Apresiasi bukan hanya sekedar memuji.

Pengasuhan anak adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Meskipun kini sudah banyak akses menuju berbagai pelatihan atau artikel-artikel mengenai pola pengasuhan yang baik dan benar, tapi tetap saja, pada praktiknya parenting adalah sesuatu yang tricky. Misalnya saja ketika kita berbicara tentang pentingnya pemberian apresiasi pada anak. Banyak artikel yang menyebutkan bahwa memberikan apresiasi pada anak akan memberikan motivasi bagi dia untuk terus belajar, akan mampu juga untuk meningkatkan rasa percaya diri dan juga sense of self pada anak. Salah satu artikel yang diunggah oleh Australian Parenting Website (raisingchildren.net.au), menyebutkan : “No matter how old your children are, your praise and encouragement will help them to feel good about themselves. This boosts their self-esteem and confidence“.

Sebuah penelitian oleh Gunderson et al (2013) mendukung pernyataan ini. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pemberian pujian oleh orangtua pada anaknya ketika usia 1–3 tahun dengan tingkat motivasi anak ketika usianya menginjak usia 7–8 tahun, Hal ini menunjukkan bahwa memberikan pujian dan apresiasi ketika anak berada pada usia dini memang mampu untuk memberikan dampak positif pada perkembangannya. Karena pernyataan banyak ahli pengasuhan dan psikolog yang berbicara mengenai pentingnya pemberian apresiasi dan divalidasi oleh penemuan-penemuan pada penelitian ilmiah, jadilah kini banyak orang tua yang menerapkan hal ini.

Secara teoritis, pemberian apresiasi pada anak tersebut berkaitan dengan teori behaviorisme yaitu social learning. dan operant conditioning. Pada prinsipnya, dengan memberikan apresiasi-apapun bentuknya, apakah itu berupa hadiah, pelukan, senyuman, atau pujian, anak akan cenderung mengulangi perbuatan yang diberi penguatan tersebut semata-mata karena perbuatan tersebut memberinya konsekuensi yang menyenangkan. Misalnya, ketika anak mau untuk membereskan mainannya sendiri lalu orangtua memberikan apresiasi berupa pujian “Wah anak mama rajin sekali ya, membereskan mainan sendiri!”, Anak akan merasa bahwa perbuatannya dihargai dan itu memberinya motivasi untuk mempertahankan tindakan baiknya tersebut.

Sebagai bentuk dari awareness orangtua terhadap petingnya pemberian sebuah apresiasi, kini nampaknya para orangtua lebih terbuka dalam mengungkapkan apresiasi pada anaknya. Namun yang menjadi permasalahan adalah apakah apresiasi tersebut sudah diberikan dengan kadar yang pas? Karena tidak jarang ditemui orangtua yang terlalu berlebihan dalam memberikan apresiasi dan tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan bisa menyebabkan dampak negatif untuk perkembangan anak-anak di masa depan. Ini lah kenapa parenting adalah sesuatu yang tricky, hanya karena memberikan apresiasi adalah sesuatu yang baik bukan berarti jika kuantitas dari apresiasi itu ditingkatkan maka manfaat yang akan di dapat akan menjadi meningkat pula.

Bayangkan misalnya anak sedang menggambar sesuatu dan sedikit-sedikit orangtuanya meberikan pujian seperti “wah hebat ya anak mama!” efek positif dari pemberian pujian itu lama-kelamaan akan menghilang karena anak mengalami kebingungan tentang kehebatan apa yang sebenarnya dia lakukan. Lama-kelamaan anak juga tidak akan lagi merasa termotivasi oleh apresiasi itu karena jika terlalu sering diberikan, pujian tersebut jadi tidak terasa spresial lagi.

Lebih jauh lagi, menurut penelitian oleh Otway & Vignoles (2006), overvaluating atau pemberian apresiasi berlebihan yang diberikan oleh orangtua pada anak akan menjadi faktor yang turut mengembangkan sifat narsistik pada anak. Anak yang memiliki sifat narsistik akan merasa bahwa dia superior dibandingkan dengan yang lainnya, dia juga memiliki kecenderungan untuk selalu menginginkan validasi eksternal dari orang lain. Anak yang narsistik juga rentan untuk melakukan tindakan yang agresif ketika mereka dalam keadaan ditolak atau dalam keadaan gagal. Dalam jurnalnya, Brummelman et al (2015) mengungkapkan bahwa konsep mengenai orangtua yang melakukan overvaluation ini pertama kali diungkapkan oleh Freud, meskipun penelitian tentang hal ini masih belum banyak namun secara umum, setiap orang memang memiliki tendensi untuk mempercayai semacam ilusi positif terhadap significant others.Sehingga tidak heran jika semua orangtua pasti menganggap buah hatinya lah yang terbaik dibandingkan dengan anak-anak yang lain.

Berbicara tentang sifat narsistik pada anak, dalam jurnalnya yang lain, Brummelman et al (2015) melakukan penelitian yang cukup menarik karena mempertanyakan apakah narsisme pada anak muncul karena perspektif social learning theory ataukah narsisme muncul karena perspektif psychoanalytic theory? Perspektif social learning theory beranggapan bahwa narsisme dihasilkan dari orangtua yang melakukan overvaluating. Ketika orangtua melakukan overvaluating, anak akan melakukan internalisasi kepercayaan dari orangtuanya bahwa dirinya lebih special dibandingkan dengan anak lain. Sebaliknya, terdapat pula perspektif psychoanalytic theory, yang beranggapan bahwa narsisme dihasilkan dari kurangnya kehangatan yang diberikan oleh orangtua. Pandangan ini beranggapan bahwa ketiadaan afeksi, apresiasi dan perasaan positif dari orangtua terhadap anak yang justru akan menyebabkan anak mengembangkan sifat narsis di dalam dirinya. Singkatnya, dengan sifat narsis tersebut mereka mencoba mendapatkan pengakuan yang tidak mereka dapat dari orangtuanya. Setelah dilakukan penelitian longitudinal, hasilnya menunjukkan bahwa perspektif social learning theory yaitu ketika orangtua melakukan overvaluating memang dapat memprediksi sifat narsis yang dimiliki anak ketika usianya mencapai usia 7–11 tahun. Sedangkan perspektif psychoanalytic theory yaitu ketika orangtua tidak cukup memebrikan afeksi dan kehangatan pada anak tidak dapat memprediksi sifat narsisme pada anak.

Pada akhirnya pemberian apresiasi dan pujian pada anak adalah sesuatu yang memang penting dilakukan karena mampu untuk meningkatkan kepercayadirian dan juga mampu meningkatkan motivasi anak untuk terus belajar. Namun pemberian apresiasi ini tentu harus diberikan dengan cara-cara yang efektif. Pemberian apresiasi yang efektif contohnya bisa dilakukan dengan menghindari pujian yang menekankan pada kata sifat atribut anak seperti, “wah anak mama pintar sekali ya!” atau “Anak mama cantik!”. Pemberian pujian lebih baik berfokus pada mengapresiasi usaha dan proses yang anak lakukan ketika dia mendapatkan suatu pencapaian. Misalnya ketika sedang bermain petak umpet dan anak berhasil menemukan orang yang sedang bersembunyi, apresiasi lah usahanya dalam memikirkan kemungkinan-kemungkinan tempat bersembunyi yang tepat. Penting juga untuk menghindari membandingkan anak dengan anak lainnya ketika memberikan pujian, bandingkanlah pencapaian anak dengan pencapaiannya yang terdahulu sehingga dia mendapatkan kesadaran bahwa dengan terus belajar dan berusaha dia akan terus membuat kemajuan dan hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Selanjutnya yang bisa dilakukan orangtua juga adalah memberi apresiasi secara spesifik sehingga anak tidak merasa bingung terhadap pencapaian apa yang telah dilakukannya. Contoh pemberian apresiasi yang spesifik misalnya “kamu membereskan dan menyimpan kembali mainan dengan rapi sekali ya!”

Selanjutnya, sebuah artikel dari website parenting resmi Australia menyebutkan bahwa poin yang paling penting dari pemberian apresiasi oleh orangtua adalah juga tentang adanya ketulusan dan mindfulness ketika apresisasi itu diberikan. Hal ini penting karena ketika pujian itu diberikan dengan tidak sungguh-sungguh anak mampu menyadari bahwa apresiasi tersebut tidak tulus dan hal ini akan mengurangi kepercayaan anak pada orangtuanya. Adanya mindfulness ketika memberikan apresiasi juga akan membantu anak dalam menyadari kekurangan dan kelebihannya sendiri. Karena pemberian apresiasi tentunya tidak hanya dilakukan ketika mendapatkan suatu pencapaian saja, ketika misalnya anak melakukan suatu kegagalan pun, apresisasi tetap bisa diberikan dengan memuji dan menghargai usaha mereka sambil memberikan dorongan pada anak untuk mencoba lagi dan belajar dari kesalahan sebelumnya.

Ketika apresiasi diberikan dengan tepat, harapan orangtua untuk membentuk anak yang memiliki percaya diri dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan akan tercapai.


Referensi

Brummelman, Eddie. Et al. (2015). My child Is God’s Gift to Humanity: Development and Validation of the Parental Overvaluation Scale (POS). Journal of Personality and Social Psychology. VOl 108, №4 (665–679)

Brummelman, Eddie. Et al. (2015) Origins of Narcissism in Children. Research Institute of Child Development and Education

Brummelman, Eddie. Et al. (2016). Separating Narcissism From Self-Esteem. Current Directions in Psychological Science. Vol. 25 (8–13)

Gunderson, E, A. et al. (2013). Parent Praise to 1- to 3-Year-olds Predicts Children’s Motivational Frameworks 5 Years Later. Child Development Journal, Volume 84 (1526–1541)

Otway, L. J., & Vignoles, V. L. (2006). Narcissism and childhood recollections: A quantitative test of psychoanalytic predictions. Personality and Social Psychology Bulletin, 32, 104–116.

Mental health professionals and education and childcare staff at Australia. Encouraging and praising children. Diakses pada tanggal 20 Mei 2018. ( https://www.kidsmatter.edu.au/mental-health-matters/social-and-emotional-learning/motivation-and-praise-encourage )

Raising Children Network Australia. Praise, encouragement and rewards. Diakses pada tanggal 20 Mei 2018. (http://raisingchildren.net.au/articles/praise_and_encouragement.html)