Wanita Itu

Entah, definisi apa lagi yang harus dikeluarkan oleh seorang anak laki — laki seperti saya.

Untuk ibu. “Lembut”, “Sabar”, “Kasih”, “Cinta”, Sayang”, “Peduli”, “Tegar”.
Sepertinya kata — kata tersebut masih kurang, Banyaknya kata mungkin takkan bisa terhitung.

Hari ini, saya lihat banyak sekali ketenangan darimu.
Dengan diawali, Yes Mom… Mandat pagi ini telah saya selesaikan, mengantarkan mbak untuk check-up ke rumah sakit.
Harapan dari adikmu ini ya seperti biasa, 
Sembuh mbak, sembuh mbak, 
sembuh mbak… pulang bawa obat dari dokter…
Cukup sederhana bukan…

Tetapi rencana lain dari sang maha sempurna, pengatur segala kebijakan. Hasil periksa mengharuskan mbak untuk opname. Ntah sudah yang keberapa kalinya mbak opname dan dirawat di rumah sakit. 
Sontak, dapat kabar tersebut saya langsung memberitahu ibu saya, yang ketika itu sedang pergi melayat di tempat saudara. Saya usahakan untuk bicara secara perlahan, dengan hati — hati saya menata setiap kata yang saya ucapkan. Saya tidak ingin ibu saya dibuat sedih dengan berita ini.

Kebanyakan orang pasti akan terkaget, cemas, khawatir dan ingin segera mencari kejelasan.
Akan tetapi jawaban dari beliau, hampir mendekati sempurna, dengan pelan, jelas dan begitu tenangnya beliau bilang. 
“Yo, sek tenang yo le, mbak yo kon sek tenang, bariki aku tak njur muleh”
* “Ya, yang tenang ya le, mbak juga disuruh tenang, habis ini saya segera pulang”

Mendapat jawaban beliau, sayapun sontak terdiam. Tak bisa mengungkapkan kata-kata. *begitu tegarnya wanita itu

*Untuk beliau, jangan sedih nggih… sehat terus nggih…

Like what you read? Give P.W. Cahyo a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.