Kameraku Rusak!

Jumat, 14 Oktober 2016. Hari ini aku mengambil kameraku dari tempat servis kamera, karena ternyata spare partnya tidak ada.

Itu kameraku. Sony RX100 generasi pertama. Aku membelinya bekas dari rekanku. Kondisi saat aku membeli kamera tersebut, flashnya tidak bisa nutup, mungkin karena dulu pernah jatuh. Tapi bukan masalah bagiku, karena aku jarang menggunakan flash. Jadi selama ini, flash itu aku selotip supaya nutup dan bisa dimasukkan ke kantong dengan aman.

Kerewelan kameraku dimulai sejak tanggal 25 September lalu. Kala itu aku menghidupkan kamera, namun lensa yang keluar hanya setengah, lalu ada peringatan di layar untuk mematikan dan menghidupkan lagi. Aku laksanakan petunjuk tersebut, dan kamera berjalan normal kembali.

Hingga pada hari kamis (29 September), aku membawa kamera tersebut ke acara meetup. Saat hendak mengambil foto, kameraku berperilaku sama seperti hari minggu lalu. Aku matikan dan hidupkan lagi, tetapi sama, lensa hanya keluar setengah. Aku coba berulang kali, hasilnya tetap sama. Akhirnya aku lepas baterainya biar kamera bisa mati. Dengan kondisi lensanya masih keluar setengah.

Esoknya tanpa pikir panjang, aku bawa ke tempat servis resmi Sony di Malang, di daerah Jalan Sarangan. Aku jelaskan permasalahannya, kemudian mereka mengambil kameraku dan memintaku untuk menunggu konfirmasi kerusakan/perbaikan/penggantian spare part.

Iseng-iseng aku coba googling permasalahannya, ternyata banyak juga kasus kamera seperti ini, dan penyelesaiannya pun sangat sederhana. Ada yang tinggal ditekan, ada yag lensanya harus dibersihkan. Ini contohnya:

Walah, tahu gini kan aku bisa coba sendiri dulu, ngapain kemarin gak googling dulu. Akhirnya aku berniat untuk mengambil kameraku di hari senin untuk aku coba dulu, baru kalau tetap saja, aku bawa lagi ke tempat servis.

Hari senin, aku mendapatkan sms dari tempat servis, disitu dijelaskan bahwa kerusakan terdapat di kabel fleksibel lensanya, kemudian mereka juga menawari perbaikan flash. Di sms itu juga dijelaskan biayanya, yaitu Rp. 475.000 untuk kabel fleksibel, Rp. 500.000 untuk flash, sedang ongkos teknisi sebesar Rp. 300.000. Wih, mahal juga tenyata. Mereka meminta konfirmasi apakah aku menyetujui perbaikan itu atau tidak. Untuk flash sih aku gak peduli, selama masih berfungsi dengan baik, dan masih dapat ditangani oleh selotip. Tapi tetap saja, untuk perbaikan sebesar Rp. 775.000, aku belum siap. Apalagi rencanaku hari itu adalah mencoba trik perbaikan yang ada di youtube.

Tanpa membalas sms tersebut, selang 3 jam kemudian aku ke tempat servis tersebut, bermaksud untuk mengambil kembali kameraku dan hanya membayar ongkos pengecekan.

Namun ketika aku sampai disana dan meminta kameraku, mereka belum bisa menyerahkannya, dengan alasan masih terbongkar, belum dirakit kembali. Mereka memintaku untuk datang lagi sore harinya. Aku pun mengiyakan. Sore harinya ternyata hujan turun cukup lebat, sehingga aku membatalkan kunjunganku dan menggantinya dengan besok pagi.

Esoknya aku kembali ke tempat servis, mereka menyerahkan kameraku, dengan kondisi lensa sudah menutup, tidak seperti saat aku menyerahkannya dengan kondisi lensa keluar setengah. Aku coba hidupkan, tetapi lensa tidak mau keluar, pikirku mungkin baterainya habis, sehingga dayanya kurang untuk menggerakkan motor lensanya. Karena aku juga sempet baca tentang kemungkinan itu di internet. Akhirnya kamera itu aku bawa pulang dan aku isi ulang daya baterainya.

Setelah daya baterai penuh, aku coba hidupkan lagi, namun lensa tetap tidak mau keluar, hanya bunyi ‘krek’ sekali, kemudian muncul pesan peringatan yang sama.

Esoknya aku mendatangi lagi tempat servis itu, aku ceritakan kok tidak ada respon motornya, sebelumnya kan bisa muncul walaupun cuma setengah. Aku lupa alasan mereka, tapi intinya, ya memang begitu kondisinya kalau lensanya sudah dikembalikan menutup. Aku meminta mereka untuk mengembalikan kondisi seperti yang awal, mereka bilang tidak bisa.

Pulang dengan sedikit kesal, lantas aku nekat membongkar kameraku. Supaya aku tahu yang mana kabel fleksibel, seperti apa kondisi dalamnya. Ini foto setelah aku lepas layarnya:

Warna tembaga itu adalah kabel fleksibelnya, yang ditengah itu adalah lensanya, sedang di sebelah kiri itu adalah motornya.

Aku coba cek pemasangan kabel ke slot-slotnya, juga sudah benar, namun tetap saja. Aku cek apakah ada yang menjual kabel fleksibel untuk kameraku. Harganya sekitar Rp. 260.000. Pikirku ini adalah solusi terbaik.

Namun, aku juga masih ragu, apakah motornya ini baik-baik saja atau bermasalah juga? karena sebelumnya berfungsi, tapi sekarang nggak. Jadi rugi nanti kalau beli kabelnya aja. Kalau memang motornya rusak juga, berarti mending beli satu paket lensanya.

Masalahnya aku cari-cari belum ketemu penjual di Indonesia yang menjual paket lensa RX100. Ada sih, cuman di ebay, penjualnya di luar negeri.

Hari kamis (6 Oktober), aku memutuskan untuk membawa kameraku ke tempat servis lainnya. Aku kembali ceritakan masalahnya plus kejadian di tempat servis sebelumnya. Baru pada hari rabu kemarin, aku dikabari tempat servis itu kalau mereka tidak bisa memperbaiki, karena spare partnya tidak ada. Dan mereka mempersilahkan aku untuk mengambil kamera tanpa dikenakan biaya.

Baru pada hari ini, aku bisa keluar untuk mengambil kameraku, kemudian kami ngobrol bentar tentang spare part mana yang perlu diganti, kirain kabel fleksibelnya, ternyata paket komplit lensanya. Mereka tidak berani bila mengganti potongan-potongan paketnya seperti hanya kabel fleksibel, atau motornya saja, karena terlalu beresiko.

Di tempat servis itu, aku coba hidupkan, cuman tidak mau hidup. Ah, mungkin baterainya habis. Setibanya di rumah, aku isi ulang daya baterainya, kemudian aku coba hidupkan lagi. Masih tidak bisa, hanya kedipan lampu indikator power sekali, kemudian mati lagi. Haduh, ya terpaksa deh, besok harus datang lagi buat minta penjelasan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated I Putu Sudarma’s story.