Memoar Sebuah Perjalanan

Putri Nanda
Sep 3, 2018 · 4 min read

Apa yang ada di dalam pikiranmu tentang seorang perempuan yang melakukan sebuah perjalanan sendirian?

Bagi sebagian orang mungkin bepergian sendiri adalah hal yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang perlu dibanggakan dari menyusuri jalanan kota orang atau mempelajari budaya lokal sendirian. Malah mungkin sebagian berpikir apa serunya jalan sendiri? Sepi, nggak ada temen ngobrol, nggak asik.

Tapi perjalanan ini kulakukan bukan sekedar untuk mencari seru, bukan semata-mata untuk tahu tempat baru.

Perjalanan ini kulakukan menyusun kembali bagian-bagian yang hilang dari dalam diri.

Iya. Ini adalah perjalanan terapi patah hati.

Klise memang, ketika masalah hati-hatian yang “sepele” ini sudah mulai mengendalikan pikiran dan emosi. Lalu terbersitlah keinginan untuk mengambil alih kemudi.

Tidak. Jangan sampai logikaku kalah. Ia harus bisa berjalan bersisian dengan perasaan!

Lalu, kemana aku harus memulai?

Jawabannya adalah Jogja. Dengan segala eksotisme budaya dan keromantisan alamnya.

Sejak awal perjalanan saja sudah banyak kalimat-kalimat ajaib yang kelihatannya biasa, tapi jika dipikirkan lagi maknanya boleh juga.

Misalnya:

Nggak bisa dipungkiri, Neng, jaman sekarang ini, perempuan itu dilihat dari masa lalunya, sedangkan lakilaki dilihat dari masa depannya.
~Ibu2 random di Stasiun Senen

Ibu (yang aku lupa tanya siapa namanya) itu adalah seorang ibu biasa yang sedang akan pergi ke Solo untuk menjenguk putrinya yang menuntut ilmu di pesantren.

“Anak ibu besok ulang tahun, neng. Dia nggak tau kalo ibu mau kesana. Biarin aja, Ibu pengen kasih surprise”

Entah kenapa malah aku yang terharu. Iya, ternyata seorang ibu bisa seromantis itu. :’)

Lalu, ketika pertama menjejakkan kaki di Kota Budaya. Masih terlalu pagi untuk menyusuri bangunan keraton yang sakral dan sarat makna. Maka aku memutuskan untuk “tour” singkat naik becak ke tempat pembuatan Bakpia dan Batik.

Di tempat pembuatan Batik, seorang Bapak (Duh, lagi-lagi aku lupa tanya namanya!) yang usianya sudah cukup tua bilang:

“Membatik, apalagi batik tulis, itu harus telaten, harus sabar, Nak. Prosesnya harus dilakukan dengan benar dari mulai bikin pola, nge-malam, mewarnai, ngelorot, gitu terus selama sebulan sampai kainnya jadi bagus. Sama seperti hidup, ndak baik kalau dijalani dengan tergesa-gesa, dengan instan, harus sabar, prosesnya harus dijalani dengan benar supaya kita jadi manusia yang juga bagus, sebagus batik Bapak ini.”

Lihatkan? Baru beberapa jam saja di kota ini, aku sudah yakin pengalaman pertamaku pergi sendirian tidak akan mengecewakan.

Sebenarnya, ini bukan pertama kali aku ke Jogja. 2014 lalu aku berkesempatan mengunjungi kota ini dalam rangka dinas kantor. Tentu beda, langkahku saat itu tidak sebebas dan seterserah yang sekarang.

Perjalanan lalu kulanjutkan ke Taman Sari. Tempat plesiran raja bersama para selir zaman dahulu. Dan di sini aku baru tahu dari Pak Bambang -pemandu lokal yang membantuku keliling komplek Taman Sari- bahwa dulu, Raja sering mengadakan sayembara di sini. Beliau akan melemparkan bunga dari atas menara(?) ke arah kolam para selir.

FYI aja, selir raja pada saat itu bisa puluhan! :))

Nah, siapapun selir yang berhasil mendapatkan bunga itu, maka dia berhak mandi berdua bersama raja di kolam pribadinya.

Kalau zaman sekarang, mungkin kita akan bilang Sang Raja beruntung sekali. Tapi pada zaman itu, mungkin saja justru selirnya yang merasa beruntung.

Terlepas dari cerita itu benar atau tidak. Atau meskipun ada banyak kontroversi mengenai cerita itu. Yang bisa kita ambil hikmahnya adalah setidaknya wisata lokal Indonesia ini sebenarnya sangat banyak dan menarik untuk dijelajahi.

Taman Sari ini usianya sudah lebih 350 Tahun. Dan bangunan ini dibuat tanpa semen, perekatnya terbuat dari putih telur! Wow!

Pak Bambang ini orangnya mengayomi sekali. Beliau menceritakan sejarah dari setiap jengkal bangunan dengan antusias tapi tidak menggebu-gebu.

Kalau kita jadi orang baik, insyallah rezeki, jodoh dan kehidupan kita pun baik. Tapi kalau kita sudah baik, namun kita merasa kehidupan belum sempurna, perlu instropeksi diri lagi, kita berbuat baik agar menjadi manusia atau mengharap agar orang lain berbuat hal yang sama ke kita? ~Pak Bambang, Tour Guide Taman Sari

Ketika masuk ke komplek rumah warga di Taman Sari, aku takjub melihat betapa orang Jogja ini kreatif sekali. Apa saja bisa jadi karya seni menarik di tangan mereka. Di setiap rumah ada saja lukisan, patung, kerajinan tangan, dan bahkan ada pakaian yang terbuat dari serat bambu.

Kata Pak Bambang, orang-orang yang menyukai seni itu gampang dibikin bahagia. Kenapa? Karena dari sesuatu yang sederhana saja dia bisa melihat ada keindahan disitu.

Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang “keren” tentang filosofi bangunan Taman Sari ini. Seperti misalnya pintu yang selalu dibuat rendah agar setiap orang yang lewat menunduk, menggambarkan sopan santun dan rendah hati.

Tapi tulisan sepanjang apapun tidak mampu menggambarkan kekagumanku pada sejarah dan filosofi bangunan ini.

Perjalananku juga belum selesai. Baru dimulai bahkan. Mungkin nanti, setelah mood-ku membaik dan waktunya cukup, akan kutulis kembali hal ajaib apa saja yang kualami di perjalanan randomku selama 3 hari di Jogja. Mungkin.

See you in next story.. ;)

    Putri Nanda

    Written by

    I write to capture another me

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade