Hermeneutika— Pengantar

Dalam percakapan sehari-hari kata Herme akan lebih dekat dengan merk sebuah komoditi berupa tas yang sering dipakai oleh ibu-ibu masa kini, Hermes. Dalam sejarah, awalnya manusia memaknai sebuah materi sebagai nilai guna dari barang tersebut, lalu bergeser dan dinilai dari nilai tukar terhadap barang lainnya, dan sekarang barang bahkan diperjual-belikan karena faktor simbol, Hermes. Perjalanan Hermes inilah yang membuktikan bahwa suatu materi tidak diam, dia bergerak, dan dengan itu pula manusia harus mampu memahaminya. Termasuk dalam ini teks.

Dalam sejarah Yunani, Hermes adalah nama seorang manusia setengah dewa yang bertugas untuk menyampaikan firman dari Dewa kepada manusia. Namun Hermes berhadapan dengan berbagai persoalan. Salah satunya yaitu seringkali firman tersebut tidak dimengerti oleh para manusia. Sehingga Hermes harus menafsirkannya — yang berarti dalam hal ini dia harus mengambil jalan memutar dan lebih lama — atau langsung memberitahukkanya pada manusia — dan semua manusia akan kebingungan namun dengan jangka waktu yang lebih pendek.

Schelemacher menjadi filsuf yang mempelopori hermeunetika. Dia berpendapat bahwa bahasa tidak akan terlepas dari budaya itu sendiri. Dan budaya dalam hal ini terus saja berkembang. Dengan demikian, harus dilakukan penafsiran agar teks mampu dimaknai secara maksimal. Tujuan Schelmacher melakukan hal ini demi menyelamatkan trks itu sendiri — dimana bisa kita simpulkan bahwa ada yang absolut dari sang pengarang teks.

Dilthey sebagai filsuf selanjutnya lebih melihat konteks pada setiap tulisan.

Sebelum hermeunetika berkembang, filologi menjadi ilmu yang dipakai. Namun filologi hanya mengkaji internal dari teks, sedang herme harus dihadirkan karena herme mencoba mencacah eksternal dari apa yang disebut sebagai teks itu sendiri.

Sari kelas Hermeunetika oleh Eko Wijayanto

30 Agustus 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Fathul Purnomo’s story.