Kamis

Tidak banyak yang tahu, barangkali, bahwa kita memperoleh nama-nama hari bukan dari Bangsa Romawi tetapi dari Bangsa Anglo-Saxon, yang menamai sebagian besar dari hari-hari menurut nama dewa-dewa mereka, yang kurang lebih sama dengan dewa-dewa Bangsa Romawi.

Hari Romawi Yupiter; dewa guntur, menjadi hari guntur dewa Thor, dan ini menjadi Thursday (Kamis). Kira-kira begitulah kalau mau berselancar di dunia maya dengan mencari hari bersejarah tentang hari Kamis. Cukup! Jangan tanyakan panjang lebar tentang hari Kamis, karena saya cuman tahu sedikit, itupun tahunya baru sekarang.

Tentang Kamis, yang tak manis, apalagi pahit. Hari yang biasa-biasa saja. Tidak juga hari istimewa, apalagi campur keju, susu, kacang, strawberry, atau blueberry (Maaf, yang ini hanya ingatanku tentang terang bulan atau roti bakar).


Tahu bahwa tempe itu bukan tahu? Ya, iyalah. Jelas! Maksudku, tahu bahwa hari Kamis kali ini tidak istimewah? Itu karena kita tidak bersama. Tidak bersama karena kita masing-masing sibuk dengan urusan masing-masing. Dan masing-masing beraktivitas sesuai keinginan masing-masing. Masing-masing? Iya, masing-masing. Dan masih banyak kemungkinan masing-masing yang lain.

Tahu kan bahwa kita dianjurkan untuk berpuasa di hari Kamis? Pastinya kamu tahu. Tetapi, kamu juga harus tahu bahwa sesungguhnya, saya tidak ingin berpuasa bertemu denganmu. Katakanlah bahwa kamu juga memiliki pikiran yang demikian. Maksudku, tidak ingin berpuasa bertemu denganku. Walau bertemunya hanya beberapa saat. Seperti kemarin; kamu mengirimkanku sms untuk dijemput, kemudian saya datang, ditengah perjalanan kita singgah untuk sekedar menyantap makan malam, lalu mengantarmu pulang. Ah, sungguh pertemuan sesaat yang begitu indah.

Bolehkah kita mengulang moment yang demikian setiap hari? Atau kalau kamu keberatan, cukup diet, tetapi jangan telat makan. Maksudku, kalau kamu sibuk, ya tidak apa-apa. Cukup saya yang memahami bahwa cinta memang butuh pengertian. Asalkan kamu membalas chatku dengan cepat, itu sudah cukup. Atau kamu memberi kabar bahwa kamu sedang baik-baik saja. Atau kamu mengatakan bahwa saya keluar bersama teman ke bioskop untuk nonton film yang baru rilis. Atau saya keluar cari bakso bakar, karena kali ini saya ingin sekali makan bakso tersebut. Atau? Ah, sudahlah.

Setahu saya, Sujiwo Tejo pernah berkata “Rindu dikalikan jarak sama dengan aku”. Maka saya ingin mengatakan bahwa saya rindu. Di Kamis kali ini! Walau sebenarnya kita bertemu lewat teks, bagiku itu belumlah cukup. Saya ingin melihatmu secara langsung. Memang kalimatnya klise. Tapi, itulah yang saya rasa; rindu.


Demikianlah, saya menulis kali ini; Kamis yang tak gerimis, karena tak bertemu gadis manis, yang tanpa pensil alis.

Gowa, 16 Maret 2017

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Astaman Putra’s story.