Pesan

Sedari awal, saya ingin menunjukkan betapa saya ingin serius kepadamu. Tentang pesan singkat melalui percakapan WhatsApp; bagaimana kabarmu hari ini, sudah makan atau belum, hingga emotion love. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa saya serius.

Masih tersimpan dengan rapi, ingatan tentang kata-kata yang kamu kirimkan kepadaku malam itu. Melalui percakapan di dunia maya, yang sebelumnya biasa-biasa saja, hingga karena sering chat denganmu, terasa ada yang menyenangkan setiap mengirimkanmu pesan apalagi dirimu membalas chatku tersebut dengan cekatan.

Saya masih ingat, malam pertama memulai percakapan denganmu melalui media sosial. Dirimu begitu ramah, juga begitu polos. Maksudku, kamu mungkin dengan mudah dapat menjalin komunikasi dengan siapapun, hingga kata-katamu masih sangat kental nuansa lokalnya. Tenang, hal itu bukanlah sesuatu yang buruk. Bukankah sekarang memang penting mempertahan lokalitas ditengah gempuran globalitas!

Tentang sebuah pesan, sebagaimana pesan cinta Qais kepada Laila. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Qais merasa bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia juga menyapa burung-burung dan meminta mereka terbang kepada Laila serta memberitahunya bahwa ia dekat.

Bahkan Qais berujar bahwa “ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila”. Juga, jika kebetulan ada seekor anjing tersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya, mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormati dan menjaganya sampai tiba saatnya anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.


Saya harus menyangkal bahwa sangat sulit menjadi seperti Qais. Benar bahwa memang terkadang cinta itu buta, tapi harus dipahami bahwa ia juga butuh dunia yang realis.

Hingga tiba malam itu, ketika pesan yang kamu kirimkan, bahwa perasaanmu masih belum mampu membalas perasaanku. Sungguh, pertahananku sempat goyah untuk berhenti mengejarmu.

Adakah kata yang dapat meruntuhkan rasa selain penolakan dari seorang perempuan pujaan hati? Ini bukan semata perihal cinta yang tulus, tetapi cinta juga butuh berbalas rumus.

Tenang; dinda. Jika suatu waktu kamu merasa lelah berlari karena dikejar, saya akan berhenti, lalu pergi. Bukan karena saya juga lelah mengejar, tetapi saya harus sadar bahwa penolakan juga bagian dari belajar.

Gowa, 05 April 2017

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Astaman Putra’s story.