Hai void,

berkali-kali aku malu karena pikiran burukku tak juga berlalu. tapi aku rindu berjalan pada malam-malam yang kelabu. Mengasingkan diri dalam ribuan wajah yang terlihat bahagia, padahal bisa saja itu semua palsu.

Sini, temani aku melangkah. Lalu kita diam sebentar, aku mau duduk di tepi jalan. Tenang saja, ini tak akan lama karena besok aku ada ujian. Eh, kamu sudah dengar kan ternyata tiap detik dari dunia ini memang ujian, yang katanya diciptakan tuhan untuk orang-orang beriman, yang akan datang dari depan dan belakang, dari kiri pun kanan. Gawat ya, aku kan gampang menyerah.

Tapi jangan pergi, void. Aku mau menghadapi semua ujian ini bersama kamu. Eh tapi kamu besok pulang ke Surabaya ya, apa boleh buat. Daritadi aku bicara apa sih sepertinya malam sudah makin kelam jadi otakku makin bimbang. Sampai aku bingung membedakan apakah vendor baru ini mesti divalidasi atau evaluasi saja dengan retrospeksi. Duh, Aku mau kembali berpijak, jangan lupa doakan ujianku kelak. Aku mau menyusul kamu kesana suatu saat. Yeay, ayo cepat.