BLACKOUT DI TOILET

Cerita ini seharusnya ditulis langsung pasca kejadian demi mendapatkan rekaman pengalaman yang belum terreduksi dan ataupun terkontaminasi tumpukan memori serta perubahan kebertubuhan dan realitas lainnya. Namun sayangnya sudah lebih dari 3 bulan saya tidak mampu menulis sama sekali, akhirnya menjadi tidak bisa, karena mengulur-ulur perasaan belum menemukan ide yang menggigit, disokong oleh instalasi wifi baru di kos yang unlimited dan kencang luar biasa, belum lagi mengurusi Deadpool UI yang baru saja digoncang dengan kejadian yang-kalian-tahu-lah — uwek, namun toh semua ini hanya sebagai upaya keluar dari tuduhan, ya benar bahwa saya sedang malas, sesederhana itu, hidup dengan bermodal perasaan memang menjengkelkan, itulah alasan mengapa saya selalu nampak gembira ria gembal gembil sepanjang waktu, sebab sekali kondisi perasaan turun, maka seluruhnya akan berantakan. Artinya kondisi bahagia tersebut saya konstruksi, terjaminkan dengan berbagai variabel agar patokan bahagia paling tidak selama 14 jam per hari terjaga, lain soal tatakala saya sudah berada di kamar.

Tak ingat persisnya kapan, namun yang jelas adalah akhir Maret 2017, kurunan waktunya sekitar dari 21–25. Pukul 2 malam saya terbangun, tanpa ba-bi-bu berjalan menuju kamar mandi yang posisinya berada di arah pojok ujung lantai. Tatkala saya masuk dan kencing, tiba tiba mata berkunang kunang, dengan sangat cepat, detak jantung saya melamban, sedang pompaan aliran darah ke kepala terasa sangat keras melalui urat urat daging, sampai terasa denyutan denyutan di kepala. Kejadian selanjutnya bisa dipredisksi, saya blackout, mati sebentar, dalam kilatan seper sekian detik menuju blackout, seluruh pengalaman yang tumpah ruah, saya tak ingat persis, namun yang masih tersisa salah satunya adalah pertanyaan receh newbie, dan lucunya — saya betul betul merasa saat itu adalah ajal yang tak terhindarkan — saya tetap menolak. Kaget dengan level ini sudah sampai di endapan ketidaksadaran. Karena persoalan ini sudah menjadi masa lalu saja, tidak pernah benar benar saya kembali ungkit lebih dari semenjak 3 tahun lamanya, dan alasan pragmatis jauh lebih bekerja dibandingkan dengan ulasan ontologis. Intinya mau mati pun saya tetap resisten.

Saat saya bangun, seluruh badan saya sudah berposisi tertelungkup di lantai kamar mandi — mungkin seperti penggambaran sisa sisa kaum yang di azab, badan terasa remuk, separuh badan rasanya mati rasa, tanpa lama lama, dengan penglihatan yang hanya berfungsi sekitar 15% saya kuatkan untuk berjalan, karena saya tidak ingin mati di toilet, itu intinya. Sembari berjalan dari toilet ke kamar, tubuh saya tidak terkontrol dan kencing keluar dengan sendirinya dan telinga berdenging memekakkan telinga, dan muka teras begitu panas. Akhirnya dengan pakaian yang basah total bercampur kencing, saya tertelungkup tak berdaya di lantai kamar. Paling tidak saya mati di kamar, itu terasa lebih estetis.

Setelah beberapa menit, akhirnya semua mulai stabil, cepat cepat saya melepas baju yang basah tersebut. Dan naik ke kasur, saya nyalakan lampu kamar, sisa sisa kekagetan masih terasa kental dalam lesak lesak bahkan bau kamar. Otak saya sudah sedari tadi mengetuk-ngetuk bahwa ini hanyalah kesalahan fisiologis semata, terburu buru bangkit dari posisi tidur, sehingga asupan oksigen masih minim, dan terjadilah kejadian blackout. Namun karena tidak dengan antisipasi, kekagetan secara fisik lebih berat terasa dibandingkan dengan rentetan imbas psikologis setelahnya.

Saya mulai menerka-nerka bagaimana kira kira detik detik kejadian tersebut berlansung. Dengan posisi tertelungkup seperti demikian, bisa dipastikan saya terjun bebas tersungkur, yang saya kagum adalah mekanisme pertahanan yang tidak secara sadar saya intensikan, siku kiri saya biru kehitam hitaman tatkala saya cek, dan setengah dada saya juga berwarna sama. Simpulannya kemudian bahwa tubuh memberikan pertahanan dengan mencoba menumpu benturan badan terlalu keras dengan lantai, sehingga dengan tidak sama sekali menampung organ vital, tangan bisa dikorbankan — terimakasih Darwin!!!

Saya menggerayangi seluruh batok kepala, mungkin ada yang bocor atau benjol, nihil. Dengan masih ketakutan akan terjadi sesuatu kepada performa kognisi, dengan serampangan saya ambil buku, dan langsung saya genjot baca ketika itu pula, mengetes jangan jangan terjadi sesuatu dengan otak saya. Setelah bablas 4 bab, akhirnya saya baru bisa sedikit tenang, karena tidak terjadi apa apa — otak Patrick pernah terbakar!!! tolong camkan itu baik baik.

Tatkala cerita ini ditulis, telinga saya masih sering berdenging, dan paragraf ini terpenggal beberapa saat, karena saya tinggal ke kamar mandi untuk buang hajat, dengan tipikal sakit dan bentuk tinja seperti saat saya blackout waktu itu — setelah pingsan lalu saya boker.

— 4 April 2017 di imac room perpusat UI pasca uts filsafat lingkungan

Like what you read? Give Fathul Purnomo a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.