Sajak Liar Pada Kawanku
Merintih lemas seharian ini
Sedih sesak bahwa kusadari
Diri ini tak mampu lakukan apa apa
Ku hanya didiamkan tanpa bicara
Beratus hingga beribu
Kuawali tanyaku dengan mengapa engkau
Perihal tentang saudaramu seagamamu
Yang buat, ku gusar tak menentu
Kawanku para pemilik ponsel pintar
Yang bilangnya engkau seagama
Yang bicara begitu benar
Yang katanya bersaudara
Mengapa engkau
Lebih pentingkan idolamu
Yang tanpa sebab ia meninggal bunuh diri
Yang menjadi viral seisi bumi
Sedang saudaramu,
Rumah besar tuhanmu
Dirasuk,
Dirusak,
Tanpa ampun,
Dijejali rasa pilu yang menghimpun,
Membuat iblis bahagia
Menari-nari disekitarnya
Namun apa upayamu
Yang kau tuturkan dalam doamu
Di ponsel pintarmu
Hanyalah sebuah ungkapan duka
Itupun bukan terhadap mereka
Melainkan pada seorang tokoh musik ternama
Kritik ini bukan untuk menyalahkanmu
Duhai kawanku
Mungkin kau hanya lupa
Terlalu buta akan gemerlap harta dunia
Serta entah
Atau juga ditambah
Rasa gusar diri ini menuntunku untuk bersikap seperti apa
karena diluar sedang banyak terjadi apa-apa
Yang tanpa sadar
Terkadang akupun sempat tersasar
Merasa benar
Namun lupa diri hingga buta tuli terhadap sekitar
Lantas siapa kawan?
Yang harus disalahkan?
Apalagi yang harus kutanyakan?
Bersujudlah diri ini dihadapanNya
Memohon ampun atas ketidaktahuan kami
Terlebih pada saudara kami disana
Mengucap do’a yang mampu kulakukan saat ini
Kelak semoga sajak ini mampu kurenungkan lebih giat
Menopang diri ini tuk lebih kuat
Menyadarkan diri ini ‘tuk lebih mendekat
Padanya sang pencipta
Sang Maha Segalanya
Ku ucap lagi kata maaf
Jika sajak ini dirasa telah menyinggungmu
Mungkin diri ini atau engkau sedang khilaf
Merasa benar, namun masih tidak menentu
Maka sajak liar ini
Kuhadirkan layaknya angin senja
Berlalu biasa saja
Namun siapa tahu dapat membekas dalam hati
-Bandung. Jumat, 21 Juli 2017-
