Toilet Termahal Seumur Hidupku

Minggu, 9 Oktober 2016. Hari penjurian Hackathon. Selama 24 jam terakhir, timku berhasil menyelesaikan 11 dari 18 rencana tugas yang telah kami susun. Itu artinya tingkat keberhasilan kami dalam tantangan kali ini adalah sebesar 61℅. Sebanyak 65 tim telah berjuang dalam event ini.

Walaupun timku belum berhasil, namun aku sudah puas dengan hasil yang telah kami capai. Banyak ilmu yang didapat, pengalaman baru, juga teman baru. Selamat kepada para peserta yang telah masuk 8 besar, kerja yang bagus. Selamat juga kepada ketiga pemenang yang berhasil menarik perhatian para juri, kalian hebat.

Rangkaian acara hackathon berakhir sekitar pukul 14.00. Kemudian disambut hujan deras, namun kami harus segera ke stasiun Pasar Senen, karena kereta rekan timku berangkat pukul 18.30, sedang aku harus segera berkumpul dengan rombongan Parkour Malang di Ancol. Jika kami menunggu keberangkatan bis yang disediakan oleh TNI AD, kemungkinan besar kami akan terlambat.

Akhirnya diputuskan untuk menggunakan jasa Commuter Line dari stasiun Bogor langsung ke stasiun Senen, tapi nantinya aku akan turun duluan karena ganti tujuan ke Ancol.

Sesampainya di stasiun Bogor, ternyata tidak seperti ekspektasi. Rame banget, mau beli tiket, antrenya panjang banget.

Uniknya Disini

Calon penumpang harus membeli tiket melalui “Commuter Line Ticket Vending Machine” atau bahasa manusianya “Mesin Beli Tiket Mandiri”. Mesin itu berfungsi menukarkan uang yang telah kita masukkan ke mesin tersebut dengan tiket yang berupa kartu elektronik.

Masalahnya

Setelah mencari informasi, saya mengetahui bahwa mesin tersebut diluncurkan pertama kali pada Bulan September 2015, namun mulai beroperasi untuk publik pada Bulan Desember 2015. Kota Bogor bukan menjadi salah satu kota yang kebagian peluncuran pertama. Artinya umur “Vending Machine” di Bogor lebih muda.

Menurut pengamatanku, cukup banyak orang yang masih bingung atau kesulitan untuk mengoperasikan mesin ini. Tapi tenang saja, ada petugas yang siap membantu calon penumpang.

Tapi..

Masih menurut pengamatanku, cukup disayangkan melihat fenomena ini, mesin itu sudah ada cukup lama, namun calon penumpang masih banyak yang kesulitan. Apakah setiap harinya mayoritas pengguna KRL Bogor adalah pendatang baru?

Jadi dapat disimpulkan bahwa adanya mesin ini bukannya menjadi solusi, bahkan menurutku menambah masalah. Calon penumpang sudah bayar, namun masih harus direpotkan dengan mengoperasikan mesin itu. Kalau orang yang belum biasa atau bahkan pertama kali, harus “belajar” bentar, agak bingung, akhirnya minta bantuan petugas, belum lagi bagi calon penumpang yang tidak mempunyai uang pecahan yang dibutuhkan mesin itu, mereka harus menukarkannya ke petugas. Ini pastinya memakan waktu, buntutnya antrean makin panjang.

Akhirnya pukul 16.15, KRL ke Pasar Senen berangkat. Saya turun di stasiun Kampung Bandan, namun karena ternyata KRL ke stasiun Ancol sudah selesai beroperasi, maka oleh petugas stasiun, saya dianjurkan untuk menggunakan jasa angkutan kota.

Jalan bentar menelusuri pemukiman warga, akhirnya sampai di jalan besar. Setelah sampai di Ancol, saya menghubungi rekan dari Parkour Malang bermaksud minta tolong untuk mengantarkan id card supaya saya dapat free pass, tapi tenyata saya sudah tidak kebagian free pass, sehingga saya harus membeli tiket reguler.

Namun ternyata saya salah gerbang. Saya baru tahu kalau kawasan wisata Ancol punya 2 gerbang, barat dan timur. Rekan saya ada di gerbang timur.

Akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki saya dari gerbang barat ke gerbang timur. Ternyata jaraknya cukup jauh. Di perjalanan, saya ditegur oleh seorang pengendara motor. Seorang pria dengan motor bebek berusia 35–40 tahun an, sepertinya ia baru pulang kerja.

Dia bertanya mau kemana? Saya jawab mau ke gerbang timur Ancol. Dia langsung menawarkan tumpangan, saya diam sejenak, kemudian dia bilang, “gratis mas, ayo saya antar”. Saya tidak tahu alasan dia menawarkan bantuan. Yang pertama kali terlintas di pikiranku adalah kemungkinan jalan yang saya lalui cukup rawan kriminal, dia tidak ingin ada korban, jadi dia punya solusi dengan mengantarkan saya.

Untuk bapak yang telah mengantarkan saya, terima kasih banyak ya, sudah membantu seorang yang asing. Suatu tindakan yang patut kita tiru.

Sesampainya di gerbang timur, saya menghubungi rekan saya lagi, tenyata dia sudah kembali ke tempat acara berlangsung karena kendaraan yang dia pakai dibutuhkan untuk sesuatu yang lebih prioritas. Ternyata lokasi acaranya masih jauh, sekitar 2 Kilometer dari gerbang. Akhirnya saya menunggu saja barangkali sudah ada kendaraan yang menjemput saya.

Namun..

Saat tiba di gerbang barat, saya sebenarnya sudah kebelet pipis, tapi saya tahan hingga sampai di lokasi acara. Di gerbang timur saya sudah menunggu mungkin sekitar 20 menit. Kemudian saya memutuskan untuk membeli tiket dan berencana berjalan menuju lokasi acara. Selesai membeli tiket, saya langsung bertanya toilet terdekat ke petugas loket. Setelah lega pipis, saya memulai perjalanan ke lokasi.

Baru jalan kurang dari 50 meter, saya ditelpon oleh rekan. Dia bilang bahwa acara sudah selesai dan rombongan akan dipulangkan ke penginapan yang telah disediakan oleh panitia. Jadi saya dianjurkan untuk langsung aja ke penginapan mereka.

Walah..!!!

Baru aja masuk, langsung keluar! Hahahahaha.

Ya udah lah, badan udah capek, pengennya dapet tempat istirahat. Jadi saya keluar dari Ancol dan berjalan ke jalan raya.

Sesampainya disana, saya berteduh di pos satpam, bermaksud memesan layanan Go-Ride. Sekedar info, saya baru pertama kali menggunakan jasa Go-Ride.

Saya sudah tentukan tempat penjemputan dan tujuan. Gak tahu bagaimana, saya mungkin mencet tombol pesan dua kali, ada 2 orang yang telpon, satunya missed call, satunya saya angkat. Ternyata kedua orang itu adalah driver Go-Ride yang kebetulan sedang mangkal di sebarang jalan pos satpam.

Setelah dikonfirmasi bahwa memang saya yang pesan, mereka bertanya gimana ceritanya kok penumpang yang sama pesan 2 driver? Saya bilang gak tahu, memabg sih. tadi saya pencet tombol dua kali, karena yang pertama seingat saya gak ada aksi atau pesan, makanya saya pencet lagi, kirain koneksi data saya bermasalah, karena sebelumnya ketika saya ketik tujuannya, loadingnya lama.

Ternyata kedua driver tersebut masuk ke daftar antrian pemesanan saya. Saya minta maaf, dan driver tersebut bilang bahwa masalahnya saya harus membatalkan salah satu pemesanan itu yang dampaknya bagi driver, nilai performa mereka turun yang berimbas pada jumlah bonus yang bisa mereka terima.

Singkat cerita, salah satu driver tersebut mengajukan diri untuk dibatalkan pemesanannya. Saya bilang minta maaf lagi, karena tidak tahu kalau jadinya seperti ini.

Setelah isu tersebut selesai, saya langsung diantar ke penginapan dan “numpang” tidur di fasilitas kamar yang diberikan oleh panitia ke salah satu rekan saya karena dia kebetulan menjadi salah satu pembicara workshop di rangkaian acara tersebut.

Ya, hari yang cukup seru, baik di Bogor maupun di Jakarta. Semoga masih banyak cerita-cerita lain yang menarik untuk dijalani di hari-hari berikutnya.