menuju parkiran, obrolan terasa masih ringan-ringan saja, namun sesampainya kita di parkiran — hingga di perjalanan menuju kosan, kawanku mulai bercerita bahwa ia sedang dihadapkan dengan project terbesar bidangnya — yaitu launching pembuatan buku. Mulanya aku sendiri hanya merespon biasa saja, namun sesampainya dikosan, obrolan berpindah alur dari yang tadinya kawanku yang bercerita menjadi aku yang bercerita. Bahasan kali ini cukup sederhana sebenarnya, yaitu

-MENULIS- (Hasil Diskusi yang Mendorong Aku Menulis Ini)

Karena pada dasarnya, aku memang mempunyai keinginan untuk menulis, lantas cerita yang dikemukakan kawanku tadi seolah mengingatkanku akan hal itu lagi.

“Apasih tulisan yang memang mempunyai cukup bahan, dan bisa dibentuk menjadi sebuah buku?” Menurutku adalah kumpulan dari hasil semua obrolan kita bersama siapapun dan tentang apapun. Karena, bukan hanya kita akan mudah dalam proses penulisan, namun hal tersebut akan dirasa bermanfaat khususnya bagi diri sendiri.

Jika kita hanya pergi kuliah, ngobrol, lantas pulang dan beristirahat ataupun bersenang-senang terlebih dahulu, lantas mana yang bisa membuahkan hasil atau karya selain karena tuntutan perkuliahan?

Jawabannya adalah obrolan kita sehari-hari, karena secara tanpa sadar, kemanapun arah obrolan pembicaraan yang kita lakukan sehari-hari, menurutku tidak ada yang tidak bermanfaat, bahkan obrolan dengan umpatan kalimat kasar ataupun candaan sebuah gosip pun bisa bermanfaat jika diambil sisi positifnya.

Lalu, kita tuliskan hal yang bermanfaat dan sisi positifnya untuk menjadi referensi bahan tulisan yang akan kita buat.

Mengutip dari perkataan seseorang dalam karyanya di media sosial Youtube dengan judul “Aksara Betha” , “Janganlah kita terlena oleh Rehat Sekejap tanpa ada kemauan untuk beranjak”. Maka apa yang aku ambil dari perkataan tersebut adalah, Rehatlah, namun persiapkan dirimu sesegera mungkin untuk beranjak lebih bermanfaat baik untuk diri sendiri, atau bahkan untuk orang lain.

Tulis apa yang memang ingin kita tuliskan, jangan pernah istirahatkan sebuah kata untuk menjadi sebuah untaian kalimat. Maka, pada akhirnya tulisanmu kelak bisa berguna baik untukmu, ataupun yang membaca tulisanmu.

Simple? Yaps. Maka jangan pernah letih untuk menulis.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.