Hari Memilih

Hari ini, pemilihan pemimpin daerah; Gubernur dan wakilnya, Walikota dan wakilnya, atau Bupati dan wakilnya, berlangsung di berbagi daerah di negeri ini, sebut saja Pilkada serentak. Semoga yang terpilih adalah representasi suara rakyat yang memang dibutuhkan oleh rakyat.

“Paling kurang dua pertiga kemalangan kita berasal dari kebodohan manusia, kebencian manusia, para motivator dan hakim penentu kebencian dan kebodohan, idealisme, dogmatisme, dan penyepuhan label atas nama berhala agama atau politik”, Aldous Huxley, sastrawan Inggris. Kira-kira demikianlah wajah politik, dimanapun ia menampakkan rautnya.

Ini bukan tentang politik yang hendak saya tuliskan. Walau sebenarnya saya telah menuliskannya beberapa bagian, sebut saja secuil.


Sejujurnya, saya ingin menuliskan bahwa saya merindukanmu. Pertemuan kemarin hari yang sangat singkat, ternyata menyisakan rindu yang menyesakkan dada. Sungguh, ini kalimat klise. Tapi, beginilah kira-kira rasa kalau belum usai.

Untuk melihat wajahmu yang menyemburatkan senyum, saya perlu waktu lama untuk bisa memalingkannya. Ah, lelaki mana yang punya kuasa untuk berpaling dari tatapanmu!


Hari ini, saya memilihmu. Maksudku, semenjak bertemu langsung denganmu, semenjak itu pula saya memilihmu. Memilih untuk menggenapkan iman, iman masing-masing.

Memilih untuk seterusnya bertahan pada pilihin itu. Walau sesungguhnya dirimu belum tentu memilihku. Ah, soal pilihan, saya yakin manusia hanya berhak diwilayah proses. Hasil akhir, Tuhan jualah yang menentukan.


Hari memilih, hari ini saya memilihmu.

Untuk selanjutnya, saya ingin membalik kata itu menjadi “memilih hari”. Memilih hari, dimana di hari itu, Tuhan telah merestui. Semoga!

Gowa, 15 Februari 2017

Like what you read? Give Astaman Putra a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.