Jatuh cinta denganmu seperti hukuman dan rindu adalah seberat-beratnya kutukan

Rasanya, aku lebih suka menulis cerita daripada menjalaninya. Tak ada yang lebih baik daripada menuangkannya dalam lagu-lagu sunyi di sudut kamar, sementara hujan sedang bekerja diam-diam di luar sana. Atau mungkin tak ada lagi yang lebih menenangkan daripada mendengar kesunyian bertukar cerita dengan detak jam dinding yang terpancung namun tak pernah mati-mati.

Kemarin aku bahkan merasa sebagai orang yang paling berbahagia di dunia. Aku masih bisa merasakan sesuatu yang indah dan melebihi segala gairah dari manifestasi cinta yang pernah ada.

Pagi pernah selalu jadi hal yang paling ku sukai. Aku selalu melihatmu tersenyum ketika pertama kali membuka mata. Ketika menutup mata, senyum itu menjadi cahaya dalam pejamku. Aku bahkan tak lagi mengenali kegelapan. Betapa lagu ini adalah lorong waktu tercepat bagiku. Aku berhenti sejenak dan membiarkan segalanya terbawa ke masa lalu, masa yang seharusnya kini telah jadi rahasia bagi diriku sendiri. Bagaimana bisa ada hari yang seperti ini (seolah tak pernah terjadi apa-apa) sedang dulu pernah ada kisah yang begitu megah. Aku masih tak percaya, waktu begitu kejinya menghapusku dari catatan-catatan kenangan dalam dadamu.

Apa jadinya jika kau adalah aku. Akankah kau mudah melewati semuanya?

Betapa kenangan-kenangan kita telah berubah menjadi salah satu bagian yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupku. Jatuh cinta denganmu seperti hukuman dan rindu adalah seberat-beratnya kutukan. Sudah banyak buku-buku yang aku baca dan sudah berapa banyak pula jiwa yang kutemui mati karena muslihat cinta, yang bahagia hanya karena keberuntungannya saja. Setiap lagu yang tercipta seperti jeritan yang tiada habis-habisnya. Seperti bisikan dari puncak rasa sakit yang pernah di rasakan oleh umat manusia. Betapa Tuhan adalah maha cinta yang menciptakan segala rasa, puisi, beserta lagu-lagunya yang pilu.