Sekumpulan Catatan Dalam Sobekan Kertas

(Tapak Mula Aku Menulis Bebas)

Purna Kusumah
Jul 22, 2017 · 4 min read

Ide ini hadir setelah sekian lama diri ini kesal, melihat setumpukan kertas yang sangat enggan ku buang. Isinya adalah tulisan bebasku yang tak tentu arah, tak memiliki tema berkelanjutan, dan banyaknya berisikan tentang curahan emosi jiwa.

Tak lama, terpikirkan oleh diri ini untuk ku taruh dalam bentuk catatan digital, bukan dengan tulisan bututku yang hanya beberapa makhluk yang dapat membacanya. Sebetulnya, amat sangat banyak tulisanku yang entah ku taruh dimana saja. Namun sepertinya perlu waktu yang cukup lama untuk mencari keseluruhannya.

Jadi, sebagai tapak mula mengawali tulisan-tulisan lainnya, kuhadirkan sekumpulan catatan dalam sobekan kertas ini menjadi ada dan tak sulit dicari nantinya.

1.
Jangan Pernah Berhenti Menulis

Karena suatu saat suara itu terdiamkan, hanyalah kata yang masih mampu berteriak.

Dawaimu dalam bersuara,

Piawaimu dalam berkata,

Cantumkan dalam sebuah tulisan,

Buat mereka indah,

Buat mereka tersampaikan,

Buat mereka direnungkan,

Karena suatu saat suara itu terdiamkan, hanyalah kata yang masih mampu berteriak.


2.
Dialog Hati dan Logika

Sempat hati mencari kepuasan, sesaat logika sedang mencari jalan keluar

Berbeda empat detik

Apa yang hati inginkan berlawanan dengan alur sebuah logika

Bertambah enam detik

Dalam perdebatan antara argumen keduanya

Hadirlah detik ke sebelas

Untuk pengambilan keputusan

Bahwa aku harus kembali padaNya


3.
Perjalanan

Berpetualanglah

Angkat kedua kakimu untuk berjalan

melepas belenggu beban

Tapakilah

Tinggalkan jejak langkah terdahulumu

dan ciptakan langkah baru

Lantas Percayalah

Ibunda alam kan jadi penuntun langkahmu

Yang mengubah melodi haru menjadi harmoni merdu


4.
Aduhai Alam

Dalam suaka yang terhening

Aku terhenti di belantara

Dibuai lembut Ibunda Alam

Seolah

Raga yang sedang kecewa ini

Ingin selalu meneduh dalam sejukMu

Luka dalam hati ini

Kan tertiupkan oleh hembusan anginMu

Hingga hal yang kau sisakan untukku

Hanyalah kebahagiaan hati

Untuk selalu hidup dalam AkarMu


5.
Pujangga Kata

Dalam syair-syairku yang tak tentu arah

Kusematkan kata beruntai penuh makna

Teruntuk Manusia Sejagad

Lihatlah sejenak

Buka matamu, fokuskan otakmu

Akan indahnya berpetualang merangkai kata

Dengan penuh kebebasan

Adanya kejujuran, kepolosan, dan kesedarhanaan

Duhai Manusia Sejagad

Aku tak akan pernah berhenti berpetualang

Hingga kata sulit dicari

Hingga kata telah mati


6.
Puisi Cinta

Aku bersanding

Dalam suaka yang terhening

Kau lambaikan tangan perlahan

Seraya dengan tambahan senyuman

Terbuai aku tak kuasa

Melayang berputar ke angkasa

Indah nian kian terasa

Nikmat cinta penuh romansa


7.
Nasihat

Jadikan telingamu tuli

Akan omongan perkataan menjatuhkan

Jadikan jalanmu buntu

Akan jalur sebuah kesesatan

Jangan jadikan taman langitmu

Dijejali iblis yang menari-nari kegirangan

Yang buat busuk akal fikiran


8.
Langit

Jelajahi langit itu!

Dimana engkau mampu terbang bersama angin

Membelah lapisan awan yang tampak seperti kabut biasa

Menyentuh bintang yang selalu engkau puja

Hingga akhirnya kaupun tahu

Bahwa langit enggan untuk binasa

Dan ia takkan mampu membinasakan

kekaguman yang kau rasakan


9.
Gelap dan Kata I

Percayalah kawan

Dalam gelapnya rupa dunia ini

Kata-katamu takkan pernah musnah

Selagi masih ada pena dan kertas

Sendu keluhanmu masih mampu tercurahkan

Karena rasa takkan pernah mati

Nyalakan lilin kecil dalam hatimu

dan kobarkan ia dalam gelap

Meski suara dibungkam

Tulisanmu takkan pernah binasa


10.
Gelap dan Kata II

Sekilas kulihat sepercik cahaya bintang

dalam gelapnya awan hitam itu

Tertiupkan angin

Pesan sang bintang mengudara tertangkap khayal

Membisik hening yang begitu banyak arti

yang buat aku tersadar

Bahwa dalam kondisi segelap apapun

Ia masih mampu membuat cahaya


11.
A

Segitiga yang diberi kaki

Berjalan menghampiri diri ini

Mencari pasangan untuk dapat menemukan makna

Karena layaknya manusia

Ia tak bisa hidup sendiri

Walau dituntut belajar mandiri

Aku rangkul “A” ini dengan kemandiriannya

Ku jajarkan ia bersama anak-anaknya

Aaaaaa!!

Maka ia menjadi sebuah teriakan


12.
Tanyaku Pada Pohon

Berteduhkan daunmu, kududuk pada akrmu

Kusentuh batang tubuhmu, hingga

Kutanyakan kepadamu

Apa kau tak pernah merasa bosan melindungi apa yang ada di bawahmu?

Dari terik panasnya matahari

Dari derasnya kucuran air hujan

Lalu, dengan senyumnya

Pohon itu berbisik

“Aku tidak seberapa,

Karena Tuhan diatas sana pun

Tak pernah letih untuk

Selalu melindungi

Apa yang ada dibawahnya”


13.
Melepas Emosi

Terhembuskan angin

Kutulis semua kata yang terlintas

Berharap angin kan membawanya terbang kian kemari

Menghapus emosi yang teralirkan oleh rasa

Melalui pena hitam dalam secarik kertas putih

Secarik kertas putih

Terisikan suara hati dan nyanyian burung

Yang enggan menatap nyata

Tertunduk ia dalam lamunan

Berkhayal ia menengadah ke langit

Kicaunya

Deraunya

Telah sampai dalam secarik kertas putih ini


14.
Kusapa Senja

Senja Melantun

Meski ia kini tak berwarna

Senja terlukis

Walau ia tertutup awan gelap

Gemuruh ia menggelegar

Pertanda malam kan turun hujan

Lampu kota mulai berkedip

Menghias senja yang kelabu

Tanpa sinarnya

Burung-burung tetap berdansa

Menghibur senja

Berharap malam takkan datang


15.
Bukan Sebuah Akhir

Sampai Jumpa Lagi

Tapak Mula adalah sebuah awal

dari nalarku yang tak tentu arah

Daripada menjadi usang dan tak berharga

Kusimpan setiap memoku disini

Jujur ini baru belum separuhnya dari seluruh catatanku

yang entah mereka bersembunyi dimana

Kelak kita berjumpa lagi

Kupersembahkan untukmu

Sebuah tulisan dari aku yang bebas

Untukmu duhai wadah

Purna Kusumah

Written by

“Aku bermain dengan kata, biar buruk tak apalah”

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade