Berani Membuka Mata, Melatih Telinga, dan Menggerakkan Mulut

PUSKAPA
PUSKAPA
Jan 31 · 4 min read

Seni, anak, dan pemuda. Tiga kata ini yang saya tulis saat SMA mengenai apa yang ingin saya kerjakan di masa depan. Maka ketika saya diterima di FISIP UI dan mengetahui bahwa PUSKAPA berkantor di FISIP, ada satu pernyataan di kepala saya. “Apa yah rasanya bekerja di sana?” Jawaban atas pertanyaan ini ternyata baru hadir di akhir masa perkuliahan saya melalui Program Belajar Kerja PUSKAPA pada September 2019 lalu. Tiga bulan saya lewati dan berikut ini beberapa pelajaran utama yang saya dapatkan.

Pelajaran #1 Membuka Mata: Memperluas Perspektif Isu Anak

Sebelum masuk PUSKAPA, seperti kebanyakan orang, saya menganggap isu anak hanya berhubungan dengan kehidupan anak, seperti pendidikan, kesehatan, dan keluarga. Selama di PUSKAPA, saya diajak dan dibimbing untuk melihat isu anak dengan kacamata yang lebih luas lagi. Saya belajar bahwa isu anak tidak selalu langsung berkaitan dengan anak, namun banyak aspek-aspek kebijakan, sistem pemerintahan, dan masyarakat yang ternyata turut membentuk kehidupan anak. Salah satunya adalah kepemilikan akta kelahiran.

Mungkin terlihat sepele, namun jika anak tidak punya akta kelahiran, berarti ia tidak tercatat dalam negara, yang membuat anak semakin rentan dan tidak bisa mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Saya terpekur waktu menekuni begitu banyak penelitian dan kenyataan di lapangan tentang sistem administrasi kependudukan di Indonesia yang masih perlu banyak peningkatan. Menekuni isu ini membuat saya jadi berefleksi, betapa beruntungnya bahwa dulu orang tua saya memiliki akses langsung dan dekat ke Disdukcapil. Saya jadi bisa didaftarkan ke sekolah.

Saya belajar bahwa perlindungan anak itu bukan hanya isu milik ibu, ayah, keluarga, dan anak itu sendiri. Isu perlindungan anak adalah milik kita semua sebagai masyarakat untuk bisa membantu menjamin setiap anak mendapatkan haknya.

Pelajaran #2: Melatih Telinga: Berpikir kritis dan belajar mendengarkan

Sebagai sebuah lembaga penelitian, metode riset dan aplikasinya menjadi salah satu pelajaran penting. Saya berkesempatan untuk terlibat dan belajar tentang bagaimana proses riset dilakukan. Bagaimana sebuah pertanyaan menemukan jawabannya. Kalau biasanya hanya latihan di kelas, saya bisa melihat langsung prosesnya di PUSKAPA. Saya juga belajar bahwa menentukan metode itu harus berdasarkan pertanyaan apa yang ingin dijawab, bukan metode apa yang kita sukai.

Pelajaran lain yang saya dapatkan adalah cara mengambil kesimpulan dan menganalisis masalah. Ini tidak hanya berguna ketika meneliti namun juga ketika berinteraksi di media sosial. Di tengah-tengah kebisingan setiap orang yang berebut menanggapi isu, PUSKAPA mengajarkan saya untuk mengambil langkah sejenak.

Sebelum berkomentar, apakah kita sudah punya cukup informasi dan pemahaman soal isunya?

PUSKAPA melatih penerapan berpikir kritis dengan mendengarkan lebih baik, memberi perhatian lebih dalam terhadap informasi, dan tidak tergesa-gesa dalam menanggapi sesuatu. Efeknya, setiap saya mau balas tweet orang saya jadi berpikir dulu. “Apakah tanggapan saya akan mendukung diskusi atau justru memperkeruh suasana?”

Pelajaran #3 : Menggerakkan Mulut: Mengkomunikasikan Kendala

Saya juga melatih etos kerja saya di PUSKAPA, khususnya soal mengkomunikasikan dan menyelesaikan krisis. Selama saya belajar kerja di PUSKAPA, saya memiliki masalah personal yang membuat saya sulit fokus dan produktif. Saya sempat ragu dan bingung, karena tidak yakin apakah melaporkan kendala ini merupakan keputusan yang baik.

Akhirnya saya memutuskan untuk melapor ke salah satu mentor, Kak Marsha, tentang kendala yang saya alami. Saya begitu senang Kak Marsha membantu saya dengan menyediakan ruang diskusi yang aman dan suportif. Kendala saya tidak dipandang sebagai sebuah hambatan, melainkan kondisi yang perlu penyesuaian.

Selain itu, saya juga mendapatkan bimbingan dalam menciptakan sistem yang bisa diterapkan untuk mengelola kendala. Kalau sebelumnya saya kalang kabut ketika kendala sudah hadir, saya mendapat tips untuk membangun rencana bersama dengan mentor dan rekan kerja. Sistem yang dicontohkan adalah 3 Titik Pos.

Tujuan dari ketiga pos ini adalah menciptakan sistem yang bisa membantu mengelola kendala dalam menyelesaikan pekerjaan. Karena dalam lingkungan bekerja, mau tidak mau kita tetap bertanggung jawab dalam memberikan hasil pekerjaan. Misalnya, di tengah pekerjaan, kita sadar tidak bisa memenuhi tenggat waktu yang sebelumnya sudah disepakati, penting untuk mengkomunikasikannya kepada mentor kita agar bisa didiskusikan apa langkah selanjutnya.

Pelajaran #4: Menemukan ruang bertumbuh dan merayakan keberhasilan

Belajar kerja di PUSKAPA membuat saya sadar apa saja kekurangan dan kelebihan saya. Kekurangan-kekurangan yang saya miliki saya coba pandang sebagai ruang untuk bertumbuh. Selain itu, saya diajarkan merayakan keberhasilan-keberhasilan kecil yang sudah saya laksanakan. Saya tidak sempurna dan karenanya saya perlu belajar. Tiga bulan ini menyadarkan saya bahwa selalu ada ruang untuk tumbuh.

Saya benar-benar berterima kasih bisa mendapat banyak bimbingan dan pengetahuan dari PUSKAPA. Semoga pengalaman, pengetahuan, serta tips yang saya dapat selama belajar kerja di PUSKAPA bisa bermanfaat. Jika teman-teman ingin mendapatkan ruang aman dan suportif untuk bisa belajar bekerja, saya sangat merekomendasikan program belajar kerja di PUSKAPA!

Jaya Wina Santiya

Mahasiswi Jurusan Komunikasi, Universitas Indonesia

PUSKAPA

Written by

PUSKAPA

We work with policymakers and civil society on inclusive solutions that create equal opportunities for all children and vulnerable populations.

More From Medium

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade