Filsafat Kontemporer — Analitik & Kontinental

— Filsafat Analitik

Adalah suatu aliran filsafat yang mencoba untuk memecah atau memotong motong suatu persoalan menjadi bagian bagian kecil. Pemotongan yang dilakukana berdampak secara psikologis, dimana sang pemecah akan kebingungan dengan letak awal dari bagian yang telah terpotong. Pemecahan ini kemudian juga berdampak secara emosional, karena dengan begitu manusia akan menjadi dingin, dan tidak mementingkan relasi yang terjadi dari objek terebut baik dari luar, maupun dalam permasalahan tersebut.

Apa yang dianalisa adalah objek yang harus terbasakan, dalam hal ini bisa disebut sebagai proposisi. Porposisi adalah suatu gambaran realitas, sederhana saja, ada fenomena air turun dari langit, dalam bahasa Indonesia, kita mengatakan “hujan”, di inggris dikatakan “it rains, atau It is raining”, fenomena hanya satu, namun bisa diartikulasikan dalam berbagai bahasa, kejadian tersebut adalah proposisi, sedang kalimat yang mampu diutarakan hanyalag modus berbahasa saja. Filsafat analitik menganalisa kejadian tersebut, lewat proposisi. Lebih jauh lagi, kata “hujan” dengan kata “it rains” maupun “ it is raining” berbeda. “it rainsn dan It is raining” menggunakana konteks waktu, dimana akan rancu jika diubah ubah bentuk kalimatnya, padahal merujuk pada kejadian yang sama.

Analisa kemudian difokuskan ke dalam bahasa, bahasa dipecah sedemikian rupa menuju partikel terkecil. proposisi “ saya makan nasi goreng” bisa dipecah menjadi “saya: apa itu saya”, “makan”, “nasi”, “goreng”. Dari kata nasi kita bahkan bisa berdebat, karena kata “nasi” adalah konsep dalam bahasa Indonesia, sedang akan berbeda jika merujuk inggris yang akan menggunakan kata “rice”. Dalam bahasa indonesia sendiri jika nasi masih berupa tumbuhan akan di berinama “padi”, jika sudah dipanen menjadi “gabah”, dan jika sudah ditanak menjadi “nasi”. berbeda dengan Inggris yang hanya akan menggunakan hanya kata “rice field” atau “fried rice” saja. Ini sama seperti bintang, jika anda melihat bintang di pagi hari di ufuk timur, bisa kita sebut sebagai bintang kejora. Sedang ketika malam hari kita menyebutnya sebagai “bintang ufuk”. Padahal mereka adalah bintang yang sama, hanya waktu yang membedakan, dan hal tersebut memberikan makna yang berbeda. Dari sinilah, filsafat analitik mulai bergerak menjadi pembahasan akan makna, dan akhirnya harus bergulat dengan “mind”, sebagai produsen makna.

Karena makna berkaitan dengan “mind”, maka tugas filsafat adalah memaknai dunia. Dan pada zaman itu dipercaya bahwa mind ada dimana mana, atau semacam roh halus di alam semesta. Mind adalah unsur independen alam. Para filsuf juga percaya bahwa sedari dulu mind sudah ada, namun belum terartikulasikan. Contoh seperti konsep “O2” yang selama ini hanyal udara, dan baru “ditemukan” abad 17 an.

Dan karena membahas “mind”, maka pergerakan filsafat justru mundur, karena filsuf yang pertama kali membahasnya adalah Descartes. Dalam hal ini sekaligus menegaskan bahwa filsafat tidak mengenal waktu. sekaligus menjadi kesalahan manakala mencoba mengagmbarkan filsafat dalam satu kronologi waktu.

— Filsafat Kontinental

Merupakan respon terhadap filsafat analitik, dan sebagai pembeda mereka dimaknai sebagai yang pejoratif. Sulit untuk menemukan rujukan filsafat kontinental jika ingin melihatnya dari negara. Namun sebenarnya dewasa ini, sudah tidak baku lagi. Namin bisa dikatakan secara kasar, negara negara berbahasa Inggris adalah mereka yang cenderung analitik, sedang sebaliknya negara negara yang non-bahasa inggris cenderung ke kontinental.

Gagasan filsafat kontinental yaitu

  1. Mereka mempercayai bahwa pengetahuan terbentuk dari pengalaman. Hal ini mampu dilihat dari bagaimana seseorang merspon bencana. Sederhana saja, dalam masyarakat Indonesia, ketika terkena bencana gunung berapi maka mereka tidak akan pusing berpikir mengenai kelangsungan hidup mereka. Karena mereka bisa mengungsi di Sekolahan, dan menunggu bantuan pemerintah. Berbeda dengan Jepang, ketika gemap terjadi, semua orang jepang akan langsung memahaminya sebagai salah satu tanda tsunami. Dan ketika mereka mengungsi, mereka tidak ingin mengungsi di sekolahan, karena mereka akan mati kedinginan. Maka mereka sudah sedari awal mempersiapkan tempat penampungan yang disertai pemanas. Mereka tidak mau berpindah kerumah tetangga yang masih baik — berbeda dengan Indonesia, yang dengan seenaknya bisa tinggal dirumah tetangga. Generasi tua mereka bahkan memperkenankan generasi muda untuk terlebih dahulu menyelamatkan hidup mereka, karena bagi generas tua, para pemuda memiliki masa depan yang lebih panjang. Maka dari sinilah bangunan pikiran terbentuk. Indonesia yang cenderung berpikir jangka pendek, dan Jepang yang jangka panjang. Maka mustahil manusia Indonesia mengikuti Jepang. Kosmologi yang berbeda membentuk bangunan pikiran yang berbeda. Ambisi UI menjadi world class university dengan meniru cara mereka adalah sesuatu yang sia sia. Harvard tentu saja bisa memproduksi para peraih nobel. Tujuan bisa jadi sama, namun cara harus berbeda. Hampir semua warga AS, berencana untuk meneruskan master mereka dan langsung menjadi CEO, sedang di Indonesia kuliah untuk menjadi babu di perusahaan. China yang juga bisa memproduksi peraih nobel kimia dirintis sejak 1968, dan baru memperoleh nobel di tahun 2014. Sedang UI memberikan jatah maksimal 3 bulan penelitian. Landasan filsafat kontinental ini sebagai jawaban atas holocaust, dimana terjadi justru dengan bantuan ilmu pengetahuan. Para dokter berada di kamp kamp konsentrasi. Dan bahkan mereka melakukan uji coba menjahit anak kembar, juga menyobek perut perempuan hamil untuk diketahui apakah ia akan mati berdua atau tidak. Dan semuanya tanpa bius.
  2. Karena filsafat analitik hanya menitik beratkan pada analisa, menjadikan mereka cenderung dingin. Dan sebaliknya kontinental mecoba untuk melihat suatu persoalan dengan melihat konteks, budaya, historisitas, dsb. Kursi dilihat dari pembuatnya, sejarah pembuatannya dll.
  3. Karena pengetahuan berangkat dari pengalaman, maka suatu teori terbalut dengan praktik. Dan hal ini teerkenal dari Marx, dimana ia melihat filsuf tidak hanya sekedar berteoria, namun merubah masyarakat.
  4. Filsafat kontinental juga kemudian banyak membahas metafilsafat. Mencoba mengetahui perjalanan pemikiran dalam selama filsafat ada.

Filsafat Kontinental melahirkan aliran seperti strukturalisme, post strukturalis, feminisme, dialketika, hermeunetika, fenomenologi.

— Harsawibawa

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Fathul Purnomo’s story.