Prostitusi Anak: Jangan Salah Fokus

Kompas Cetak | 8 Oktober 2016

Kasus prostitusi anak di Bogor yang terkuak belum lama ini sangat mengusik pikiran kita. Dalam kasus tersebut, jumlah anak yang diperdagangkan oleh sang mucikari berinisial AR diperkirakan lebih dari 100 orang; 27 di antaranya berusia 13–17 tahun.

AR tinggal di daerah yang lingkungannya berisi banyak anak remaja. Para korban tidak hanya berasal dari Bogor, tetapi juga dari Jakarta, Sukabumi, dan Bandung. Dengan menggunakan media sosial Facebook,AR menghubungkan korban dengan pelanggannya sehingga jangkauannya tidak hanya terbatas dalam satu kota.

Pemberitaan salah konteks

Hingga saat ini, berbagai pemberitaan yang muncul memperlihatkan banyak pihak yang peduli dan prihatin akan kejadian ini. Belum bisa dipastikan apakah memang AR hanya memperdagangkan anak laki-laki karena ada juga berita yang menyebut adanya korban anak perempuan.

Namun, sayangnya, mayoritas pendapat yang muncul di media justru berfokus pada konteks yang salah. Contoh kepala berita seperti “Gay Mengincar Anak-anak” atau “Prostitusi Gay Terbongkar, Indonesia Darurat Predator Anak” menggambarkan bahwa pemberitaan terfokus pada orientasi seksual pelaku, yang kemudian disimpulkan menjadi akar utama permasalahan prostitusi anak di Bogor.

Pertanyaannya, apakah benar fenomena prostitusi anak di Bogor disebabkan karena pelakunya adalah seorang homoseksual?

Berbagai penelitian di luar negeri menunjukkan tidak ada hubungan antara orientasi seksual seseorang dan kekerasan seksual terhadap anak. Saat ditunjukkan foto anak laki-laki, laki-laki homoseksual dewasa ternyata tidak lebih terangsang dibandingkan saat laki-laki heteroseksual dewasa melihat foto anak perempuan (Freund dkk, 1989).

American Psychological Association juga mencatat bahwa “laki-laki homoseksual tidak memiliki kecenderungan lebih untuk melakukan kekerasan seksual terhadap anak bila dibandingkan dengan laki-laki heteroseksual”.

Menurut data dalam Lembar Fakta tentang Eksploitasi Seks Komersil dan Perdagangan Anak yang diterbitkan oleh Unicef, terdapat 40.000–70.000 anak di Indonesia yang menjadi pekerja seks komersial. Mayoritas korban adalah anak perempuan dan mayoritas pelaku adalah laki-laki. Berdasarkan data tersebut, apabila ada laki-laki dewasa melakukan kekerasan seksual terhadap anak laki-laki, yang seharusnya diperhatikan adalah penyebab terjadinya tindakan itu, bukan apakah ia seorang homoseksual atau heteroseksual.

Kesalahan fokus kita dalam melihat permasalahan selama ini dapat berakibat fatal. Jika kita berfokus “menyerang” kaum homoseksual, kita akan kehabisan energi dalam menggali akar masalah prostitusi anak yang sebenarnya. Lebih parah lagi, fokus kita terhadap kaum homoseksual akan menenggelamkan kasus-kasus prostitusi anak, yang kebanyakan pelakunya adalah heteroseksual.

Terlalu banyak berdebat tentang orientasi seksual pelaku membuat kita lupa pada kepentingan korban. Fokus terhadap hal yang tidak terbukti relevan adalah masalah kita semua.

Berfokuslah pada korban

Sejak kasus AR terkuak, fokus pemberitaan yang terlalu bertitik berat pada pelaku sebagai seorang homoseksual tidak menghasilkan apa-apa, kecuali menguatnya stigma terhadap kaum homoseksual. Lalu, bagaimana dengan korban? Bukankah seharusnya kita memfokuskan perhatian untuk melindungi mereka?

Mayoritas korban berasal dari keluarga yang kurang mampu di Jawa Barat. Menurut pengakuan salah satu korban, ia tertarik karena diiming-imingi uang tambahan oleh temannya. Jadi, proses perekrutan juga dilakukan oleh teman sebaya. Orangtua mereka pun mengaku sama sekali tidak menyangka anak mereka adalah pekerja seks komersial. Mengapa hal ini bisa luput dari mereka? Perlu pendalaman lebih jauh mengenai faktor-faktor pendorong dan penarik untuk memahami fenomena prostitusi anak secara lebih mendalam.

Kasus prostitusi anak tentu bukan hal baru. Ditemukan pemberitaan soal jaringan prostitusi anak setidaknya di tujuh daerah di Indonesia: Jakarta, Semarang, Bengkulu, Batam, Lampung, Senggigi, dan Denpasar. Namun, yang masih jarang diberitakan adalah bagaimana penanganan korban dan tindakan apa saja yang sudah dilakukan sebagai pencegahan.

Sebenarnya terdapat pola yang mirip dari kasus-kasus prostitusi anak. Pelaku kekerasan seksual terhadap anak yang masih beredar di masyarakat menghalalkan segala cara, seperti memberi hadiah atau berpura-pura ingin berteman, demi mendekatkan diri dengan korban. Para korban, yang kebanyakan tidak mendapatkan pendidikan seksual yang cukup, akan dengan mudah terjerumus dalam kejahatan itu.

Sudah saatnya kita fokus pada hal yang terpenting dalam menyikapi dan menangani kasus prostitusi anak. Sebagai pilar demokrasi dan sumber informasi, tidak seharusnya media menggiring perhatian publik terhadap hal yang tidak terbukti relevan. Para pemangku kepentingan di bidang perlindungan anak juga perlu memfokuskan diri untuk memperkuat sistem perlindungan anak dan memastikan agar mereka mendapatkan pendidikan seks yang memadai.

Saya yakin kita semua bertujuan sama: ingin melindungi anak. Tetapi jika kita memilih untuk terus-terusan mengangkat isu tentang orientasi seksual pelaku, alih-alih memperkuat sistem perlindungan anak, impian kita agar setiap anak Indonesia terbebas dari kekerasan seksual akan menjauh dari kenyataan.

MARSHA HABIB

Communication Officer

Pusat Kajian Perlindungan Anak Universitas Indonesia

Show your support

Clapping shows how much you appreciated PUSKAPA’s story.