Ide ini hadir setelah sekian lama diri ini kesal, melihat setumpukan kertas yang sangat enggan ku buang. Isinya adalah tulisan bebasku yang tak tentu arah, tak memiliki tema berkelanjutan, dan banyaknya berisikan tentang curahan emosi jiwa.
Tak lama, terpikirkan oleh diri ini untuk ku taruh dalam bentuk catatan digital, bukan dengan tulisan bututku yang hanya beberapa makhluk yang dapat membacanya. Sebetulnya, amat sangat banyak tulisanku yang entah ku taruh dimana saja. Namun sepertinya perlu waktu yang cukup lama untuk mencari keseluruhannya.
Jadi, sebagai tapak mula mengawali tulisan-tulisan lainnya, kuhadirkan sekumpulan catatan dalam sobekan kertas ini menjadi ada dan tak sulit dicari nantinya.
1.
Jangan Pernah Berhenti Menulis
Karena suatu saat suara itu terdiamkan, hanyalah kata yang masih mampu berteriak.
Dawaimu dalam bersuara,
Piawaimu dalam berkata,
Cantumkan dalam sebuah tulisan,
Buat mereka indah,
Buat mereka tersampaikan,
Buat mereka direnungkan,
Karena suatu saat suara itu terdiamkan, hanyalah kata yang masih mampu berteriak.
2.
Dialog Hati dan Logika
Sempat hati mencari kepuasan, sesaat logika sedang mencari jalan keluar
Berbeda empat detik
Apa yang hati inginkan berlawanan dengan alur sebuah logika
Bertambah enam detik
Dalam perdebatan antara argumen keduanya
Hadirlah detik ke sebelas
Untuk pengambilan keputusan
Bahwa aku harus kembali padaNya
3.
Perjalanan
Berpetualanglah
Angkat kedua kakimu untuk berjalan
melepas belenggu beban
Tapakilah
Tinggalkan jejak langkah terdahulumu
dan ciptakan langkah baru
Lantas Percayalah
Ibunda alam kan jadi penuntun langkahmu
Yang mengubah melodi haru menjadi harmoni merdu
4.
Aduhai Alam
Dalam suaka yang terhening
Aku terhenti di belantara
Dibuai lembut Ibunda Alam
Seolah
Raga yang sedang kecewa ini
Ingin selalu meneduh dalam sejukMu
Luka dalam hati ini
Kan tertiupkan oleh hembusan anginMu
Hingga hal yang kau sisakan untukku
Hanyalah kebahagiaan hati
Untuk selalu hidup dalam AkarMu
5.
Pujangga Kata
Dalam syair-syairku yang tak tentu arah
Kusematkan kata beruntai penuh makna
Teruntuk Manusia Sejagad
Lihatlah sejenak
Buka matamu, fokuskan otakmu
Akan indahnya berpetualang merangkai kata
Dengan penuh kebebasan
Adanya kejujuran, kepolosan, dan kesedarhanaan
Duhai Manusia Sejagad
Aku tak akan pernah berhenti berpetualang
Hingga kata sulit dicari
Hingga kata telah mati
6.
Puisi Cinta
Aku bersanding
Dalam suaka yang terhening
Kau lambaikan tangan perlahan
Seraya dengan tambahan senyuman
Terbuai aku tak kuasa
Melayang berputar ke angkasa
Indah nian kian terasa
Nikmat cinta penuh romansa
7.
Nasihat
Jadikan telingamu tuli
Akan omongan perkataan menjatuhkan
Jadikan jalanmu buntu
Akan jalur sebuah kesesatan
Jangan jadikan taman langitmu
Dijejali iblis yang menari-nari kegirangan
Yang buat busuk akal fikiran
8.
Langit
Jelajahi langit itu!
Dimana engkau mampu terbang bersama angin
Membelah lapisan awan yang tampak seperti kabut biasa
Menyentuh bintang yang selalu engkau puja
Hingga akhirnya kaupun tahu
Bahwa langit enggan untuk binasa
Dan ia takkan mampu membinasakan
kekaguman yang kau rasakan
9.
Gelap dan Kata I
Percayalah kawan
Dalam gelapnya rupa dunia ini
Kata-katamu takkan pernah musnah
Selagi masih ada pena dan kertas
Sendu keluhanmu masih mampu tercurahkan
Karena rasa takkan pernah mati
Nyalakan lilin kecil dalam hatimu
dan kobarkan ia dalam gelap
Meski suara dibungkam
Tulisanmu takkan pernah binasa
10.
Gelap dan Kata II
Sekilas kulihat sepercik cahaya bintang
dalam gelapnya awan hitam itu
Tertiupkan angin
Pesan sang bintang mengudara tertangkap khayal
Membisik hening yang begitu banyak arti
yang buat aku tersadar
Bahwa dalam kondisi segelap apapun
Ia masih mampu membuat cahaya
11.
A
Segitiga yang diberi kaki
Berjalan menghampiri diri ini
Mencari pasangan untuk dapat menemukan makna
Karena layaknya manusia
Ia tak bisa hidup sendiri
Walau dituntut belajar mandiri
Aku rangkul “A” ini dengan kemandiriannya
Ku jajarkan ia bersama anak-anaknya
Aaaaaa!!
Maka ia menjadi sebuah teriakan
12.
Tanyaku Pada Pohon
Berteduhkan daunmu, kududuk pada akrmu
Kusentuh batang tubuhmu, hingga
Kutanyakan kepadamu
Apa kau tak pernah merasa bosan melindungi apa yang ada di bawahmu?
Dari terik panasnya matahari
Dari derasnya kucuran air hujan
Lalu, dengan senyumnya
Pohon itu berbisik
“Aku tidak seberapa,
Karena Tuhan diatas sana pun
Tak pernah letih untuk
Selalu melindungi
Apa yang ada dibawahnya”
13.
Melepas Emosi
Terhembuskan angin
Kutulis semua kata yang terlintas
Berharap angin kan membawanya terbang kian kemari
Menghapus emosi yang teralirkan oleh rasa
Melalui pena hitam dalam secarik kertas putih
Secarik kertas putih
Terisikan suara hati dan nyanyian burung
Yang enggan menatap nyata
Tertunduk ia dalam lamunan
Berkhayal ia menengadah ke langit
Kicaunya
Deraunya
Telah sampai dalam secarik kertas putih ini
14.
Kusapa Senja
Senja Melantun
Meski ia kini tak berwarna
Senja terlukis
Walau ia tertutup awan gelap
Gemuruh ia menggelegar
Pertanda malam kan turun hujan
Lampu kota mulai berkedip
Menghias senja yang kelabu
Tanpa sinarnya
Burung-burung tetap berdansa
Menghibur senja
Berharap malam takkan datang
15.
Bukan Sebuah Akhir
Sampai Jumpa Lagi
Tapak Mula adalah sebuah awal
dari nalarku yang tak tentu arah
Daripada menjadi usang dan tak berharga
Kusimpan setiap memoku disini
Jujur ini baru belum separuhnya dari seluruh catatanku
yang entah mereka bersembunyi dimana
Kelak kita berjumpa lagi
Kupersembahkan untukmu
Sebuah tulisan dari aku yang bebas
Untukmu duhai wadah
