Berbagi Rejeki

Selasa, 11 Oktober 2016. Hari ini tiba di Kota Malang. Jadwal kedatangan kereta terlambat sekitar 1 jam.

Setelah tiba, kami memutuskan untuk sarapan dulu di sekitar stasiun. Tapi sebelum itu kami ke tempat parkir, karena ternyata kunci motor salah satu rekanku tertinggal saat kamis lalu berangkat ke Jakarta. Dia lupa menarik kembali kuncinya karena saat itu dia datang juga hampir terlambat, sehingga mungkin ada “panic attack”.

Untung saja kunci itu masih tertancap dengan aman.

Saya juga heran mengapa fasilitas penitipan sepeda motor di Stasiun Kota Baru Malang tidak ada yang “layak”. Berbeda dengan penitipan sepeda motor di Terminal Arjosari Malang, dimana disana tempatnya tertutup, sehingga motor tidak kepanasan atau kehujanan. Ongkos hariannya pun lebih murah.

Selesai sarapan, kami bersiap pulang ke rumah masing-masing. 2 rekanku ingin menggunakan jasa Go-Ride. Karena mereka belum menginstall aplikasinya, maka aku yang memesankan.

Setelah semua rekanku dijemput dan diantar ke rumahnya masing-masing, tinggal aku yang belum tahu akan menggunakan jasa apa. Kalau dilihat dari aplikasi Go-Jek sih, ongkos dari stasiun ke tempatku adalah Rp. 13.000.

Waktu masih menunjukkan pukul 10. Dan aku juga belum punya agenda sebelum nanti malam. Akhirnya aku memutuskan untuk naik angkot kemudian dilanjut ojek. Ya menurutku itung-itung bagi rejeki. Lagian aku sudah lama tidak naik angkot Malang, sekaligus tes berapa lama waktu yang dibutuhkan dari stasiun ke tempatku jika menggunakan kedua transportasi ini.

Hasilnya, total waktu yang dibutuhkan adalah sekitar 45 menit. Ongkos angkot sebesar Rp. 4.000, sedang ojeknya sebesar Rp. 7.000. Jadi sebenernya ongkosnya lebih murah, namun mungkin lebih lama waktu tempuhnya. Tapi diluar itu, ada perasaan tersendiri ketika aku melakukannya dengan niatan “membagi rejeki”, walaupun jumlahnya sedikit, daripada rejeki itu jatuhnya di satu orang saja.

Ps: Bukan berarti aku menganggap kalau pengemudi Go-Ride gak butuh rejeki lho ya. Cuman karena sebelumnya Go-Ride sudah kebagian rejeki dari rekan-rekanku, maka mungkin jalur ini adalah jalur untukku yang lebih baik pada saat itu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.