MADAYA

“ Selamat menikmati senjaku”

Tiba-tiba aku kehilangan cerita yang harus kutulis ,

terlalu terbata-bata untuk melanjutkan.

Dada ini terlalu nyeri,perih .

Matahariku hilang dibahumu, kini semuanya padam.

Berteriak keras –keras ;

meniti pelan-pelan

Aku mengetuk perlahan lalu menunggu

Selanjutnya, aku mengetuk perlahan lalu menunggu

Tubuh ku gemetar, mataku memerah

Dalam sendu ku memungut

Memungut puing-puing andai, sendirian

Sekarang aku tidak percaya kata andai

Lalu rintik itu menyentuh keningku

Aku ingin menghindar sekejab saja

Dalam bangku tua itu

Hingga ku tahu,

Semuanya telalu tinggi untuk kulampaui

Terlalu rapat untuk disinggahi

Cara adalah hal tentang menjaga rahasia,seperti kata kunci.

Aku kembali

Pada tempatku yang paling tinggi di belakang sana

Menikmati kesanggupan yang kumiliki

Tubuhku gemetar,

Lebih hebat lagi.

Ingin berkata, namun hanya memiliki rasa

Lalu bisa apa?

Lalu kau meminjam mata dan hati ini

Berdarah-darah,

Aku pulang tanpa raga

Untuk suatu rasa

Namun,

Sebercanda mengendap diam-diam

Sesederhana kata tidak

Adalah senja yang kau buat untukku

Setelah buta lalu kini aku mati

Tertulis untuk kalian, garis tangan ku yang membentang dalam ambang dan cabang. Terimakasih telah mengajarkan arti kematian.