Rindu yang tak pernah benar-benar jujur

Ketika senja perlahan menenggelamkan diri, pertanda malam rindu menampakkan wajahnya. Dan, ketika raga jarang bertemu, disaat itulah rindu kian menggebu.

Pernah suatu malam saya benar-benar memimpikanmu. Entah angin apa yang berhembus, hingga ia merasuk sampai ke alam bawah sadar saya. Tidak ada yang sepunuhnya nyata sampai pagi tiba-tiba membangunkan, seketika itu saya tersadar bahwa saya hanya bertemu denganmu lewat alam yang lain.

Sejatinya, kita hanyalah dua kemungkinan yang selalu saya harap menjadi nyata. Tentu dirimu paham, disaat itulah Tuhan menundukkan semesta menyertai kita.

Saban hari, kira-kira sehari sebelum hari ini, untuk pertama kalinya kita bertemu kembali, setelah libur hari raya. Dengan kerudung kuning yang kamu kenakan, tidak ada alasan untuk tidak merindukanmu setelah pertemuan singkat tersebut. Pun tanpa itu, saya selalu merindukanmu.


Barangkali, kita masih sama-sama memiliki ruang untuk tidak mengungkap segala hal menyangkut rasa masing-masing. Tentu, itu bukanlah sebuah kesalahan. Pun, tanpa itu, tidak lantas menjadi kebenaran.

Satu hal yang menurutku pasti, atau setidaknya mendekati kepastian, bahwa kita masing-masing memiliki rasa, yang relasinya ialah kasih sayang antar lawan jenis, dan tentunya bermuara pada kasih sayang Tuhan.

Karena sejatinya tidak ada yang benar-benar sanggup keluar dari lingkaran kasih sayang Tuhan. Setiap insan anak Adam!


Tentang kerinduan yang saya katakan tidak jujur, atau terkadang tidak jujur, hanyalah akibat dari pertemuan yang selalu menyisakan sesak.

Percayalah, untuk setiap hal yang menyangkut tentangmu, saya selalu punya stok bahagia. Untuk setiap kerinduan, saya selalu benar-benar jujur menyatakannya.

Termasuk malam ini, dinda!

Gowa, 12 Juli 2017

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Astaman Putra’s story.