Anak “Kecanduan” Gawai: Tepatkah Respon Kita?

PUSKAPA
PUSKAPA
Oct 28, 2019 · 5 min read
Foto diambil dari www.pixabay.com

Dalam dua minggu terakhir saya mengamati berita mengenai ratusan anak yang kecanduan gawai lalu dirawat di RSJ atau dibawa ke Poliklinik Kesehatan Jiwa di beberapa wilayah di Indonesia. Beritanya bisa di lihat di sini.

Karena hanya bisa mengamati dari jauh, saya merasa prihatin dan tentunya berharap anak-anak dan keluarga mereka mendapatkan pelayanan yang tepat. Namun prihatin saja tak akan membantu anak-anak yang didiagnosis kecanduan gawai. Jika jumlah diagnosis meningkat, akan sulit bagi penyedia layanan kesehatan jiwa yang juga masih terbatas kapasitasnya untuk memberikan pelayanan optimal. Ada beberapa catatan penting untuk dipertimbangkan kerja advokasi kebijakan terkait kasus-kasus (serupa) ini. Siapa tahu bisa menjadi masukan untuk meminimalisir dan memitigasi risiko.

Setiap orang tua membutuhkan bantuan dan dukungan pengasuhan

Dalam berita-berita disampaikan bahwa orang tua tidak lagi mampu menangani anak-anak yang sudah kecanduan ini. Penelitian ini juga menggambarkan bahwa hal ini memang dihadapi orangtua di Indonesia. Meskipun sulit, penggunaan gawai yang berlebihan, bisa dicegah, salah satunya dengan kesepakatan penggunaan gawai. Kesepakatan ini tidak serta- merta muncul, karena dalam beragam aspek kehidupan anak, membuat kesepakatan ini harus dibiasakan. Menjadi orang tua memang tidak mudah. Bantuan untuk mengatasi tantangan dalam membangun relasi dengan anak pun tidak mudah ditemukan dalam keseharian kita. Membuat kesepakatan adalah salah satu contoh aktivitas yang biasanya dikenalkan dalam kelas atau dibaca dari buku parenting atau pengasuhan.

Kelas parenting atau pengasuhan biasanya berisi materi yang mengenalkan orang tua pada beberapa cara membangun relasi sehari-hari dengan anak. Banyak lembaga yang sudah melakukannya, tapi mengapa tidak tampak hasilnya? Di satu sisi, kelas parenting terdengar sangat klise dan rasanya kurang pas dengan budaya kita. Banyak dari kita jengah menyampaikan “masalah rumah tangga” ke orang lain apalagi seorang fasilitator yang tak dikenal, termasuk mengenai kebingungan kita menjadi orang tua yang baik.

Di sisi lain, kelas parenting belum dilaksanakan dengan standar yang jelas. Selain itu, program parenting yang ada juga bias kelas. Ia hanya ditujukan bagi sebagian kecil keluarga miskin penerima bantuan sosial tertentu sebagai syarat untuk bisa terus menerima bantuan atau hanya ada berbayar yang bisa diakses oleh sebagian kecil klas menengah ke atas. Lembaga layanan konsultasi keluarga juga tidak mudah ditemukan. Konotasi “konsultasi” juga mungkin menakutkan bagi orang tua yang hanya butuh tahu bagaimana agar pertengkaran dengan anak, yang salah satunya dipicu gawai, bisa dikurangi frekuensinya.

Perselisihan paham dan pertengkaran anak dan orang tua bisa menjadi salah satu sumber stres dalam keluarga. Gawai hanya salah satu contoh pemicunya. Oleh karenanya, akses pada sumber-sumber informasi soal parenting harus terus dibuka dan pendekatan yang sekarang perlu dipertimbangkan ulang.

Pertama, sumber informasi, baik berupa kelas maupun lainnya, harus menyertakan upaya mengubah persepsi masyarakat bahwa membicarakan tantangan menjadi orang tua adalah tabu.

Kedua, sumber informasi, baik berupa kelas maupun lainnya, bukan membahas masalah dalam keluarga dan memberi nasihat atau wejangan, tetapi mendiskusikan spektrum sikap dan perilaku manusia, baik dewasa maupun anak-anak. Kenapa cara pandang dan reaksi orang dewasa dan anak terhadap hal yang sama sering berbeda, dan bagaimana menjembatani perbedaan tersebut. Bahkan, sumber yang baik akan mendiskusikan cara berbicara dengan anak. Simulasi untuk mempraktikkan cara-cara tersebut juga penting. Format seperti ini akan memberikan rasa berdaya pada orang tua dalam keseharian mereka mengasuh anak.

Ketiga, sumber informasi, baik berupa kelas maupun lainnya, harus menyesuaikan format dengan kebutuhan orang tua dari anak-anak dengan usia tertentu. Rentang usia anak itu sampai 17 tahun, jadi pelayanan parenting bukan hanya untuk orang tua dari balita.

Keempat, sumber informasi, baik berupa kelas maupun lainnya, idealnya memang tersedia untuk semua orang tua baik keluarga-keluarga yang tidak terjangkau bantuan sosial dan yang tidak mampu mengakses layanan parenting berbayar. Inisiatif yang sudah ada harus dievaluasi sehingga bisa direplikasi bila baik, dan diperbaiki bila belum baik.

Setiap anak membutuhkan kesempatan dan pilihan untuk berkembang

Sebelum kita saling menyalahkan, baik mengatakan anak-anak punya kebiasaan buruk terus bermain gawai atau mengatakan orang tuanya tidak kreatif (bahkan malas) mencari kegiatan lain, coba lihat dulu di sekitar kita.

Apakah ada tanah lapang yang aman untuk anak bermain? Apakah udara dan lingkungan di luar bersih? Apakah ada kegiatan seni, berolahraga, belajar bahasa, dan sebagainya yang tidak berbayar untuk anak selain di sekolah? Apakah anak-anak diberikan beragam pilihan yang menarik untuk mengisi waktu luang, memuaskan rasa ingin bergerak, ingin bermain, ingin belajar?

Harus kita akui, kehadiran gawai dan perkembangan konten medianya dalam kehidupan kita tidak bisa dihindari. Data UNICEF menunjukkan bahwa usia anak mengenal internet semakin muda. Anak 13–18 tahun, adalah kelompok ke tiga terbesar pengguna internet, mencapai 16.68% dari seluruh pengguna internet di Indonesia.

Dari segi akses, ia banyak memberi kemudahan dan daya tariknya. Tidak apa, saya yakin kita bisa mendukung anak agar dapat membuat pilihan berkegiatan yang bertanggung jawab jika banyak alternatif seperti rumah baca, perpustakaan, sarana olahraga di lingkungan yang mudah diakses oleh anak.

Kita perlu dorong agar pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat memikirkan fasilitas dan program bagi anak saat membangun. Sudah banyak orang muda yang sukarela melakukannya. Sahabat Anak dan Rumah Faye adalah dua organisasi yang saya kenal menawarkan kegiatan belajar untuk anak yang tinggal di lingkungan berisiko. Rumah baca juga banyak bermunculan, setidaknya di Jakarta dan sekitarnya. Ada juga yang membentuk komunitas. Pelatihan mengenai pengembangan kegiatan untuk anak melalui rumah baca akan bermanfaat bagi pengelola. Pilihan berkegiatan untuk anakpun menjadi beragam selain hanya membaca. Melalui pusat berkegiatan di lingkungan sekitar anak, pelatihan menggunakan internet dan gawai dengan lebih bijak juga bisa dilakukan agar anak lebih berdaya. Seperti halnya dengan kapasitas orangtua, anak juga butuh diberikan alat untuk membuat keputusan yang baik.

Rumah Sakit Jiwa mungkin bukan solusi yang tepat

Jangan salah, layanan RSJ sangat penting bagi orang-orang yang memerlukan layanan kesehatan mental lanjut. Yang perlu diperhatikan adalah anak-anak yang diberitakan di media telah dicap dengan diagnosis gangguan jiwa agar bisa mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan. Jangan sampai diagnosis ini menjadi stigma saat anak kembali ke lingkungan mereka. Mereka dibawa dan dirawat di institusi, dipisahkan dari orangtua, dan berada di tempat yang asing untuk waktu yang lama. Pelayanan yang memisahkan anak dari keluarga dan dilakukan di dalam institusi, meskipun hanya sementara, dapat memberikan dampak yang buruk bagi anak, setidaknya rasa takut dan kesepian. Dampak ini pun harus diantisipasi.

Jika terapi memang harus diberikan karena betul anak sudah kecanduan, kepentingan terbaik anak harus menjadi pertimbangan utama. Jika anak tidak dalam keadaan membahayakan diri sendiri dan sekitarnya, pelayanan terapi bagi anak bisa dilakukan di lingkungan rumah atau lingkungan lain yang tidak asing dan dekat dengan anak. Terapi untuk mengatasi kecanduan juga harus melibatkan orang tua dan anggota keluarga yang lainnya. Terapi yang baik juga membutuhkan waktu yang cukup panjang. Untuk membantu agar terapi tuntas, pelayanan kesehatan jiwa sebaiknya dapat ditanggung oleh JKN.

Dukungan pengasuhan bagi lingkungan keluarga sebaiknya tidak hanya menjadi jargon pemerintah dan lembaga-lembaga yang peduli dengan anak dan keluarga. Sekadar memenuhi indikator kesejahteraan dan pembangunan, tetapi tidak mempertimbangkan siklus perkembangan dan kebutuhan anak dan keragaman keluarga.

Isu gawai hanya salah satu contoh gejala yang mungkin mengakar pada kapasitas pengasuhan yang dapat dikelola dengan lebih awal dan baik bila para orang tua dan pengasuh utama anak lainnya memiliki akses pada sumber-sumber daya yang dapat membantu mereka menjalankan peran tersebut.

Ni Luh Putu Maitra Agastya

Peneliti Senior PUSKAPA

Dosen Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia

PUSKAPA

Written by

PUSKAPA

We work with policymakers and civil society on inclusive solutions that create equal opportunities for all children and vulnerable populations.

More From Medium

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade