EMMA’: KISAH FEMINISME ATAU PATRIARKI?

Kemal Putra
Jul 24, 2017 · 7 min read

Pembacaan Usai Menyaksikan Emma’ (Versi Internasional Film Athirah)

Malam itu saya berkesempatan lagi menghadiri pemutaran khusus tahunan yang digelar Rumata’ Artspace untuk para Pelajar BSBI — sebuah program beasiswa dari Kemlu untuk pelajar asing dan Indonesia. Ini kedua kalinya saya menghadiri pemutaran khusus ini. Jika tahun lalu saya menghadiri pemutaran Drupadi karya Riri Riza—yang sulit diakses masyarakat luas — , maka kali ini saya menyaksikan Emma’, versi internasional dari Athirah. Pemutaran ini dipandu oleh Riri Riza yang kemudian didiskusikan di akhir pemutaran. Konon kabarnya Emma’ adalah versi yang diputar di festival-festival film internasional saja, versi berbeda dengan yang masyarakat konsumsi lewat bioskop maupun TV. Itu sebabnya dua kali menghadiri pemutaran khusus untuk BSBI ini ibarat akses untuk menyaksikan film-film Riri Riza yang langka, khususnya di Makassar yang memang kekurangan bioskop alternatif/independen.


Emma’ dan Athirah tentu masih memiliki kisah yang sama, hanya saja dengan konklusi berbeda. Jika diperhatikan juga, kedua versi ini memiliki sudut pandang narasi yang berbeda. Dalam Athirah, kita tidak hanya menemukan potongan kisah hidup Ibunda Jusuf kalla, tapi juga bersisian dengan potongan kisah hidup Jusuf Kalla sendiri. Cocoklah jika film ini diberikan ke khalayak penonton Indonesia. Jusuf Kalla adalah sosok wakil presiden Indonesia yang sudah menjabat dua kali, masyarakat tentu ingin sekalian melihat perjalanan hidupnya ketika mereka menyaksikan film mengenai ibundanya. Dalam Athirah, yang membawa kita memasuki narasi hidup Athirah (nama dari Ibunda Jusuf Kalla sendiri) adalah faktor kedekatan antara masyarakat dengan wakil pemimpinnya, kita dengan Jusuf Kalla. Ini menjadikan Athirah sebagai tontonan yang khusus.

Ketika film ini dibawa ke penonton yang lebih luas, ke Vancouver-Kanada, atau Tokyo-Jepang, misalnya, berapa banyak penonton di sana yang kira-kira peduli film ini mengenai Jusuf Kalla atau bukan? Atau berapa banyak kira-kira penonton yang mau mencari tahu mengenai Jusuf Kalla di Google setelah menyaksikan filmnya? Ketika Emma’ diputar di Rumata’ Artspace malam itu, salah seorang pelajar BSBI dari Serbia justru meng-Google Cut Mini karena terpukau dengan penampilannya. Itulah mengapa—berdasarkan dugaan saya—guna memuat penonton dunia terhubung dengan kisah Emma’, porsi cerita Jusuf Kalla menjadi begitu tidak signifikan di sini. Fokus utamanya adalah kisah Athirah, ini makin dipertegas lagi nanti di akhir cerita. Emma’ (sekali lagi saya tegaskan sebagai versi internasional dari Athirah) adalah kisah seorang ibu, dan ini yang membuat ia terasa universal, bukan terkhususkan.

Di kebanyakan tulisan dan pandangan orang mengenai Athirah, mereka melabelinya sebagai film dengan semangat feminisme, yang mana saya tidak menolaknya, tapi tidak percayai juga sepenuhnya. Bagi saya Emma’/Athirah yang berlatar tahun-tahun awal pasca Proklamasi adalah film yang memotret bagaimana patriarki bekerja secara kolektif sejak masa lampau, terutama akibat kolonialisme Belanda (menurut Prof. Saskia Wieringa dari Universiteit van Amsterdam) dan terwariskan ke generasi mendatang. Pada porsi ini, tentu tak ada yang salah. Dalam Athirah, Riri Riza tidak menglorifikasi patriarki, ia semata memotretnya.

Dalam Athirah, kisah Ucu’ (nama sapaan Jusuf Kalla) dan Ida adalah romansa. Kita melihat mereka berdua bertemu kembali setelah mereka dewasa dan mengisyaratkan bahwa keduanya akan menjadi sepasang kekasih. Sementara dalam Emma’, kisah Ucu’ dan Ida adalah tragedi, dan ini menjadi bagian paling dramatis dalam Emma’ karena menjadi isyarat efek dari sistem patriarki. Di mata internasional, kisah cinta Ucu’ kandas di Bantimurung begitu Ida menolaknya dengan alasan (alasan ini berupa pesan dari Bapak Ida kepada Ida) karena bapak Ucu’ beristri dua, ia takut kelak Ucu’ juga melakukan hal serupa. Di mata internasional, kisah cinta Ucu’ dan Ida (yang kita curigai menaruh hati juga terhadap Ucu’) kandas akibat bapak Ucu’ yang berpoligami. Pilihan berpoligami oleh seorang bapak tidak mengalir dalam gen, jadi ia tidak mungkin secara otomatis terwariskan seperti yang ditakutkan Ida (atau bapak Ida). Poligami adalah sikap yang dicontohi (dan di masa kini dipengaruhi banyak faktor). Dalam kasus poligami, kebenaran untuk melakukannya dijunjung karena ada yang melakukannya. Di masa lampau, poligami dilakukan sebagai lambang kemakmuran seorang pria. Walau tak pernah dijelaskan dalam film mengapa Haji Kalla (Ayah Ucu’) mau berpoligami, namun latar belakang hidupnya memperlihatkan jika ia adalah pria yang kaya raya dan terpandang saat itu. Poligami di beberapa daerah, termasuk daerah yang menjadi latar kisah Athirah, Sulawesi Selatan, diterima dalam diam oleh masyarakat. Selain itu, poligami dipatuhi karena bagian dari Sunnah Nabi, alasan ini kerap kali diverbalkan sebagai alasan utama pria mau berpoligami.

Dalam Athirah, sekali pun tokoh utamanya perempuan, tapi hampir di sepanjang narasi kita seolah melihat Athirah lewat male gaze (sudut pandang laki-laki), yaitu lewat mata Ucu’. Bagi saya, male gaze ini dipertegas lewat salah satu adegan penutup manis pertemuan Ucu’ dan Ida di bank saat mereka beranjak dewasa. Akhir yang manis bagi keduanya ini tidak punya pengaruh besar bagi jalannya cerita, kecuali untuk memuaskan penonton akan nasib asmara Ucu’ dan karena kenyataan bahwa Ucu’-lah yang mengarahkan kita masuk ke dalam narasi Athirah. Sementara dalam Emma’, Athirah berhasil melihat dirinya sendiri. Sudut pandang anaknya ada, tapi tidak menguasai seluruh jalan cerita. Akhir kisah Emma’ yang tidak ada hubungan dengan Ucu’ mengisyaratkan pencapaian Athirah yang hanya Athirah sendiri mampu rasakan, dan mungkin gagal disaksikan oleh Ucu’.

Dalam Emma’ (juga dalam Athirah), keberadaan Haji Kalla (sebagai sosok pemimpin bagi keluarga, bapak bagi Ucu’, suami bagi Athirah) bisa dibilang absen semenjak ia berpoligami. Ia hadir, tapi tidak intens. Namun begitu, kuasa patriarki hampir terasa di sepanjang cerita. Ini artinya patriarki tidak selalu berurusan dengan laki-laki. Patriarki juga bisa dilanggengkan oleh perempuan. Ini terjadi jika perempuan terlanjur memercayai apa yang laki-laki percayai, bahwa laki-laki kodratnya lebih tinggi dari perempuan. Athirah sebagai seorang ibu, entah sadar atau tidak, juga memercayai ini.

Saya sendiri dibesarkan dalam keluarga di mana dua generasi prianya berpoligami; kakek dan bapak saya. Bagian inilah yang menghubungkan saya dengan kisah Emma’. Di lingkungan saya dulu tinggal, di sebuah desa kecil yang jaraknya sekitar dua jam dari kota Palopo, poligami sepertinya adalah hal yang lumrah di zaman dulu. Selain kakek saya, kakek salah seorang teman kecil saya juga berpoligami. Ini menjadi lumrah karena sepertinya tidak pernah dibicarakan secara kritis oleh mereka yang telah dipoligami. Saya menduga membahas mengenai poligami dari sisi seorang istri di zaman dulu diangap membuka aib sendiri. Nenek saya juga tak pernah membicarakannya, bahkan dalam konteks masa lalu. Dalam kisah Emma’/Athirah, nenek Ucu’ juga mengalami poligami, tapi tak pernah ia singgung sebagai sebuah persoalan. Bahkan ketika nenek Ucu’ mengetahui putrinya, Athirah dimadu (di-poligami), si nenek tidak pernah mengobrolkan—dari hati ke hati—mengenai poligami ini, padahal mereka berdua sama-sama mengalaminya. Saya sependapat dengan Riri Riza, bahwa dalam kebiasaan keluarga Indonesia, atau Sulawesi khususnya, sebuah masalah tak pernah diumbar secara verbal. Ia cukup dirasakan dan disimpan. Tapi kemudian ketika ini menyangkut poligami, ketika ia didiamkan, ini memperlihatkan bahwa ia diterima. Belum lagi kenyataan bahwa perempuan memang dididik agar menjadi pasif.

Dalam kasus Athirah, ia sama sekali tidak setuju, tapi tetap pasrah karena ketidaksetujuannya yang berujung rasa luka tak ia komunikasikan. Baginya, suami yang berpoligami adalah kesalahan si istri. Itu sebabnya dalam film, kita akan menemukan lebih banyak adegan yang memperlihatkan usaha Athirah merebut kembali hati suaminya yang telah mendua daripada adegan yang berusaha memperlihatkan Athirah berontak ke Haji Kalla. Ini juga terjadi di lingkungan dulu saya tinggal. Poligami tak pernah dibicarakan oleh yang mengalaminya, nenek saya, misalnya. Tetapi ketika menjadi materi gosip para tetangga, yang disoroti adalah perempuan, bukan laki-laki. Seolah ini menjadi kesalahan perempuan, ketimbang laki-laki.

Ketika ayah saya menikah lagi—syukurlah karena berujung perceraian karena tidak diterima dengan lapang dada oleh ibu saya — , saya mengalami apa yang Ucu’ alami — Walau pada akhirnya Ucu’ berhasil menjadi wakil presiden, sementara saya, apalah saya. Ketika masih kecil, oleh nenek, ibu atau kerabat lainnya, saya selalu disuruh belajar tekun agar kelak bisa meraih kesuksesan melampaui capaian ayah saya. Saya menjadi pusat, sekaligus harapan pengganti ayah saya. Sementara kakak saya, seorang perempuan, tidak pernah diperlakukan demikian. Sewaktu kecil, dorong-dorongan seperti ini di mana ayah saya sebagai pembanding, menjadi sebuah privilese tersendiri bagi saya. Privilese karena cuma saya yang mendapatkannya. Tentu saja begitu beranjak dewasa, privilese ini hanya berakhir sebagai beban. Serupa dalam kisah Emma’ (juga Athirah), Ucu’ yang masih remaja dipaksa menjadi cepat dewasa. Ia mendapat perlakuan yang istimewa. Oleh ibunya, ia didorong menjadi kepala keluarga pengganti bapaknya. Ada adegan ketika Ucu’ dibelikan sebuah songkok warisan Raja Bone oleh ibunya, ibunya berujar kurang lebih bunyinya seperti ini, “Kelak kamu akan jadi orang besar”. Ini menegaskan bahwa harapan ibunya kepada Ucu’ sebagai anak lelaki sangat besar, apalagi sejak ayahnya menikah. Sebagai laki-laki, ia menjadi tumpuan ibunya. Ucu’ menjadi pusat dalam keluarganya yang didominasi perempuan. Perlakuan istimewa yang diberikan kepada Ucu’ berbeda sekali dengan yang diterima kakaknya, seorang perempuan. Si kakak perempuan tidak pernah didorong sebagai pemimpin. Tak ada satu pun adegan yang memperlihatkan bahwa si kakak menjadi tumpuan ibunya. Perbedaan perlakuan ini patutlah kita curigai karena perbedaan gender. Kakak, yang posisinya lebih tinggi dari adik tercabut haknya sebagai pemimpin hanya karena ia perempuan. Laki-laki tetap dianggap tinggi kodratnya, karena gender-nya, bukan karena urutan kelahirannya. Pada akhirnya, harapan ibunya melihat Ucu’ sebagai pemimpin dalam keluarga diadopsi dengan baik oleh Ucu’.

Penjelasan saya di atas memperihatkan bahwa Athirah tidak mampu melepaskan dirinya dari sistem patriarki yang membudaya dalam masyarakat, tapi saya juga sepakat dengan pendapat bahwa ada semangat feminisme dalam diri Athirah. Athirah memproduksi dan menjual sarungnya sendiri, tanpa pernah sekalipun diperlihatkan ia meminta izin dari suaminya. Sebuah isyarat bahwa kala itu Athirah sebenarnya juga punya kebebasan memilih. Dalam sebuah adegan juga diperlihatkan keinginan Athirah mendirikan sebuah sekolah. Adegan ini merupakan sebuah aha moment, keinginan yang datang dari dalam diri Athirah sendiri yang tak pernah ia obrolkan sebelumnya dengan suaminya atau juga Ucu’. Adegan klimaks ketika Athirah menyerahkan harta simpanannya kepada suaminya—guna menyelamatkan usaha suaminya yang bankut — juga memotret dua hal yang signifikan; Athirah punya kebebasan menjalankan bisnisnya sendiri tanpa bayang-bayang suaminya, dan ia cerdas karena mampu mengelolah bisnisnya dengan baik. Dua kualitas ini memperlihatkan bahwa perempuan bisa independen dan kemampuannya tak kalah baiknya dengan laki-laki. Hanya saja kemampuan Athirah ini gagal ia sadari kala itu karena dikaburkan oleh kuasa laki-laki. Andai saja Athirah paham bahwa pencapaiannya adalah sebuah emansipasi, maka ia akan mendorong anak perempuannya sekuat ia mendorong anak laki-lakinya, seperti yang kita saksikan dalam filmnya.


Athirah/Emma’ merupakan film karya Riri Riza, produksi Miles Films yang dirilis pada 2016.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade