Sejarah, Pengertian dan Struktur, Kadar dan Bentuk Ideologi Patriarki

Sejarah Ideologi Patriarki

Adi Warani
Mar 13, 2016 · 7 min read

Keberadaan ideologi patriarki dalam masyarakat tidak terlepas dari sejarah peradaban manusia. Pada masa silam manusia mengantungkan hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan ini dilakukan oleh laki-laki, sementara perempuan tinggal di rumah. Kondisi demikian, menjadikan perempuan memiliki banyak waktu senggang, sehingga perempuan menggunakan waktu senggangnya tersebut untuk bertani. Hal ini dikemukakan pula oleh Setiawan (2012: 13), bahwa ketika laki-laki berangkat ke hutan berburu, maka perempuan menanam umbi-umbian dan biji-bijian di tanah datar yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Kaum perempuanlah penemu pertama ‘ilmu cocok tanam’ dan sekaligus pekerja pertanian yang pertama.

Seiring berkembangnya zaman, kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan tidak cocok lagi dilakukan karena kondisi alam yang berubah. Hal tersebut membuat laki-laki mengambil alih lahan produksi pertanian perempuan. Karena keharusan untuk mempertahankan hidupnya, manusia membuat perkembangan teknologi berlangsung dengan pesat di tengah masyarakat pertanian. Hal ini senada yang dikemukakan oleh Saadawi dalam Kusuma (2012: 18), bahwa kehidupan pertanian menjadi sumber makanan tetap untuk masyarakat, sehingga cara-cara dan teknologi semakin dimajukan.

Sejak saat itu, proses produksi yang sebelumnya dikerjakan bersama-sama (komunal), akhinya dapat dikerjakan secara sendirian (individual), sehingga proses komunal dalam menghasilkan sumber penghidupan berangsur-angsur tergantikan oleh proses individual dan menjadikan hasil produksi menjadi milik individu. Dari sinilah, sistem pertanian memperkenalkan kepemilikan pribadi pada umat manusia. Hal ini yang menjadi akar dari lahirnya sistem patriarki. Seperti yang dikatakan Engels dalam Budiman (1981 :23), bahwa sistem patriarki dimulai ketika manusia mulai mengenal kepemilikan pribadi, di mana sistem kepemilikan ini juga menandai lahirnya sistem kelas.

Kelahiran sistem patriarki tersebut, membuat perempuan tergeser ke pekerjaan-pekerjaan domestik dan bekerja sesuai keinginan laki-laki. Hal ini menjadi akar dominasi laki-laki terhadap perempuan. Seperti yang disampaikan Engels dalam Budiman (1981: 23), bahwa kemunculan sistem patriarki menjadikan perempuan sebagai makhluk pengabdi saja. Perempuan menjadi budak dari keserakahan laki-laki, dan menjadi mesin pembuat anak-anak belaka.

Selain itu, marginalisasi perempuan dalam sistem patriarki diperparah dengan anggapan bahwa segala hal yang dilakukan perempuan dalam ranah domestik bukanlah sesuatu yang perlu dihargai dan diperhitungkan. Hal ini disampaikan oleh Setiawan (2012: 19), bahwa perempuan rumah tangga yang siang-malam tidak pernah berhenti bekerja, tidak dianggap bekerja oleh kaum laki-laki dan bahkan oleh kaum perempuan sendiri. Karena bekerja baru dikatakan bekerja ketika menyangkut proses produksi dan menghasilkan nilai-nilai ekonomi.

Pengertian dan Struktur Ideologi Patriarki

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2014: 517), ideologi diartikan sebagai kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup atau cara berpikir seseorang atau golongan. Eagleton dalam Takwin (2003: 3) menambahkan bahwa ideologi adalah ide-ide yang membantu melegitimasi kekuatan politik dominan. Adapun dalam artian negatif, ideologi adalah kesadaran palsu yang memutarbalikkan realitas. Ideologi ‘membutakan’ manusia dari kenyataan yang sesungguhnya (Karl Marx dalam Takwin, 2003: 6).

Selanjutnya, definisi patriarki adalah sebuah sistem yang menganggap kaum laki-laki ditakdirkan untuk mengatur perempuan. Hal ini berlaku kokoh di seluruh dunia (Fromm dalam Adji dkk 2009: 9). Kemudian diperjelas oleh pendapat Walby (2014: 28), yang menyatakan bahwa patriarki adalah sebuah sistem struktur sosial dan praktik-praktik yang memosisikan laki-laki sebagai pihak yang mendominasi, menindas dan mengeksploitasi kaum perempuan. Penggunaan istilah struktur sosial untuk menunjukkan penolakan terhadap determinisme biologis dan gagasan bahwa setiap individu laki-laki berada pada posisi dominan dan setiap individu perempuan dalam posisi subordinat. Berdasarkan definisi tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa patriarki adalah sistem sosial yang berlaku di dalam masyarakat yang melanggengkan dominasi laki-laki terhadap kaum perempuan.

Walby (2014: 29-30), juga menjelaskan mengenai struktur-struktur dari patriarki, sebagai berikut:

Relasi produksi patriarki dalam keluarga

Dalam struktur ini, pekerjaan rumah tangga perempuan diambil alih oleh suami mereka atau orang-orang yang tinggal bersama mereka. Seorang perempuan boleh jadi menerima pemeliharaan sebagai ganti dari pekerjaan mereka, khususnya saat mereka tidak memiliki pekerjaan dengan upah. Ibu rumah tangga adalah kelas yang memproduksi, sementara para suami adalah kelas pengambil alih.

Relasi patriarki pada pekerjaan dengan upah

Struktur patriarki kedua pada level ekonomi adalah relasi patriarki dalam pekerjaan dengan upah. Sebuah bentuk penutupan patriarki yang kompleks di dalam pekerjaan dengan gaji melarang perempuan masuk ke dalam jenis pekerjaan yang lebih baik dan memisahkan mereka ke dalam pekerjaan yang lebih buruk yang menganggap mereka kurang terampil.

Relasi patriarki dalam negara

Negara juga patriarki sekaligus kapitalis dan rasialis. Sebagai arena perjuangan dan bukan sebagai entitas monolitis, negara memiliki bias sistematis terhadap kepentingan patriarki seperti tampak dalam kebijakan-kebijakan dan tindakan-tindakannya. Misalnya, laki-laki mendapatkan kekebalan hukum dari kekerasan yang dilakukanya kepada perempuan. Pada praktiknya, kekerasan ini disahkan oleh negara, karena negara tidak melakukan tindakan efektif apa pun untuk melawannya.

Kekerasan laki-laki

Kekerasan laki-laki merupakan perilaku rutin yang dialami oleh perempuan, dengan akibat standar atas perilaku kebanyakan perempuan. Kekerasan ini secara sistematis dimaafkan dan disahkan oleh penolakan negara untuk campur tangan melawan kekerasan tersebut, kecuali dalam kejadian-kejadian khusus, meskipun praktik pemerkosaan, pemukulan terhadap istri, pelecehan seksual dan lain-lain, terlalu terdesentralisasi dalam praktik mereka sebagai bagian dari negara itu sendiri.

Relasi patriarki dalam seksualitas

Bentuk kunci dari struktur ini adalah heteroseksualitas yang wajib dan standar ganda seksual. Struktur patriarki dalam seksualitas membahas tentang alasan-alasan bagi orientasi seksual sebagai seorang heteroseksual, lesbian maupun homoseksual. Alasan ini merupakan pertanyaan sentral bagi analisis feminis radikal, karena melalui alasan inilah hubungan antara bentuk seksualitas yang didominasi laki-laki dan patriarki dibangun.

Relasi patriarki dalam lembaga budaya

Lembaga budaya melengkapi susunan struktur sebelumnya. Lembaga-lembaga ini penting untuk pembangkitan berbagai variasi subjektivitas gender dalam bentuk yang berbeda-beda. Struktur ini terdiri dari seperangkat lembaga yang menciptakan representasi perempuan dari pandangan patriarki dalam berbagai arena, diantaranya seperti agama, pendidikan dan media.

Selain itu, struktur relasi patriarki dalam lembaga budaya mencakup gagasan-gagasan maskulinitas dan feminitas – hal-hal yang membedakan keduanya. Maskulinitas mengharuskan ketegasan, aktif, lincah, dan cepat mengambil inisiatif, sedangkan feminitas mengharuskan kerjasama, pasif, lembut dan emosional. Identitas maskulin dan feminin di atas disosialisasikan pada gender tertentu sejak lahir dalam lingkungan keluarga.

Kadar dan Bentuk Patriarki

Seiring berkembangnya zaman, patriarki juga terus memperbaharui dirinya. Walby (2014: 33) mengemukakan bahwa terjadi banyak perubahan dalam patriarki baik dalam kadar maupun bentuknya. Perubahan pada kadar patriarki termasuk aspek relasi gender seperti sedikit berkurangnya selisih gaji antara laki-laki dan perempuan, dan semakin tertutupnya jurang kualifikasi pendidikan laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, beberapa aspek relasi patriarki yang lain mengalami peningkatan.

Menurut Walby (2014: 261-278) selain pada kadar patriarki, perubahan juga terjadi pada bentuk patriarki. Perubahan bentuk patriarki tersebut berupa patriarki privat dan patriarki publik. Kedua bentuk perubahan patriarki tersebut, dijelaskan sebagai berikut:

Perbedaan Patriarki Privat dan Patriarki Publik

Dalam bentuk patriarki privat, arena utama penindasan perempuan terletak pada produksi rumah tangga, dengan seorang patriarki mengontrol perempuan secara individu di dalam rumah, sedangkan dalam patriarki publik terletak pada pekerjaan dan negara, meskipun keluarga tidak berhenti menjadi struktur patriarki dalam bentuk publik, tetapi tidak lagi menjadi arena unggulan. Selain itu, dalam patriarki privat perampasan pekerjaan perempuan terjadi oleh individu patriarki dalam keluarga, sementara di dalam bentuk publik pengerukan dilakukan secara kolektif.

Dalam patriarki privat, strategi patriarki yang prinsip adalah penyingkiran. Hal ini berupa eksploitasi perempuan dengan tidak melibatkannya di dalam ruang publik, sedangkan dalam publik berupa strategi segregasi dan subordinasi yang berupa keterlibatan perempuan dalam ranah publik namun mengakibatkan eksploitasi perempuan dalam semua level. Hal ini karena kehadiran perempuan dalam ranah publik dibatasi pada pekerjaan-pekerjaan yang dipisahkan dari dan dihargai lebih rendah ketimbang laki-laki.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa patriarki privat adalah bentuk patriarki yang menyingkirkan perempuan dari ruang publik dan mengarahkan perempuan pada pekerjaan domestik. Patriarki publik adalah bentuk patriarki yang menyediakan tempat bagi perempuan di ruang publik, namun posisinya tersubordinasi dari laki-laki.

Pergeseran dari Patriarki Publik ke Privat

Walby (2014 : 274) tidak menyepakati pendapat beberapa penulis yang mengatakan bahwa kapitalisme adalah penyebab utama perubahan-perubahan relasi gender. Misalnya, penulis yang beranggapan bahwa pertumbuhan kapitalisme menyebabkan pemisahan di antara rumah dan kerja. Karena menurutnya meskipun kebangkitan kapitalisme mengawali perkembangan bentuk patriarki baru, tetap saja tidak menyebabkan perubahan di dalam struktur-struktur dasarnya. Relasi produksi di dalam rumah tangga sudah ada, sebelum kapitalisme.

Pergeseran patriarki publik ke privat bukanlah karena kapitalisme, melainkan oleh tekanan-tekanan patriarki sendiri. Perempuan-perempuan miskin tersingkir dari pabrik, setelah mereka menikah dengan laki-laki kaya (penguasa) dan tidak terlibat lagi dalam ‘pekerjaan’ pada periode mana pun. Bentuk pergeseran lainnya adalah perempuan yang secara terus-menerus kehilangan di berbagai area pekerjaan yang sudah menjadi miliknya dan kehilangan hak-hak legal tertentu atas tanah yang mereka pegang sebelumnya (Pinchbeck, 1930; Schreiner, 1918).

Pergeseran patriarki publik ke patriarki privat, dapat disimpulkan sebagai peralihan perempuan dari ranah publik ke ranah domestik. Hal ini bukan disebabkan oleh kebangkitan dari kapitalisme, melainkan karena ideologi patriarki itu sendiri. Meskipun tidak dipungkiri bahwa kapitalisme melahirkan patriarki yang lebih berkembang.

Gerakan dari Patriarki Privat ke Publik

Perubahan patriarki privat menuju patriaki publik memang sangatlah signifikan. Perubahan-perubahan penting pada relasi gender tersebut terjadi selama abad kedua puluh. Gerakan menuju bentuk patriarki privat yang lebih tajam secara dramatis terbalik selama periode pergantian abad. Abad kedua puluh telah menimbulkan pergerakan tajam dari patriarki privat ke publik, sekaligus pengurangan dalam derajat bentuk ketertindasan khusus perempuan.

Hal ini bukanlah sekadar sebuah pernyataan bahwa ada perubahan-perubahan penting, tetapi, selanjutnya bahwa perubahan yang ada sangat berkebalikan. Semua enam struktur patriarki yang ada termasuk di dalam perubahan-perubahan ini. Ada perlawanan dari para feminis melawan praktik-praktik sosial patriarki yang ditantang dengan perlawanan. Kampanye-kampanye mereka terjadi dalam konteks, dan dibentuk oleh permintaan kapitalis terhadap buruh. Hasil dari pergolakan ini adalah sebuah perubahan dalam kadar tinggi ke bentuk lain bersama dengan beberapa pengurangan pada kadar patriarki di area-area tertentu, sehingga menghasilkan berbagai dampak kompleks yang saling terkait dengan aspek-aspek relasi patriarki lain.

Kemenangan kaum feminis atas kewarganegaraan politik tidak hanya memberi hak pilih pada perempuan, tetapi juga hak pendidikan yang kemudian membuka akses pada jenis pekerjaan, kepemilikan harta dan hak meninggalkan pernikahan. Namun, absennya kemenangan politik peningkatan upah buruh perempuan melahirkan eksploitasi tambahan pada dirinya, sehingga perempuan perlu menggunakan perubahan-perubahan ekonomi untuk memperluas ruang operasi mereka.

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA
Adji, dkk. 2009. “Konstruksi Relasi Laki-laki dan Perempuan dalam Sistem Patriarki (Kajian terhadap Karya Djenar Maesa Ayu dengan Pendekatan Feminisme)” Laporan Penelitian. Tidak Diterbitkan. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Budiman, Arif. 1981. Pembagian Kerja Secara Seksual: Sebuah Pembahasan Sosiologis tentang Peran Wanita di dalam Masyarakat. Jakarta: Gramedia.

Kusuma, Dewi Hasti. 2012. “Marginalisasi Perempuan dalam novel Adam Hawa Karya Muhidin M. Dahlan (Analisis Kritik Sastra Feminis)” Skripsi. Tidak Diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Pusat Bahasa. 2014. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Setiawan, Hersri. 2012. Awan Theklek Mbengi lemek; Tentang Perempuan dan Pengasuhan Anak. Yogyakarta: Sekolah mBrosot dan Gading Publishing.

Takwin, Bagus. 2003. Akar - Akar Ideologi. Yogyakarta: Jalasutra.

Walby, Sylvia. 2014. Theorizing Patriarchy. Diterjemahkan oleh Mustika K. Prasela dengan judul Teorisasi Patriarki. Yogyakarta: Jalasutra.

    Adi Warani

    Written by

    Pembaca yang belajar menulis!

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade