Tiga Bulan Perjalanan Berharga di PUSKAPA

PUSKAPA
PUSKAPA
Jan 29 · 5 min read

Mengenal PUSKAPA

Awal tahun 2019, saya menghadiri forum diskusi atau Learning Series (LS) yang diadakan oleh PUSKAPA. Saat itu, salah satu pembicara membahas tentang variasi keterlibatan pemuda dalam politik dan pembangunan, topik yang menarik untuk saya. Diskusi tersebut berhasil menghidupkan kembali rasa semangat belajar saya. Setelah acara selesai, saya menemui direktur PUSKAPA, Bu Santi Kusumaningrum. Saat itu, saya membuka percakapan dengan menceritakan setidaknya apa yang saya khawatirkan terutama mengenai keterlibatan pemuda. Saya menyampaikan kepada beliau bahwa acara seperti ini sangat penting untuk bisa diadakan pada ruang yang dekat dengan mahasiswa, misalnya di sekitar lingkungan kampus. Bu Santi menginformasikan bahwa PUSKAPA akan mengadakan program belajar kerja atau magang untuk mahasiswa. Informasi tersebut kemudian tidak saya sia-siakan sebagai salah satu kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu, saya terdorong untuk mencari tahu dan mengikuti perkembangan PUSKAPA lebih lanjut.

Semangat untuk mencari tahu tentang PUSKAPA, membuat saya kembali menghadiri acara Learning Series selanjutnya, yang membahas bagaimana memahami kelompok rentan, seperti perempuan, disabilitas, hingga kelompok transgender. Diskusi tersebut kembali membuka pikiran saya bahwa banyak dari kelompok rentan yang masih tereksklusi dari sistem yang ada. Tentu saja hal tersebut membuat saya semakin kagum dengan upaya pencerdasan yang PUSKAPA lakukan terutama untuk isu-isu yang jarang dibahas oleh banyak orang. Ya, saya merasa diskusi tentang kelompok rentan masih jarang dilakukan. Saya menjadi semakin penasaran untuk bisa tahu dan paham tentang isu-isu seperti itu. Dari pengalaman tersebut, motivasi saya semakin kuat untuk bisa mendapatkan kesempatan belajar di PUSKAPA.

Singkat cerita, saya memutuskan untuk mengikuti serangkaian seleksi Program Belajar Kerja di PUSKAPA tahun 2019, dan akhirnya lolos menjadi satu dari tiga peserta. Pada saat itu, perasaan saya sangat senang sekali karena harapan bisa belajar kerja langsung di PUSKAPA akhirnya tercapai.

Belajar di PUSKAPA

Sebelumnya, saya belum pernah belajar kerja, dan saya memulainya di PUSKAPA. Program tersebut berlangsung selama tiga bulan dimulai sejak bulan September hingga Desember 2019. Walau merupakan pengalaman pertama menjalani kegiatan belajar kerja, saya merasa sangat senang dengan kesempatan yang diberikan PUSKAPA. Melalui program ini, saya mendapat banyak pengetahuan baru. Selain itu, mentor yang mendampingi memudahkan saya untuk belajar lebih banyak. Perlu diketahui, unit kerja PUSKAPA terdiri dari tiga pilar, yaitu Pilar Inklusi Sosial, Pilar PS2H (Pencatatan Sipil dan Statistik Hayati), Pilar Akses terhadap Keadilan, dan Trifecta (Manajemen Pengetahuan, Monitoring-Evaluasi, dan Komunikasi). Program belajar kerja PUSKAPA memberikan kesempatan untuk peserta belajar agar bisa terlibat di masing-masing pilar dengan jangka waktu 2 minggu dan 3 minggu untuk Trifecta.

Saya mendapatkan banyak kesempatan dan pembelajaran berharga, salah satu contohnya saat menghadiri diskusi bersama dengan UNICEF Indonesia membahas mengenai rencana penelitian untuk memantau implementasi UU Perlindungan anak. Bisa hadir dalam diskusi tersebut tentu merupakan pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga buat saya. Selain itu, saya juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan penelitian kuantitatif yang diadakan oleh Penasihat Senior PUSKAPA. Kotak masuk email saya juga jadi sering mendapat informasi seminar dan kegiatan-kegiatan eksternal yang menarik dari PUSKAPA.

Selama tiga bulan belajar kerja di PUSKAPA, setidaknya ada 3 hal yang saya dapatkan dari PUSKAPA, yaitu berpikir kritis, menulis kritis, dan berbicara berbasis bukti.

Pertama, berpikir kritis. Mungkin hampir setiap orang sudah sering mendengar istilah ini, namun saya pribadi masih sering sekali tenggelam dalam argumen-argumen yang bias, dan tidak jarang keluar dari mulut saya pribadi. Di PUSKAPA, berpikir kritis merupakan kultur yang selalu dijaga. Salah satunya ketika saya mengikuti Brown Bag yang diadakan beberapa kali oleh PUSKAPA. Perlu diketahui, Brown Bag adalah sesi untuk internal PUSKAPA. yang ingin mempresentasikan rencana atau hasil penelitiannya. Dari kegiatan tersebut, saya melihat bagaimana proses berpikir kritis terjadi dan seringkali saya menemui pandangan yang tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Kemampuan berpikir kritis tentu menjadi sangat penting terutama bagi PUSKAPA selaku organisasi yang bergerak di bidang penelitian dan advokasi. Dari kegiatan seperti itulah PUSKAPA membantu saya membiasakan kultur berpikir kritis di berbagai aspek kehidupan lainnya.

Kedua, menulis dengan efektif. Saat belajar kerja di PUSKAPA, saya mendapatkan beberapa tugas untuk membuat suatu tulisan. Proses paling menarik adalah ketika proses umpan balik yang diberikan oleh para mentor mengenai substansi hingga tata bahasa tulisan saya. Proses seperti itu sangat membantu saya untuk mengetahui letak kesalahan saya selama menulis. Tugas menulis dari PUSKAPA begitu menyadarkan saya bahwa cara menulis saya selama ini menghasilkan tulisan yang tidak efektif. Dengan adanya proses seperti itu, saya menjadi jauh lebih berhati-hati dan berpikir sistematis dalam menulis.

Ketiga, berbicara berbasis bukti. Hal ini erat kaitannya dengan berpikir kritis, karena keduanya sangat erat berhubungan. Saya pribadi sangat setuju bahwa berbicara berbasis bukti tidak hanya penting dalam konteks akademis, namun juga di setiap aspek kehidupan lainnya. Selama terlibat di berbagai pekerjaan PUSKAPA, proses tersebut seringkali saya temukan baik dalam forum diskusi maupun ketika sekadar sharing dengan karyawan PUSKAPA. Oleh karena itu, saya sadar bahwa segala sesuatu butuh justifikasi terutama ketika menyatakan suatu argumen. Dampaknya dalam kehidupan saya sehari-hari adalah ketika mencoba menyatakan suatu argumen atau pendapat, saya harus tahu justifikasi rasional yang mendukung tesis tersebut. Hal tersebut juga berlaku ketika menulis dan proses itu benar-benar saya pelajari selama di PUSKAPA.

Setelah Belajar dari PUSKAPA

Tiga bulan berlalu. Sudah banyak yang saya dapat tapi tentu tidak cukup, terutama dalam menginternalisasi kultur positif yang PUSKAPA miliki. Belajar di PUSKAPA itu safe dan tidak membosankan. Karena setiap orang yang ada di PUSKAPA sangat menjunjung tinggi toleransi dan sikap saling menghargai. Di tengah perbedaan tersebut, tidak ada sama sekali hambatan baik dalam konteks profesionalisme atau di luar itu. Dengan pengalaman tersebut, PUSKAPA membantu mengubah diri saya menjadi lebih terbuka dan menghargai perbedaan.

Hal lainnya, belajar kerja di PUSKAPA membuat saya semakin yakin bahwa belajar itu tidak ada habisnya, ada banyak hal yang tidak saya ketahui, ada banyak hal yang perlu saya perbaiki pula. Tentu saja hal tersebut tidak membuat saya berhenti, melainkan terus berproses. Maka dari itu, PUSKAPA berhasil membantu saya menumbuhkan kembali semangat dalam belajar dan mengevaluasi diri.

Qodri (kanan) dengan Santi Kusumaningrum, Direktur PUSKAPA (kiri), setelah mempresentasikan pengalaman belajar kerja di PUSKAPA

Tidak ada yang patut dilupakan dari apa yang sudah saya pelajari dari PUSKAPA. Karena semuanya sangat bermanfaat. Karenanya, saya yakin bahwa program belajar kerja di PUSKAPA ini, tentu tidak hanya dapat berdampak positif bagi diri saya sendiri tetapi juga bagi teman-teman lainya. Sebagai penutup, saya mengucapkan terima kasih kepada PUSKAPA yang sudah benar-benar serius menyediakan wadah belajar kerja dan terima kasih kepada PUSKAPA atas tiga bulan yang mengubah saya menjadi pribadi yang lebih baik. Harapannya, semoga kesempatan seperti ini bisa terlaksana kembali dan membuka kesempatan lebih banyak bagi mahasiswa lainya.

Qodri Azizi Akbar

FKM Universitas Indonesia

PUSKAPA

Written by

PUSKAPA

We work with policymakers and civil society on inclusive solutions that create equal opportunities for all children and vulnerable populations.

More From Medium

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade